
Jakarta, CNBC Indonesia – Saham Moderna (MRNA) mencatatkan kenaikan tajam di pekan ini setelah perusahaan farmasi asal Negeri Paman Sam tersebut mengumumkan perkembangan terbaru dalam pengobatan kanker.
Melansir data Refinitiv, saham Moderna melesat 176,97% pada perdagangan Rabu (19/8/2026) ke posisi US$174,38 per lembar, dibandingkan penutupan sebelumnya di level US$62,96.
Meskipun sehari setelahnya, harga saham Moderna terkoreksi 23,55% menjadi US$133,32. Namun, sahamnya kembali menguat 8,86% dan ditutup di harga US$145,13 pada Jumat (21/8/2026).
Meski sempat mengalami koreksi, harga saham Moderna masih meningkat 130,5% dibandingkan posisi sebelum pengumuman.
Keberhasilan Vaksin Kanker Dorong Saham Moderna
Kenaikan saham Moderna tak lain dan tak bukan dipicu oleh keberhasilan uji klinis fase III vaksin kanker yang dikembangkan bersama Merck.
Vaksin tersebut bernama intismeran autogene atau mRNA-4157. Penggunaannya dikombinasikan dengan Keytruda, yakni obat imunoterapi milik Merck yang digunakan untuk menangani sejumlah jenis kanker.
Penelitian bernama INTerpath-001 melibatkan 1.137 pasien melanoma, salah satu jenis kanker kulit, pada stadium IIB hingga IV.
Seluruh peserta telah menjalani operasi pengangkatan tumor, tetapi masih menghadapi risiko kanker muncul kembali. Sebagian pasien memperoleh kombinasi intismeran dan Keytruda, sedangkan kelompok pembanding hanya diberikan Keytruda.
Hasilnya, pasien yang menerima kombinasi kedua terapi dapat bertahan lebih lama tanpa mengalami kekambuhan. Pengobatan tersebut juga membantu memperpanjang waktu sebelum kanker menyebar ke bagian tubuh lain.
Keberhasilan ini menjadi perkembangan penting karena terapi kanker berbasis mRNA yang dirancang sesuai dengan kondisi setiap pasien berhasil mencapai sasaran utama dalam uji klinis fase III.
Temuan tersebut memperkuat hasil penelitian sebelumnya yang melibatkan 157 pasien melanoma stadium III dan IV.
Dalam pemantauan selama lima tahun, kombinasi intismeran dan Keytruda menurunkan risiko kanker kembali muncul atau menyebabkan kematian sebesar 49% dibandingkan penggunaan Keytruda saja.
Risiko kanker menyebar ke organ lain atau menyebabkan kematian juga turun 59%.
Namun, kedua angka tersebut berasal dari penelitian fase II. Moderna dan Merck belum mengumumkan besarnya penurunan risiko dalam uji fase III terbaru.
Kedua perusahaan menyatakan tidak menemukan masalah keamanan baru. Efek samping yang paling sering muncul dalam penelitian sebelumnya antara lain kelelahan, nyeri pada lokasi suntikan, dan menggigil.
Cara Kerja Vaksin dan Potensi Tambahan Pendapatan Moderna
Berbeda dari vaksin pada umumnya, intismeran tidak diberikan kepada orang sehat untuk mencegah kanker.
Terapi ini digunakan setelah operasi untuk membantu tubuh mengenali dan menyerang sel kanker yang kemungkinan masih tersisa. Formulanya dibuat sesuai dengan karakteristik tumor setiap pasien.
Prosesnya dimulai dengan pemeriksaan jaringan tumor untuk mengetahui mutasi pada sel kanker. Moderna kemudian memilih hingga 34 penanda kanker atau neoantigen yang dapat dikenali sistem kekebalan tubuh.
Informasi mengenai penanda tersebut dimasukkan ke dalam molekul mRNA. Setelah disuntikkan, vaksin membantu sistem imun mengenali ciri khas sel kanker pasien.
Sementara itu, Keytruda menghambat protein PD-1 yang dapat dimanfaatkan sel kanker untuk menghindari serangan sistem kekebalan. Kombinasi keduanya membuat sistem imun lebih mudah mengenali sekaligus menyerang sel kanker.
Peluang Perbaikan Kinerja Moderna
Keberhasilan pengembangan vaksin kanker memberikan harapan baru bagi Moderna yang masih berjuang memperbaiki kinerja keuangannya setelah permintaan vaksin Covid-19 menurun.
Pada 2022, pendapatan Moderna mencapai US$19,26 miliar dengan laba bersih US$8,36 miliar. Namun, pendapatannya kemudian terus merosot hingga hanya mencapai US$1,94 miliar pada 2025.
Perusahaan juga mencatatkan kerugian dalam tiga tahun berturut-turut sejak 2023. Pada 2025, rugi bersih Moderna mencapai US$2,82 miliar.
Tekanan tersebut masih berlanjut pada 2026. Sepanjang semester pertama, Moderna membukukan pendapatan US$534 juta, tetapi kerugian bersihnya mencapai US$2,12 miliar.
Dalam kondisi tersebut, keberhasilan intismeran membuka peluang hadirnya produk baru yang dapat menambah pendapatan sekaligus mengurangi ketergantungan perusahaan terhadap vaksin Covid-19.
Jika memperoleh persetujuan regulator, terapi tersebut dapat dipasarkan untuk pasien melanoma yang telah menjalani operasi. Analis Barclays memperkirakan penjualan terapi melanoma tersebut dapat mencapai sekitar US$3 miliar pada 2035.
Proyeksi tersebut bahkan lebih besar dibandingkan seluruh pendapatan Moderna pada 2025. Namun, keuntungan dari pengembangan dan pemasaran intismeran akan dibagi bersama Merck sesuai kesepakatan kerja sama kedua perusahaan.
Potensinya juga tidak terbatas pada melanoma. Moderna dan Merck sedang menguji pendekatan serupa untuk kanker paru, kandung kemih, serta ginjal.
Apabila pengembangan untuk jenis kanker lainnya berhasil, jumlah pasien yang dapat menerima terapi tersebut akan semakin besar. Kondisi itu membuka peluang tambahan pendapatan yang lebih luas pada tahun-tahun mendatang.
Keberhasilan uji fase III turut meningkatkan keyakinan investor bahwa teknologi mRNA Moderna dapat menghasilkan bisnis baru di luar vaksin Covid-19.
Harapan terhadap peningkatan pendapatan dan perbaikan kinerja keuangan itulah yang mendorong investor memborong saham Moderna setelah hasil penelitian diumumkan.
Meski demikian, intismeran belum memperoleh persetujuan regulator dan belum tersedia secara komersial. Besarnya keuntungan yang dapat diperoleh perusahaan masih bergantung pada hasil evaluasi otoritas kesehatan, biaya produksi, harga terapi, serta penerimaan pasar.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Leave a comment