
Jakarta, CNBC Indonesia – Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dan pesisir dengan garis pantai terpanjang kedua di dunia. Ironisnya, Indonesia justru masih mengimpor santan hampir 1.000 ton.
Kelapa adalah simbol negara kepulauan dan kehidupan pesisir. Namun, Indonesia harus mendatangkan santan dari sejumlah negara untuk memenuhi kebutuhannya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan volume impor santan, baik bubuk atau cair, mencapai 912.999 kg atau 913 ton pada 2025. Angka ini melonjak hampir tiga kali lipat dibandingkan 2024 (325 ton) pada 2024.
Secara nilai, impornya juga melesat 190% menjadi US$ 19,83 juta atau sekitar Rp 352 miliar pada 2025 (US$1= Rp 17.750), dari US$6,84 juta pada 2024.
Jika dilihat lebih jauh, impor santan melonjak tajam dalam tiga tahun terakhir.
Bila pada 2022, volume impor hanya 40.000 kg atau 40 ton maka volume impor sudah melesat 2.182% pada 2025. Pada periode yang sama, nilai impornya melonjak 15.750%.
Impor Mayoritas dari Asia
Pemasok santan impor didominasi negara-negara Asia. Singapura menjadi negara asal dengan nilai impor terbesar, disusul Malaysia dan Thailand. China ada di bawah Thailand disusul kemudian dengan Rusia, Uni Emirat Arab, Vietnam, dan Inggris.
Yang menarik, nilai impor santan dari Singapura pada 2025 mencapai US$16,91 juta atau sekitar Rp 300,15 miliar. Artinya, sekitar 85% dari total nilai impor santan Indonesia. Padahal, secara luas wilayah pesisir Singapura kalah jauh dibandingkan Indonesia.
(mae/mae)
Leave a comment