Home Finance Ambisi Besar RI di Era EV
Finance

Ambisi Besar RI di Era EV

Share
Ambisi Besar RI di Era EV
Share

Jakarta, CNBC Indonesia – Pesatnya industri kendaraan listrik (EV) mengubah peta persaingan global. Perebutan kini bukan lagi sekadar pasar mobil listrik, melainkan penguasaan rantai pasok baterai, dari tambang hingga pabrik sel.

Di tengah persaingan itu, Indonesia memiliki modal besar sebagai pemilik cadangan nikel terbesar di dunia, komponen utama baterai EV berbasis nikel. Cadangan besar berpotensi mengantarkan Indonesia menjadi salah satu pusat industri baterai global.

Nikel menjadi bahan penting dalam baterai kendaraan listrik karena mampu meningkatkan kepadatan energi baterai. Semakin tinggi kandungan nikel, semakin banyak energi yang dapat disimpan baterai dalam ukuran yang sama.

Bagi produsen mobil listrik, hal ini sangat penting karena membuat kendaraan bisa menempuh jarak lebih jauh dalam sekali pengisian daya tanpa harus menggunakan baterai yang lebih besar dan berat.

Nikel merupakan salah satu bahan baku paling penting dalam baterai kendaraan listrik, terutama untuk baterai jenis NMC (Nickel Manganese Cobalt) dan NCA (Nickel Cobalt Aluminum) yang banyak digunakan oleh produsen mobil listrik global.

Menurut USGS, sumber daya nikel global mencapai lebih dari 350 juta ton, dengan mayoritas berasal dari endapan laterit (54%) dan sulfida magmatik (35%).

Bahkan, studi USGS pada 2022 memperkirakan dasar laut dunia menyimpan sekitar 4,5 miliar ton nikel, menunjukkan besarnya potensi pasokan jangka panjang.

Menurut data USGS, produksi nikel global diperkirakan naik 5% menjadi 3,9 juta ton pada 2025.

Indonesia menjadi motor utama pertumbuhan dengan kenaikan produksi sekitar 13% atau 2,6 juta ton. Jumlah ini berkontribusi lebih dari 50% pasokan global sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai produsen nikel terbesar dunia dan pemain paling diperhitungkan.

Sebaliknya, produksi Australia anjlok sekitar 54% menjadi 45.000 ton akibat rendahnya harga nikel, sementara Filipina turun 24% menjadi 270.000 ton.

Seiring meningkatnya kebutuhan kendaraan listrik dan penyimpanan energi, industri baterai global juga berkembang pesat.

Setelah mencapai 1 terawatt-hour (TWh) pada 2024, permintaan baterai isi ulang diperkirakan melonjak lebih dari empat kali lipat pada 2030 dibandingkan level 2023.

Proyeksi McKinsey & Company menunjukkan permintaan baterai lithium-ion global akan melonjak hampir tujuh kali lipat pada 2030.

Nilai bisnisnya pun diperkirakan melesat, dari US$85 miliar pada 2022 menjadi lebih dari US$400 miliar pada akhir 2030. Lonjakan terbesar diperkirakan berasal dari bisnis bahan aktif baterai (active materials) dan manufaktur sel baterai, dua mata rantai yang kini menjadi rebutan banyak negara.Top of Form

Industri ini juga diperkirakan bisa menyerap 18 juta lapangan kerja.

Industri baterai kendaraan listrik sendiri kini diramaikan persaingan dua teknologi utama, yakni Nickel Manganese Cobalt (NMC) dan Lithium Iron Phosphate (LFP). Meski sama-sama berbasis lithium-ion, keduanya memiliki komposisi kimia yang berbeda sehingga menawarkan keunggulan dan karakteristik yang berbeda pula.

Persaingan ini bukan sekadar soal teknologi, tetapi juga perebutan rantai pasok dan pengaruh industri global.

Baterai NMC sempat mendominasi berkat kepadatan energi yang tinggi tetapi LFP semakin agresif merebut pasar.

Baterai LFP menggunakan lithium iron phosphate (LiFePO4) sebagai material katoda. Baterai ini memiliki tegangan nominal sekitar 3,2 volt.

Sementara itu, baterai NMC menggunakan campuran nikel, mangan, dan kobalt sebagai material katoda, serta grafit pada anoda. Tegangan nominalnya sekitar 3,7 volt, sehingga mampu menghasilkan energi lebih besar.

Baterai LFP menjadi salah satu faktor utama turunnya harga baterai global. Pada 2025, harga paket baterai LFP rata-rata lebih dari 40% lebih murah dibandingkan baterai berbasis NMC per kWh.

Pada 2025, baterai LFP menyumbang lebih dari 55% dari total baterai EV yang digunakan secara global tetapi penggunaannya masih sangat terkonsentrasi di China. Pasalnya, perusahaan-perusahaan China memimpin dalam produksi, inovasi, dan pasokan material baterai LFP.

Jika hanya melihat baterai kendaraan listrik yang digunakan di luar China pada 2025, hampir 80% masih menggunakan baterai berbasis nikel, seperti NMC.

Salah satu keunggulan utama baterai natrium-ion adalah kemampuannya bekerja pada suhu ekstrem. Dibandingkan baterai lithium-ion, khususnya LFP, baterai natrium-ion memiliki performa jauh lebih baik pada cuaca dingin.

Generasi terbaru baterai natrium-ion mampu mempertahankan sekitar 90% kapasitasnya pada suhu -40°C dan tetap dapat beroperasi hingga 70°C.

Bagi produsen besar, mengembangkan teknologi natrium-ion juga menjadi strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap harga lithium yang sangat fluktuatif.

Meski demikian, teknologi ini masih memiliki kelemahan utama berupa kepadatan energi yang lebih rendah.

Data International Energy Agency (IEA) menunjukkan pasar mobil listrik global mencetak rekor baru pada 2025 yakni menembus 20 juta unit. Jumlah ini melonjak 20% dibandingkan 2024 dan setara 25% dari total penjualan mobil dunia.

Ini menjadi tahun kelima berturut-turut penjualan mobil listrik naik sekitar 3,5 juta unit per tahun sejak pandemi Covid-19.


Kenaikan penjualan terutama ditopang oleh battery electric vehicle (BEV) atau kendaraan yang sepenuhnya menggunakan tenaga listrik dari baterai sebagai sumber energi penggeraknya.

Pangsa BEV meningkat menjadi 65% dari total penjualan mobil listrik, berbalik menguat setelah sempat melemah dalam dua tahun sebelumnya.

Perkembangan pasar berbeda di setiap kawasan. China masih menjadi motor utama industri EV global dengan menyumbang lebih dari separuh pertumbuhan penjualan mobil listrik dunia pada 2025.

 

Di Eropa, penjualan melonjak 30% menjadi lebih dari 4 juta unit sementara di Amerika Serikat, pangsa mobil listrik bertahan di kisaran di bawah 10%.

Lonjakan penjualan juga terjadi di Indonesia. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) mencatat penjualan BEV secara wholesales mencapai 103.931 unit, melonjak 141% dibandingkan tahun sebelumnya.

Pangsa pasar mobil listrik pun menembus 12% dari total distribusi kendaraan nasional.




Membangun Ekosistem EV Indonesia

Sebagai pemilik cadangan dan produsen nikel dunia, Indonesia berpotensi menjadi pemain besar dalam rantai pasok baterai EV global.

Melalui agenda hilirisasi, pemerintah sudah membangun ekosistem industri terintegrasi dari tambang, smelter, produksi material baterai, hingga manufaktur sel baterai dan kendaraan listrik.

Salah satu pengembangan ekosistem EV nasional dilakukan Grup MIND ID melalui Proyek Dragon, megaproyek senilai sekitar US$5,9-6 miliar yang membangun rantai pasok baterai EV dari hulu hingga hilir.

Proyek ini mencakup tambang nikel di Halmahera Timur, smelter Rotary Kiln Electric Furnace (RKEF) RKEF dan High Pressure Acid Leach (HPAL), fasilitas material baterai, pabrik sel dan battery pack di Karawang, hingga fasilitas daur ulang baterai.




Proses RKEF dan HPAL nikelProses RKEF dan HPAL nikel Foto: Istimewa

Proyek ini merupakan kolaborasi Antam dan Indonesia Battery Corporation (IBC) dengan konsorsium Contemporary Brunp Lygend (CBL) yang terdiri dari Contemporary Amperex Technology Co. Limited (CATL) Brunp, dan Lygend.

Melalui proyek tersebut, Indonesia mengembangkan rantai pasok baterai berbasis NMC, memanfaatkan posisi sebagai pemilik cadangan nikel terbesar dunia, sekaligus mempercepat ambisi Indonesia menjadi salah satu pusat industri baterai EV global.

Selain IBC, Hyundai Motor Group dan LG Energy Solution juga membangun pabrik sel baterai EV pertama di Indonesia di Karawang dengan kapasitas awal 10 GWh, yang menjadi bagian penting dari rantai pasok kendaraan listrik nasional.

Hyundai berperan sebagai pengguna utama baterai sekaligus pengembang kendaraan listrik. Bersama LGES, Hyundai membangun pabrik sel baterai di Karawang melalui perusahaan patungan HLI Green Power.

 

Baterai yang diproduksi di Karawang digunakan untuk kendaraan listrik Hyundai dan Kia yang menggunakan platform Electric-Global Modular Platform (E-GMP). Dengan demikian, Hyundai membantu menciptakan pasar bagi baterai yang diproduksi di dalam negeri sekaligus mengintegrasikan produksi baterai lokal dengan manufaktur kendaraan.

Sementara itu, LG Energy Solution berperan sebagai mitra teknologi dan produsen baterai global. LGES membawa teknologi manufaktur sel baterai lithium-ion serta pengalaman dalam pengembangan baterai kendaraan listrik.

Melalui HLI Green Power, LGES bersama Hyundai membangun fasilitas baterai di Karawang dengan kapasitas 10 GWh per tahun, setara kebutuhan sekitar 150.000 kendaraan listrik. Pabrik tersebut memproduksi baterai berteknologi NMC/NCMA.

Kolaborasi kedua perusahaan menghasilkan HLI Green Power, perusahaan patungan yang menjadi salah satu fondasi manufaktur baterai EV Indonesia. Investasi awal yang diumumkan Hyundai dan LGES mencapai US$1,1 miliar, dengan kepemilikan masing-masing 50%.

Pabrik ini mulai memproduksi sel baterai secara massal pada 2024 dan menjadi salah satu fasilitas penting dalam membangun rantai pasok EV dari baterai hingga kendaraan di Indonesia. Pemerintah juga menyebut fasilitas HLI Green Power memiliki nilai investasi sekitar US$1,2 miliar dan kapasitas 10 GWh per tahun.

 

Harita Group, melalui Harita Nickel (NCKL), juga ikut menjadi bagian dari ekosistem pengembangan EV berbasis nikel di Pulau Obi, Maluku Utara.

Perusahaan membangun rantai pasok terintegrasi mulai dari pertambangan nikel, smelter RKEF, hingga pabrik HPAL yang memproduksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP) sebagai bahan baku baterai.

Harita juga mengoperasikan fasilitas pemurnian untuk menghasilkan nikel sulfat, material utama katoda baterai lithium-ion, serta mengembangkan bisnis material baterai melalui kemitraan dengan perusahaan global.

Langkah ini menjadikan Harita sebagai salah satu pemain penting dalam hilirisasi nikel dan rantai pasok baterai EV Indonesia.

PT Vale Indonesia juga ikut menjadi salah satu pemain kunci dalam pengembangan ekosistem baterai EV nasional melalui penguatan hilirisasi nikel.

Setelah bergabung dengan Grup MIND ID, Vale mempercepat tiga proyek strategis, yakni Indonesia Growth Project (IGP) Pomalaa di Sulawesi Tenggara yang mencakup tambang nikel dan pabrik HPAL, Bahodopi HPAL di Sulawesi Tengah, serta Sorowako HPAL di Sulawesi Selatan. Ketiga proyek tersebut akan memproduksi Mixed Hydroxide Precipitate (MHP), bahan baku utama prekursor dan katoda baterai.

Dengan demikian, Vale tidak lagi hanya menjadi produsen ferronickel untuk industri baja tahan karat, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai pemasok nikel kelas baterai dalam rantai pasok kendaraan listrik global.

Dengan ekosistem kendaraan listrik (EV) yang terus berkembang, Indonesia perlu mencermati kebijakan negara lain dalam membangun dan mengelola industri EV agar mampu memperkuat ekosistem domestik.

Sejumlah negara memilih strategi berbeda dalam pengembangan EV berdasarkan keunggulan masing-masing.

Amerika Serikat menggelontorkan insentif jumbo sementara Kanada memilih mengambil peran sebagai penghubung rantai pasok Amerika Utara dengan menarik investasi produsen baterai sekaligus memanfaatkan kekayaan mineral kritis seperti nikel, kobalt, dan lithium.

Sementara itu, Australia lebih fokus menjadi raksasa pemasok bahan baku EV dunia. Sebagai produsen lithium terbesar di dunia, Australia mendorong hilirisasi agar tidak hanya mengekspor mineral mentah, tetapi juga menghasilkan material bernilai tambah untuk industri baterai global.

Kebijakan Amerika Serikat dalam pengembangan EV berfokus pada tiga pilar utama yakni insentif fiskal, penguatan industri domestik, dan regulasi emisi. Tujuannya bukan hanya mempercepat adopsi EV, tetapi juga membangun rantai pasok baterai di dalam negeri dan mengurangi ketergantungan pada China.

Sebagian besar mobil listrik di AS masih menggunakan baterai berbasis nikel (NMC atau NCA).

Pengesahan Inflation Reduction Act (IRA) pada 2022 menjadi salah satu katalis utama percepatan industri EV di Amerika Serikat.

Melalui berbagai insentif untuk pembelian EV, produksi baterai domestik, hingga pembangunan infrastruktur pengisian daya, kebijakan ini diproyeksikan mendorong lonjakan adopsi kendaraan listrik dalam satu dekade ke depan.

Menurut RMI, pangsa penjualan EV pada 2032 diperkirakan mencapai 76% untuk mobil penumpang, hampir 100% untuk kendaraan komersial ringan, dan 84% untuk truk menengah hingga berat. Jika seluruh potensi IRA terealisasi, tambahan 37 juta EV diperkirakan akan terjual sepanjang 2023-2032.

 




Adaptasi EV di Amerika SerikatAdaptasi EV di Amerika Serikat Foto: RMI.Org

Pemerintah federal bukan satu-satunya pihak yang memberikan insentif. Sejumlah negara bagian, pemerintah daerah, hingga perusahaan utilitas juga menawarkan berbagai stimulus, mulai dari kredit pajak, potongan harga (rebate), hingga bantuan pemasangan stasiun pengisian daya di rumah untuk mendorong adopsi EV.

Insentif pembelian EV umumnya berupa kredit pajak yang mengurangi kewajiban pajak negara bagian atau rebate yang langsung memangkas harga kendaraan saat transaksi.

Beberapa negara bagian juga mulai memberikan insentif untuk pembelian kendaraan listrik bekas, meski cakupannya masih terbatas. Selain itu, pemerintah daerah dan perusahaan utilitas turut memberikan bantuan biaya pemasangan home charger maupun panel surya.

Insentif jumbo telah menarik investasi besar dari perusahaan seperti Tesla, Ford, General Motors, Hyundai, LG Energy Solution, Panasonic, Samsung SDI, dan SK On untuk membangun pabrik kendaraan listrik maupun baterai di Amerika Serikat.

Australia mendorong pengembangan EV dengan fokus membangun rantai pasok baterai berbasis mineral kritis, terutama nikel, lithium, dan kobalt.

Melalui National Battery Strategy yang diluncurkan pada 2024, pemerintah menargetkan Australia menjadi produsen global baterai dan material baterai, bukan sekadar pengekspor bahan mentah.

Pemerintah juga menyiapkan berbagai insentif, termasuk Battery Breakthrough Initiative senilai AUD 523 juta serta Critical Minerals Production Tax Incentive yang memberikan potongan pajak 10% bagi pengolahan mineral kritis seperti nikel, lithium, kobalt, dan grafit.




Strategi pengembangan EV AustraliaStrategi pengembangan EV Australia Foto: industry.gov.au

Meski tidak mewajibkan penggunaan baterai NMC, kebijakan tersebut secara tidak langsung mendukung pengembangan baterai berbasis nikel karena Australia merupakan salah satu produsen nikel kelas 1 dan lithium terbesar dunia.

Pada 2024, pemerintah juga memasukkan nikel ke dalam daftar mineral kritis agar produsen dapat mengakses pembiayaan dan insentif pemerintah, sekaligus memperkuat posisi Australia dalam rantai pasok baterai global di tengah persaingan dengan China.

 Pengalaman Amerika Serikat, Kanada, dan Australia menunjukkan bahwa strategi EV harus dibangun sesuai keunggulan masing-masing negara. AS membuktikan insentif besar mampu menarik investasi dan mempercepat adopsi EV, sementara Australia memanfaatkan kekayaan mineral kritis untuk membangun industri baterai bernilai tambah.

 

Bagi Indonesia, nikel dan pasar domestik yang besar merupakan modal utama. Namun, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pemasok bahan baku atau pasar EV. Pemerintah perlu menjaga konsistensi insentif berbasis nikel, menarik investasi manufaktur, meningkatkan TKDN, mendorong transfer teknologi, dan memastikan hilirisasi berjalan dari tambang hingga baterai dan kendaraan.

 Dengan strategi tersebut, Indonesia berpeluang naik kelas dari eksportir nikel menjadi pusat industri baterai dan kendaraan listrik global. Tantangannya adalah memastikan kebijakan tidak berhenti pada subsidi penjualan, tetapi benar-benar menciptakan industri EV nasional yang terintegrasi dan berdaya saing.

Bagaimana dengan Indonesia?

Pemerintah berencana menggulirkan subsidi kendaraan listrik berbasis nikel mulai Juni 2026 sebagai bagian dari strategi memperkuat hilirisasi dan industri baterai nasional. Skema yang disiapkan meliputi PPN Ditanggung Pemerintah (DTP) 100% untuk mobil listrik berbaterai NMC, PPN DTP 40% untuk EV berbaterai non-nikel, serta subsidi Rp5 juta untuk pembelian motor listrik.

Kebijakan ini diperlukan untuk mengarahkan insentif kepada kendaraan yang menggunakan rantai pasok berbasis nikel, sekaligus mengurangi ketergantungan pada kendaraan listrik impor.

Indonesia perlu memanfaatkan status sebagai pemilik cadangan nikel terbesar dunia untuk membangun ekosistem industri baterai dari hulu hingga hilir.

Terlebih, pasar EV nasional masih didominasi baterai LFP. Data GAIKINDO menunjukkan pada 2025 sekitar 77,2% penjualan mobil listrik menggunakan baterai LFP, sementara NMC baru menguasai 22,8% pasar.




Honda Super-ONE ditampilkan dalam acara GIIAS 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (29/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Honda Super-ONE ditampilkan dalam acara GIIAS 2026 di ICE BSD, Kabupaten Tangerang, Banten, Rabu (29/7/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: CNBC Indonesia/Faisal Rahman

Meski demikian, penjualan EV berbaterai NMC tumbuh 177,6%, jauh lebih tinggi dibanding LFP yang naik 88,7%, menunjukkan potensi pasar yang terus berkembang.

Namun, subsidi saja tidak cukup. Pemerintah juga perlu memastikan investasi manufaktur, peningkatan tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), transfer teknologi, serta konsistensi roadmap hilirisasi agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar kendaraan listrik, tetapi juga menjadi basis industri baterai berbasis nikel yang berdaya saing global.

Besarnya pasar domestik dan melimpahnya cadangan nikel menjadi modal kuat Indonesia untuk menarik investasi industri baterai global. Konsistensi insentif berbasis nikel akan menentukan apakah Indonesia hanya menjadi pasar kendaraan listrik atau mampu membangun industri baterai nasional yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.

Pengalaman Amerika Serikat, Kanada, dan Australia menunjukkan bahwa strategi EV harus dibangun sesuai keunggulan masing-masing negara. AS membuktikan insentif besar mampu menarik investasi dan mempercepat adopsi EV, sementara Australia memanfaatkan kekayaan mineral kritis untuk membangun industri baterai bernilai tambah.

 Konsistensi Kebijakan Ditunggu

Pengamat otomotif senior Bebin Djuana menilai keberlanjutan kebijakan pemerintah menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga momentum tersebut. Industri membutuhkan kepastian agar produsen maupun konsumen memiliki keyakinan untuk terus masuk dan menggunakan kendaraan listrik.

“Jika bisa konsisten, walau terjadi perubahan pemerintahan, tidak tertutup kemungkinan di tahun 2030 penjualan EV bisa mencapai 50-60% tentunya disertai juga pertumbuhan ekosistemnya karena apa yang dicapai sekarang barulah awal/fondasi yang baik menuju volume EV yang lebih besar,” kata Bebin kepada CNBC Indonesia, Kamis (13/8/2026).

Namun, tantangan bagi industri bukan hanya meningkatkan penjualan dalam jangka pendek. Konsistensi kebijakan juga harus mampu bertahan ketika terjadi pergantian pemerintahan agar investasi dan pengembangan ekosistem kendaraan listrik tidak kembali kehilangan arah.
Dukungan kebijakan yang memudahkan masyarakat beralih ke kendaraan listrik akan memberikan sinyal positif bagi seluruh rantai industri. Hal ini mencakup produsen kendaraan, konsumen, hingga pelaku usaha yang membangun infrastruktur pendukung EV.

“Konsistensi pemerintah adalah dasar dari peralihan kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan bertenaga baterai,” ujar Bebin.

Pemerintah sendiri masih mematangkan insentif baru untuk mobil dan motor listrik. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan skema dan besaran insentif masih dibahas.

Untuk sementara, insentif hanya diarahkan untuk kendaraan listrik (EV). Belum ada rencana yang diketahui untuk mobil hybrid, PHEV (Plug-in Hybrid Electric Vehicle) maupun REEV (Range Extended Electric Vehicle).

Pemerintah juga belum memastikan bentuk insentif, termasuk apakah akan menggunakan skema PPN Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) seperti sebelumnya.

“Masih dihitung. Masih didiskusikan. Tapi dalam dekat akan diumumkan. Motor dan mobil juga,” kata Purbaya saat ditanya mengenai kabar insentif untuk kendaraan listrik di GIIAS 2026, Selasa (4/8/2026).




Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat menghadiri GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD, Tangerang, Selasa (4/8/2026). (Dok. Biro KLI kemenkeu)Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat menghadiri GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD, Tangerang, Selasa (4/8/2026). (Dok. Biro KLI kemenkeu) Foto: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa saat menghadiri GAIKINDO Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2026 di ICE BSD, Tangerang, Selasa (4/8/2026). (Dok. Biro KLI kemenkeu)

Terkait insentif, produsen motor listrik Alva berharap kebijakan yang diterbitkan nantinya tidak hanya menarik minat konsumen, tetapi juga memberikan kepastian bagi pelaku industri.
CEO Alva Purbaja Pantja mengatakan perusahaan pada dasarnya akan mengikuti kebijakan yang diputuskan pemerintah.

“Kami ikut saja dari segi policy. Apa pun juga kami terus berterima kasih kepada pemerintah yang sudah memikirkan industri ini. Baik program subsidi yang pernah berjalan maupun pemikiran pemerintah mengenai efektivitas program tersebut, kita ikut saja,” kata Purbaja dalam diskusi dengan media di Tangerang, Senin (3/8/2026).

Dia menilai dukungan pemerintah tidak selalu harus diberikan dalam bentuk subsidi langsung kepada pembeli. Insentif juga bisa diarahkan kepada produsen maupun pembangunan ekosistem kendaraan listrik agar adopsinya semakin cepat.

Bagi Indonesia, nikel dan pasar domestik yang besar merupakan modal utama. Namun, Indonesia tidak cukup hanya menjadi pemasok bahan baku atau pasar EV. Pemerintah perlu menjaga konsistensi insentif berbasis nikel, menarik investasi manufaktur, meningkatkan TKDN, mendorong transfer teknologi, dan memastikan hilirisasi berjalan dari tambang hingga baterai dan kendaraan.

Dengan strategi tersebut, Indonesia berpeluang naik kelas dari eksportir nikel menjadi pusat industri baterai dan kendaraan listrik global. Tantangannya adalah memastikan kebijakan tidak berhenti pada subsidi penjualan, tetapi benar-benar menciptakan industri EV nasional yang terintegrasi dan berdaya saing.

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *