Home Finance Mari Tepuk Tangan! Rupiah Melesat, Kenaikan Agustus Terkuat 15 Bulan
Finance

Mari Tepuk Tangan! Rupiah Melesat, Kenaikan Agustus Terkuat 15 Bulan

Share
Mari Tepuk Tangan! Rupiah Melesat, Kenaikan Agustus Terkuat 15 Bulan
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah berhasil mengakhiri periode perdagangan Agustus 2026 dengan penguatan yang solid.

Mata uang Garuda menutup perdagangan terakhir Agustus pada Senin (31/8/2026) di level Rp17.710/US$. Secara bulanan, rupiah terapresiasi 1,56% terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Penguatan tersebut menjadi apresiasi bulanan pertama rupiah sejak Februari 2026. Kinerja Agustus juga menjadi penguatan bulanan terkuat rupiah sejak Mei 2025, ketika rupiah menguat 1,87% kala itu. 


Pergerakan rupiah sepanjang Agustus tidak lepas dari banyaknya faktor dan sentimen, baik dari global maupun domestik, yang mendukung penguatan nilai tukar.

CNBC Indonesia merangkum sejumlah faktor utama yang menggerakkan rupiah sepanjang Agustus 2026.

Dolar AS Melemah, Rupiah Dapat Ruang Menguat

Faktor utama yang menopang rupiah sepanjang Agustus adalah pelemahan indeks dolar AS (DXY). Sepanjang bulan lalu, DXY tercatat melemah 0,49%.

Pelemahan dolar AS membuat tekanan terhadap mata uang negara berkembang ikut berkurang. Kondisi ini memberi ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih kuat setelah sebelumnya sempat beberapa kali tertekan di sekitar level Rp18.000/US$.

Tekanan terhadap dolar AS muncul setelah ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) mulai menurun. 

Pemicunya adalah data pasar tenaga kerja AS yang ternyata jauh lebih lemah dari perkiraan.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan nonfarm payrolls Juli 2026 turun 23.000 pekerjaan. Angka ini jauh dari perkiraan ekonom, yakni bertambah 80.000 pekerjaan. Data untuk Mei dan Juni juga direvisi turun sebesar 103.000 pekerjaan.

Data tenaga kerja yang lemah tersebut membuat pasar memangkas ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed. Peluang kenaikan suku bunga pada September turun menjadi 44%, dari 57% sebelum data tenaga kerja dirilis.


Fiskal AS dan Buyback Treasury Bikin Pasar Waswas

Sentimen lain yang menekan dolar AS datang dari pasar obligasi pemerintah AS.

Pada Rabu (19/8/2026) waktu setempat, Departemen Keuangan AS mengumumkan rencana untuk menggandakan pembelian kembali atau buyback obligasi pemerintah AS bertenor panjang.

Kebijakan ini muncul setelah terjadi gejolak kenaikan yield Treasury. Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 30 tahun sempat melonjak ke 5,337%, level tertinggi dalam 19 tahun, di tengah kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal AS.

Realisasi peningkatan buyback tersebut dilakukan secara bertahap pada kuartal berikutnya. Nilai buyback obligasi tenor panjang digandakan menjadi US$4 miliar per operasi.

Kekhawatiran pasar semakin besar karena utang pemerintah AS untuk pertama kalinya menembus US$40 triliun. Kondisi tersebut membuat pasar kembali mencermati besarnya kebutuhan pembiayaan pemerintah AS, defisit fiskal, dan keberlanjutan utang negara tersebut.

Langkah buyback obligasi sebenarnya ditujukan untuk membantu meredam tekanan di pasar obligasi. Namun, pasar juga melihat kebijakan tersebut sebagai sinyal bahwa pemerintah AS mulai menggunakan pendekatan yang lebih langsung untuk menahan kenaikan biaya pinjaman.

Hal ini kemudian memunculkan kekhawatiran baru terhadap aset-aset AS. Sentimen tersebut ikut menekan dolar AS dan menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan rupiah.

Timur Tengah Sempat Reda, tapi Pidato Warsh Menahan Pelemahan Dolar

Dinamika geopolitik juga ikut memengaruhi pergerakan dolar AS sepanjang Agustus.

Pada beberapa periode, tensi antara AS dan Iran terlihat lebih datar dibandingkan bulan sebelumnya. Harapan terhadap jalur diplomasi sempat muncul dan membuat minat pasar terhadap dolar AS sebagai aset aman atau safe haven berkurang.

Ketika kebutuhan terhadap aset aman menurun, dolar AS cenderung kehilangan sebagian daya tariknya. Situasi ini turut memberi ruang bagi mata uang Asia, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih positif.




New U.S. Federal Reserve Chairman Kevin Warsh holds a press conference following a two-day meeting of the Federal Open Market Committee (FOMC), at the U.S. Federal Reserve in Washington, D.C., U.S. June 17, 2026. REUTERS/Eric LeeNew U.S. Federal Reserve Chairman Kevin Warsh holds a press conference following a two-day meeting of the Federal Open Market Committee (FOMC), at the U.S. Federal Reserve in Washington, D.C., U.S. June 17, 2026. REUTERS/Eric Lee Foto: REUTERS/Eric Lee

Namun, pelemahan dolar AS tidak berjalan mulus hingga akhir bulan. Menjelang penutupan Agustus, greenback sempat mendapat dorongan dari pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam simposium Jackson Hole pada Jumat (28/8/2026).

Warsh menyampaikan bahwa The Fed masih sangat mencermati inflasi AS yang belum sepenuhnya bergerak menuju target 2%. Pernyataan tersebut membuka kembali peluang bahwa The Fed masih bisa menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi tidak mereda.

Pasar langsung merespons pernyataan tersebut. Probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada September sebesar 25 basis poin naik dari sekitar 35% sebelum pidato Warsh menjadi kisaran 50%.

Kenaikan ekspektasi tersebut sempat menguatkan dolar AS menjelang penutupan Agustus. Namun, secara bulanan, DXY tetap melemah dan rupiah masih berhasil mencatat penguatan.

Rupiah Juga Ditopang Sentimen Domestik

Selain faktor global, rupiah juga mendapat dukungan dari sejumlah sentimen domestik.

Salah satu yang paling dicermati pasar adalah kepastian arah kepemimpinan Bank Indonesia. Sebelumnya, pasar sempat mencermati dinamika di BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri dari posisi Gubernur BI pada 25 Juli 2026.

Ketidakpastian mulai mereda setelah Destry Damayanti ditetapkan sebagai Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI pada 26 Juli 2026. Kepastian semakin kuat ketika Presiden Prabowo Subianto mengirimkan nama Destry sebagai calon tunggal Gubernur BI pada 10 Agustus 2026.

Destry kemudian menjalani uji kelayakan dan kepatutan atau fit and proper test di Komisi XI DPR pada Rabu (26/8/2026). Pada hari yang sama, Komisi XI juga menggelar fit and proper test terhadap Aida S. Budiman sebagai calon Deputi Gubernur Senior BI.

Proses seleksi berlanjut pada Kamis (27/8/2026) untuk dua calon Deputi Gubernur BI, yakni Solikin M. Juhro dan M. Anwar Bashori. Pada Kamis sore, Komisi XI DPR kemudian menyetujui Destry sebagai Gubernur BI terpilih periode 2026-2031.

Rangkaian proses tersebut membuat pasar mendapat

Hasil proses tersebut mendapat respons positif dari pasar. Kepastian mengenai calon Gubernur BI dinilai penting karena berkaitan langsung dengan arah kebijakan moneter, stabilitas nilai tukar, dan pengelolaan inflasi ke depan.




Calon Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menjalani Uji Kelayakan atau Fit and Proper Test di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Rabu (26/8/2026). (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)Calon Gubernur Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti saat menjalani Uji Kelayakan atau Fit and Proper Test di Gedung DPR/MPR RI, Jakarta, Rabu (26/8/2026). 

Sentimen domestik lain datang dari rilis Neraca Pembayaran Indonesia atau NPI kuartal II-2026. Data tersebut menunjukkan defisit NPI membaik tajam, dari sekitar US$9 miliar pada kuartal sebelumnya menjadi sekitar US$0,9 miliar pada kuartal II-2026.

Perbaikan defisit ini menjadi sinyal bahwa tekanan eksternal Indonesia mulai mereda. Bagi rupiah, membaiknya NPI memberi dukungan positif karena menunjukkan kondisi transaksi dan aliran dana eksternal Indonesia lebih terkendali.

Rupiah juga mendapat dorongan dari rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026 pada awal Agustus. Badan Pusat Statistik mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan pada kuartal II-2026.

Angka tersebut berada di atas konsensus pasar yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi sebesar 5,12%.

Pertumbuhan tersebut menunjukkan ekonomi domestik masih cukup resilien di tengah tekanan global. Konsumsi yang relatif stabil dan pertumbuhan belanja pemerintah menjadi salah satu penopang kinerja ekonomi pada periode tersebut.

Data pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dari perkiraan menjadi sinyal positif. Ekonomi yang masih tumbuh solid memberi keyakinan bahwa fundamental domestik tetap terjaga, sehingga ikut menopang pergerakan nilai tukar rupiah.


CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *