Home Finance Update Kondisi Kubah Lava Anak Krakatau Pascatsunami 2018-Erupsi Terus
Finance

Update Kondisi Kubah Lava Anak Krakatau Pascatsunami 2018-Erupsi Terus

Share
Update Kondisi Kubah Lava Anak Krakatau Pascatsunami 2018-Erupsi Terus
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Gunung Api Anak Krakatau masih mengalami erupsi menerus hingga Sabtu (5/9/2026) pagi setelah kembali aktif sejak Juli 2026. Badan Geologi memastikan pertumbuhan tubuh gunung api pasca tsunami 2018 masih relatif kecil sehingga belum berpotensi runtuh dan memicu tsunami.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian ESDM Rita Susilowati mengatakan aktivitas Anak Krakatau saat ini terus dipantau melalui dua stasiun pengamatan di Pasauran dan Kalianda.

“Hasil pemantauan kami menunjukkan bahwa pertumbuhan tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali pasca-erupsi 22 Desember 2018 masih relatif kecil dan tidak berpotensi mengalami keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami,” kata Rita dalam konferensi pers daring, Sabtu (5/9/2026).

Rita menjelaskan, tsunami 22 Desember 2018 terjadi setelah aktivitas Anak Krakatau menyebabkan sebagian tubuh gunung api runtuh ke laut. Peristiwa tersebut terjadi ketika rangkaian erupsi dan perubahan pada tubuh gunung api memicu longsoran besar ke laut, sehingga memindahkan massa air dan menghasilkan gelombang tsunami yang menerjang pesisir Banten dan Lampung.

“Untuk tsunami, setelah terjadinya runtuhan tubuh Anak Krakatau di tahun 2018, saat ini Gunung Anak Krakatau memang masih membentuk kubah lava yang baru. Hasil pemantauan kami menunjukkan bahwa ini tidak berpotensi tsunami,” katanya.

Setelah kejadian tersebut, Anak Krakatau kembali mengalami erupsi berskala rendah secara berkepanjangan hingga 16 Desember 2023. Fase tersebut merupakan proses konstruksi atau pertumbuhan kembali tubuh gunung api, sebelum aktivitas erupsi kembali meningkat pada 2 Juli 2026 dan statusnya dinaikkan dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga).

Pada 5 September 2026, erupsi menerus tercatat berlangsung sejak sekitar pukul 23.07 WIB hingga 04.40 WIB dan masih terpantau pada pagi hari.

“Sampai pagi ini stasiun pengamatan kami masih mencatat bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau masih menunjukkan semburan erupsi secara terus-menerus,” ujar Rita.

Erupsi tersebut juga diduga berkaitan dengan suara dentuman dan getaran yang dilaporkan warga di sejumlah wilayah Jawa Barat, Banten, hingga Bandung. Menurut Rita, energi akustik dari erupsi tertentu dapat merambat hingga ratusan kilometer, sementara perbedaan temperatur udara serta arah dan kecepatan angin dapat memengaruhi pola perambatan suara.

Namun, Badan Geologi menegaskan pencocokan waktu erupsi dengan laporan masyarakat tetap diperlukan untuk memastikan sumber dentuman tersebut.

Saat ini, bahaya utama Anak Krakatau berasal dari aktivitas erupsi berupa aliran lava yang dapat disertai lontaran batu pijar, bukan tsunami.

“Walaupun suara terdengar jauh atau ada getaran, rekomendasi dari Badan Geologi tidak berubah: tetap di status Level III (Siaga) dan jarak rekomendasi tetap 3 km,” kata Rita.

Badan Geologi meminta masyarakat tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari pusat aktivitas Anak Krakatau serta tetap mewaspadai lontaran batu pijar, lava, awan panas, dan hujan abu lebat. Sementara itu, masyarakat Banten dan Lampung di luar radius tersebut diminta tetap tenang dan mengikuti informasi resmi, karena berdasarkan evaluasi terbaru, kondisi tubuh Anak Krakatau saat ini belum menunjukkan potensi keruntuhan yang dapat memicu tsunami.




Peta kawasan rawan bencana Gunung Anak Krakatau, Lampung. (Dok. Badan Geologi, Kementerian ESDM)Peta kawasan rawan bencana Gunung Anak Krakatau, Lampung. (Dok. Badan Geologi, Kementerian ESDM) Foto: Peta kawasan rawan bencana Gunung Anak Krakatau, Lampung. (Dok. Badan Geologi, Kementerian ESDM)

(dce)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *