
Jakarta, CNBC Indonesia — Amerika Serikat dan China dijadwalkan mengadakan dialog khusus pada pertengahan September 2026 guna membahas berbagai risiko keamanan terkait kecerdasan buatan (AI). Pertemuan itu bertujuan untuk mengantisipasi kemajuan teknologi AI yang telah mencapai titik kritis global serta berpotensi memicu serangan siber lintas batas yang sulit terdeteksi.
Hal itu juga menyusul deretan raksasa teknologi dunia, mulai dari OpenAI, Anthropic, Microsoft, Alphabet, hingga Amazon, membunyikan alarm darurat. Mereka secara terbuka mendesak adanya mobilisasi pertahanan berskala besar di seluruh penjuru masyarakat demi menghadapi ancaman nyata dari gelombang peretasan berbasis kecerdasan buatan (AI) yang kian masif.
Peneliti senior New America Samm Sacks membeberkan urgensi dari pertemuan kedua negara adidaya teknologi tersebut. Ia menekankan bahwa ancaman dari agen AI garis depan saat ini telah menempatkan AS dan China dalam posisi yang sama-sama rentan.
“Kita berada pada titik balik di mana agen-agen garis depan dapat menyebabkan kerusakan besar jika tidak dipantau. Baik AS maupun China sama-sama rentan. Ini melampaui persaingan geopolitik,” ujarnya dilansir Reuters, dikutip Minggu (6/9/2026).
Washington mengusulkan adanya kerja sama pemantauan serangan siber yang diarahkan oleh AI dan meminta laboratorium pengembang di kedua negara untuk melakukan pengawasan mandiri.
Hal itu dipicu oleh insiden pada Juli lalu, di mana hampir 700 agen AI yang dibangun di atas model OpenAI meretas startup AI Hugging Face dan berusaha memalsukan log untuk menutupi jejak mereka.
“Pembicaraan antara dua negara adidaya AI ini terjadi di titik yang paling kritis. Sekarang atau tidak sama sekali,” tegas Paul Triolo, mitra di DGA-Albright Stonebridge Group, mengenai pentingnya kesepakatan tersebut.
Pemerintah Amerika Serikat juga menaruh perhatian serius terhadap potensi pengembangan model AI tingkat tinggi oleh China yang memiliki kemampuan melancarkan serangan siber secara otonom. Selain itu, AS berencana mengangkat isu dugaan pencurian model AI milik perusahaan Anthropic oleh pengembang asal China melalui proses distillation atau penyulingan model.
“Pihak China telah menyatakan keprihatinan mengenai apakah AS memiliki regulasi yang memadai seputar model AI yang paling canggih. Kedua pihak termotivasi untuk memastikan mereka dapat mengelola krisis lintas batas secara efektif,” jelas Scott Singer, co-direktur Inisiatif AI China di Carnegie Endowment for International Peace.
Rangkaian dialog bilateral tersebut direncanakan menjadi pembuka sebelum Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping bertemu langsung dalam konferensi tingkat tinggi di Washington pada 24 September mendatang.
Meskipun agenda akhir masih bersifat dinamis, kedua belah pihak sepakat bahwa kegagalan dalam mengelola risiko AI akan menjadi kerugian besar bagi stabilitas keamanan dunia.
“Amerika Serikat dan China harus bersatu dalam beberapa bentuk, atau kita berdua akan kalah,” pungkas Samm Sacks.
Ancaman Peretasan Basis AI
Dalam surat terbuka bersama yang dirilis pada Kamis (27/8) waktu setempat, koalisi raksasa teknologi AI dunia memperingatkan bahwa waktu kian menipis untuk memperkuat benteng pertahanan digital sebelum bencana siber akibat AI benar-benar meledak.
Koalisi raksasa teknologi ini juga turut didukung lebih dari 100 perusahaan global seperti IBM, Mastercard, Oracle, Visa, hingga Cloudflare.
“Dalam beberapa bulan mendatang, serangan siber berbasis AI akan menjadi jauh lebih masif seiring dengan kecerdasan model yang terus meningkat di seluruh dunia,” tulis para eksekutif industri dalam surat tersebut, dikutip dari Reuters, Jumat (28/8/2026).
Mereka juga mendesak pemerintah dan para pemimpin bisnis untuk mengerahkan seluruh sumber daya dan keahlian demi membendung ancaman ini.
Eskalasi bahaya ini bukan lagi sekadar isapan jempol. Ketakutan bahwa kemajuan AI bakal mendongkrak kapabilitas peretas kini telah menjelma menjadi kenyataan pahit. Berbagai elemen kejahatan siber dilaporkan semakin agresif mengeksploitasi large language models (LLM) untuk menjebol sistem keamanan berbagai organisasi lintas negara.
Bahkan, aliansi intelijen “Five Eyes” yang beranggotakan AS, Inggris, Kanada, Australia, dan Selandia Baru, sempat mengeluarkan peringatan keras bahwa revolusi AI kini tengah berada di ambang titik nadir yang akan mengubah secara fundamental lanskap kerentanan keamanan siber global.
Di tengah ancaman ancaman siber yang kian brutal dan tak kenal ampun, para raksasa teknologi mendesak pemerintah untuk mempercepat program akses keamanan khusus serta menuntut setiap organisasi untuk menjadikan pertahanan siber sebagai prioritas mutlak para petinggi perusahaan.
Kendati demikian, langkah antisipasi ini dibayangi oleh ironi. Di AS sendiri, agensi pertahanan siber CISA justru tengah pincang akibat pemangkasan anggaran tajam yang membuat jumlah stafnya merosot hingga sepertiga tahun lalu.
(mkh/mkh)
Leave a comment