
Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kebijakan mengimpor minyak mentah dari Rusia merupakan kebijakan pemerintah dan disetujui melalui skema kontrak antarpemerintah.
Dia menegaskan, impor minyak dari Rusia ini demi kepentingan rakyat dan kedaulatan bangsa, sehingga tidak boleh diintervensi siapa pun.
“Saya mengatakan sekali lagi ya, bahwa pembelian crude dari Rusia itu merupakan bagian daripada kontrak G to G yang kemudian diakhiri dengan G to B,” ungkapnya saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Jumat (11/9/2026).
“Kita sekarang ini kan lagi kondisi global kayak begini, kita mencari skala prioritas mana yang duluan bisa mendatangkan crude kita. Selama tidak menabrak aturan dan secara ekonomis masuk. Bayangkan orang dunia lagi susah, kita masih pilih-pilih. Saya lebih mementingkan kepentingan rakyat daripada kepentingan lain, apalagi kedaulatan bangsa kita tidak boleh diintervensi oleh siapa pun. Karena kita menganut mazhab politik bebas aktif,” tuturnya.
Dia pun menegaskan, impor minyak dari Rusia ini sudah terealisasi.
“Sudah, sudah, sudah mulai jalan, ya,” ujarnya.
Seperti diketahui, pemerintah sudah menetapkan bahwa impor minyak Rusia ini dilakukan melalui Badan Layanan Umum (BLU) Balai Besar Pengujian Minyak dan Gas Bumi (Lemigas) dan bukan merupakan aksi korporasi dari PT Pertamina (Persero).
Ketentuan terkait Lemigas menjadi salah satu Badan Layanan Umum (BLU) yang dapat melakukan pengadaan, termasuk impor minyak mentah dan BBM ini diatur dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 26 Tahun 2026.
Total Impor Minyak dari Rusia
Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Lingkungan Hashim Djojohadikusumo sebelumnya menyebutkan bahwa Indonesia mendapatkan 150 juta minyak mentah dari Rusia dengan harga khusus.
Hashim mengatakan, pasokan minyak yang didapatkan dengan harga khusus itu adalah hasil kunjungan Presiden Prabowo Subianto menemui Presiden Vladimir Putin di Istana Kremlin, Moskwa, pada Senin (13/4/2026).
”Indonesia sekarang sudah ada komitmen dari pemerintah Rusia, 150 juta barel kita bisa simpan di Indonesia untuk menghadapi masalah-masalah gejolak ekonomi,” ucap Hashim saat memberikan acara Economic Briefing 2026 di Menara Patra Jasa, Jakarta pada Kamis (23/4/2026).
Awalnya dalam pertemuan dengan Putin, jelas Hashim, awalnya Rusia menyetujui mengirim 100 juta barel dengan harga khusus. Akan tetapi, jumlah itu akan ditambah Rusia sebesar 50 juta barel untuk Indonesia dalam menghadapi gejolak dunia.
”Dia (Prabowo Subianto) ke Moskow ketemu Presiden Putin selama 3 jam dan dapat komitmen dari Presiden Putin 100 juta barel minyak itu akan segera dikirim ke Indonesia. 100 juta barel dengan harga khusus. Dan apabila Indonesia perlu lagi tambahan, sudah ditambah 50 juta,” tutur Hashim.
(wia)
Leave a comment