
Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah berbalik melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), di tengah pergerakan indeks dolar AS yang kian perkasa.
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,31% ke posisi Rp17.640/US$ pada perdagangan Senin (14/9/2026). Pelemahan ini melanjutkan tekanan rupiah setelah pada perdagangan Jumat (11/9/2026) juga mengakhiri perdagangan dengan terkoreksi 0,31% ke level Rp17.585/US$.
Padahal, rupiah sempat membuka perdagangan pagi tadi di zona hijau. Pada pembukaan perdagangan, rupiah menguat 0,14% ke posisi Rp17.560/US$.
Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Tekanan dolar AS yang kembali meningkat di pasar global membuat rupiah berbalik arah dan menutup perdagangan di zona merah.
Pergerakan rupiah hari ini masih dibebani oleh penguatan dolar AS. Indeks dolar AS atau DXY pada pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,33% ke posisi 99,451.
Dolar AS kembali mendapatkan pijakan menjelang pekan penting kebijakan moneter global. Pasar kini menanti keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) pada Kamis (17/9/2026) dini hari waktu Indonesia, serta keputusan Bank of Japan (BOJ) pada Jumat.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali meningkat setelah data inflasi konsumen AS pada Jumat menunjukkan harga kembali meningkat pada Agustus. Berdasarkan CME FedWatch, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pekan ini mencapai 86%.
Penguatan dolar AS juga ditopang oleh kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Yield Treasury AS tenor 2 tahun, yang sensitif terhadap ekspektasi suku bunga The Fed, berada di sekitar 4,61% setelah naik 26 basis poin pada pekan lalu.
Selain suku bunga, pasar juga masih dibayangi lonjakan harga minyak. Harga minyak Brent naik 2% ke US$106,7 per barel setelah serangan baru Houthi ke Arab Saudi dan serangan Iran terhadap kapal-kapal di Teluk memperbesar kekhawatiran gangguan pasokan energi.
Kenaikan harga minyak membuat risiko inflasi global kembali mencuat. Kondisi ini semakin memperkuat pandangan bahwa bank sentral utama dunia masih memiliki alasan untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat.
Tekanan terhadap rupiah juga sempat disinggung Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti. Ia mengatakan rupiah sebenarnya sempat bergerak lebih kuat dalam beberapa hari terakhir, bahkan nyaris menyentuh area Rp17.400/US$.
“Sebenarnya beberapa hari lalu, kita sudah di Rp17.500-an dan bahkan hampir menyentuh Rp17.400-an. Namun demikian, gejolak global memburuk, karena perang Iran-AS makin meningkat, kita (rupiah) agak tertekan dalam 2 hari terakhir. Tetapi alhamdulillah masih di level Rp17.600-an,” ujar Destry dalam rapat kerja dengan DPD RI, Senin (14/9/2026).
Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa tekanan rupiah lebih banyak datang dari faktor global. Eskalasi konflik Timur Tengah, kenaikan harga minyak, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed, serta penguatan dolar AS menjadi kombinasi sentimen yang menahan ruang penguatan rupiah.
Dengan penutupan hari ini, rupiah kembali berada di area Rp17.600/US$. Pasar akan mencermati keputusan The Fed pekan ini untuk melihat apakah tekanan terhadap dolar AS dan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, akan berlanjut atau mulai mereda.
(evw/evw)
Leave a comment