
Jakarta, CNBC Indonesia – Pendiri ByteDance, Zhang Yiming, resmi mendepak miliarder asal India, Gautam Adani, dari tahtanya dan dinobatkan sebagai orang terkaya di Asia. Kekayaan bersih bos di balik aplikasi populer TikTok tersebut meledak hingga menembus angka US$105 miliar (sekitar Rp1.863 triliun), seiring gelombang masif industri kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) yang mengerek naik pundi-pundi kekayaan para taipan teknologi.
Berdasarkan laporan Bloomberg, dikutip dari Economic Times, Kamis (17/9/2026), kekayaan Zhang yang kini berusia 43 tahun meroket hingga lebih dari delapan kali lipat dibanding catatan Maret 2019 yang kala itu “hanya” bertengger di kisaran US$13 miliar (Rp231 triliun). Hartanya bahkan langsung melompat lebih dari US$12 miliar hanya dalam bulan ini saja, menyusul hasil analisis valuasi mutakhir yang dirilis oleh sejumlah raksasa manajemen investasi seperti BlackRock, Fidelity Investments, dan T. Rowe Price.
Posisi prestisius ini otomatis mengantarkan Zhang menyalip Gautam Adani dalam Bloomberg Billionaires Index. Sebelumnya, kekayaan Adani sempat menyentuh level tertinggi di angka US$120 miliar (Rp2.130 triliun) pada Juni lalu. Namun, pundi-pundi sang taipan energi asal India itu merosot dalam beberapa bulan terakhir akibat penyeimbangan kembali (rebalancing) portofolio saham di indeks MSCI, ditambah terjangan aksi jual global yang dipicu lonjakan harga minyak dan imbal hasil obligasi (bond yields).
Kunci Melesatnya Kekayaan Zhang
Pundi-pundi raksasa Zhang dibangun melalui ByteDance, perusahaan induk TikTok yang sukses menjelma sebagai salah satu platform media sosial paling berpengaruh di muka bumi. Tak puas hanya mendominasi pasar media sosial, perusahaan ini bergerak agresif merangsek ke sektor AI dengan melahirkan inovasi seperti chatbot Doubao hingga alat pembuat video otomatis, Seedance.
Analis Kepala Omdia, Lian Jye Su, menilai lonjakan kekayaan Zhang menjadi bukti sahih bagaimana ledakan teknologi AI kini mulai menggeser dominasi pundi-pundi kekayaan dari sektor industri konvensional-seperti kerajaan bisnis energi milik Adani maupun konglomerasi milik Mukesh Ambani.
“Ia memainkan kartunya dengan benar,” ujar Lian Jye Su dalam laporan tersebut, seraya menyoroti konsistensi Zhang yang terus menggelontorkan modal besar untuk memajukan investasi AI di perusahaannya.
Langkah strategis tersebut terbukti jitu. Bahkan di tengah tekanan regulasi dan pengawasan ketat pemerintah AS terhadap TikTok, Zhang tidak mengendurkan fokusnya pada pengembangan AI. ByteDance dinilai memiliki keunggulan kompetitif berupa timbunan data media sosial berskala masif yang sangat ideal untuk melatih model-model AI mutakhir.
Kini, lini produk dan layanan berbasis AI menjadi tumpuan terbesar ByteDance untuk mendulang cuan di luar bisnis inti videonya, kendati persaingan ketat di pasar domestik China tetap menjadi tantangan tersendiri.
Lepas Bayang-Bayang Geopolitik
Kenaikan level kekayaan Zhang ini terjadi setelah perusahaannya melalui tahun-tahun penuh turbulensi akibat ketidakpastian geopolitik dan regulasi di AS.
Awal tahun ini, ByteDance mengambil langkah taktis dengan mengalihkan sebagian operasional TikTok di AS kepada para investor lokal, sebuah langkah yang berhasil meredredam badai ketidakpastian nasib aplikasi tersebut di Negeri Paman Sam.
Perlu dicatat, Bloomberg Billionaires Index sendiri secara konservatif menerapkan diskon risiko sebesar 10% untuk valuasi ByteDance mengingat status perusahaan yang masih dipegang secara privat.
Sebelum menguasai tahta Asia, Zhang telah lebih dulu dinobatkan sebagai orang terkaya di China berkat ekspansi global TikTok dan gurita bisnis AI ByteDance. Fenomena ini sekaligus mencerminkan pergeseran peta kekuatan ekonomi di kawasan Asia, di mana sektor berbasis kecerdasan buatan kini menjadi mesin pencetak kekayaan baru yang paling dominan, sejalan dengan ambisi China untuk keluar sebagai pemenang dalam perang teknologi global melawan Amerika Serikat.
(fab/fab)
Leave a comment