Meta meluncurkan kacamata VR baru, Ray-Ban Meta Audio tanpa kamera, dan perangkat AI Muse untuk memperkuat ambisi teknologi AI.

Raksasa teknologi Meta memperkenalkan perangkat realitas virtual (VR) terbaru yang memiliki desain ramping menyerupai kacamata biasa serta kacamata pintar tanpa kamera bernama Ray-Ban Meta Audio pada Rabu (23/9/2026). Peluncuran ini menjadi bagian dari strategi Meta mengembangkan perangkat berbasis kecerdasan buatan (AI) sekaligus merespons meningkatnya kritik terkait isu privasi. (REUTERS/Carlos Barria)

Kacamata VR Meta dibanderol US$1.299 atau sekitar Rp23 juta dan dirancang untuk menyaingi perangkat premium seperti Apple Vision Pro. Perangkat ini memiliki bobot setara satu pak kartu remi, dengan baterai dan prosesor dipindahkan ke unit terpisah berbentuk cakram agar desain utama tetap ringan. Produk tersebut dijadwalkan meluncur pada musim semi 2027. (REUTERS/Carlos Barria)

CEO Meta Mark Zuckerberg menyebut perangkat VR itu sebagai sebuah “terobosan”. Meta berharap desain seperti kacamata hitam dengan bingkai melengkung, yang dapat merespons gerakan mata, suara, dan tangan, mampu membawa teknologi VR ke pasar arus utama setelah sebelumnya terkendala harga tinggi dan ukuran headset yang berat. (REUTERS/Carlos Barria)

Meta juga memperluas penggunaan asisten AI Muse ke seluruh lini kacamata pintarnya. Teknologi tersebut akan menjadi antarmuka utama yang memungkinkan pengguna melakukan berbagai aktivitas melalui perintah suara, seperti berbelanja, membuat janji temu, hingga menyelesaikan sejumlah tugas dengan bantuan AI. (REUTERS/Carlos Barria)

Selain itu, Meta meluncurkan Ray-Ban Meta Audio, kacamata pintar tanpa kamera yang tetap dapat merekam audio. Produk ini hadir di tengah kekhawatiran publik terhadap perangkat AI yang mampu merekam video dan mengambil gambar tanpa izin. Kacamata tersebut akan mulai dikirimkan pada 13 Oktober dengan harga mulai US$349 atau sekitar Rp6,2 juta, lebih murah US$100 sekitar Rp1,8 juta dibandingkan versi Ray-Ban terbaru yang dilengkapi kamera. (REUTERS/Carlos Barria)

Meski diklaim lebih ramah privasi, sejumlah pengamat menilai penghapusan kamera belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan terkait perekaman tanpa izin. Direktur IDC Jitesh Ubrani mengatakan perangkat tersebut tetap memiliki potensi penyalahgunaan audio sehingga Meta perlu memastikan pengguna dan orang di sekitar mengetahui ketika proses perekaman berlangsung. (REUTERS/Carlos Barria)


Leave a comment