
Jakarta, CNBC Indonesia – Kuartal terakhir 2026 resmi dimulai pada Kamis (1/10/2026). Periode ini bertepatan dengan semakin dekatnya dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto pada 20 Oktober mendatang.
Dua momentum tersebut menjadi waktu yang pas untuk kembali melihat kondisi perekonomian Indonesia. Apalagi, data terbaru menunjukkan gambaran yang cukup beragam.
Ekonomi masih mampu tumbuh di atas 5% dan investasi meningkat cukup kencang. Keyakinan konsumen serta penjualan eceran juga mulai membaik. Namun, tekanan belum benar-benar hilang. Inflasi kembali naik, rupiah masih lemah, impor tumbuh jauh lebih tinggi dibandingkan ekspor, dan jumlah pekerja yang terkena PHK bertambah.
Berikut gambaran ekonomi Indonesia saat memasuki kuartal keempat 2026 dan menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo.
1. Ekonomi Masih Tumbuh di Atas 5%
Data pertumbuhan ekonomi terbaru masih berasal dari kuartal kedua 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekonomi Indonesia tumbuh 5,29% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Pertumbuhannya memang melambat dibandingkan kuartal pertama 2026 yang mencapai 5,61%. Namun, secara keseluruhan ekonomi Indonesia masih tumbuh 5,45% sepanjang semester pertama tahun ini.
Konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama. Komponen tersebut tumbuh 5,06% dan menyumbang 2,67 poin persentase terhadap pertumbuhan ekonomi.
Belanja pemerintah juga meningkat 15,97%, didorong pembayaran gaji ke-13 serta kenaikan belanja pegawai, barang, dan jasa. Di sisi lain, ekspor hanya tumbuh 4,13%, sedangkan impor melesat 8,82%.
Kondisi ini menunjukkan mesin ekonomi domestik masih berjalan. Namun, pertumbuhan impor yang lebih tinggi daripada ekspor membuat perdagangan luar negeri belum banyak membantu pertumbuhan.
Bagaimana dengan per Kapita?
Untuk melihat perkembangan ekonomi dari sisi penduduk, indikator yang bisa digunakan adalah PDB per kapita.
Data tahunan terbaru menunjukkan PDB per kapita Indonesia mencapai Rp83,7 juta atau sekitar US$5.083 pada 2025. Angkanya meningkat dibandingkan 2024 yang sebesar Rp78,6 juta atau US$4.960.
Secara nominal, PDB per kapita dalam rupiah naik sekitar 6,5%. Namun, angka ini tidak berarti setiap penduduk Indonesia memiliki pendapatan Rp83,7 juta per tahun.
PDB per kapita hanya membagi nilai ekonomi nasional dengan jumlah penduduk. Indikator ini belum memperlihatkan bagaimana pendapatan dibagikan maupun seberapa besar kenaikan biaya hidup yang dirasakan masyarakat.
Karena itu, kenaikan PDB per kapita tetap perlu dibaca bersama data kemiskinan, ketimpangan, lapangan kerja, dan konsumsi masyarakat.
2. Inflasi Kembali Naik
Memasuki kuartal terakhir 2026, tekanan harga mulai meningkat.
BPS mencatat inflasi Indonesia mencapai 3,28% secara tahunan pada September 2026. Angkanya naik dari 3,19% pada Agustus dan 2,88% pada Juli. Meski meningkat, inflasi masih berada dalam sasaran Bank Indonesia sebesar 2,5% plus minus 1%.
Secara bulanan, harga barang dan jasa naik 0,30%. Sementara inflasi sejak awal tahun hingga September tercatat sebesar 2,17%.
Kenaikan harga kembali terasa pada sejumlah kebutuhan sehari-hari, terutama pangan. Harga cabai, beras, telur, dan daging ayam menjadi beberapa komoditas yang ikut mendorong inflasi bulanan.
Inflasi yang masih berada dalam sasaran tentu belum mengkhawatirkan. Namun, posisinya sudah semakin dekat dengan batas atas target BI sebesar 3,5%.
Jika harga pangan dan energi terus naik, ruang bagi Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga juga bisa menjadi semakin terbatas.
3. Keyakinan Konsumen Mulai Pulih
Kabar yang cukup baik datang dari Indeks Keyakinan Konsumen (IKK).
Survei Konsumen Bank Indonesia menunjukkan IKK naik dari 116,8 pada Juli menjadi 118,5 pada Agustus 2026. Angkanya masih berada di atas 100, yang menunjukkan masyarakat tetap optimistis melihat kondisi ekonomi.
Penilaian masyarakat terhadap kondisi ekonomi saat ini juga membaik. Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini meningkat dari 107,9 menjadi 109,4.
Sementara itu, Indeks Ekspektasi Konsumen naik dari 125,7 menjadi 127,6. Kenaikan tersebut menunjukkan masyarakat sedikit lebih yakin terhadap penghasilan, peluang kerja, dan kegiatan usaha dalam beberapa bulan ke depan.
Meski demikian, perbaikannya masih perlu dilihat dalam beberapa bulan berikutnya. Kepercayaan konsumen bisa kembali berubah jika harga kebutuhan naik atau pasar tenaga kerja memburuk.
4. Penjualan Eceran Kembali Tumbuh
Pemulihan juga terlihat dari penjualan eceran.
Indeks Penjualan Riil tumbuh 1,1% secara tahunan pada Juli 2026. Hasil ini membaik setelah penjualan eceran terkontraksi 3% pada Juni dan 3,9% pada Mei.
Bank Indonesia memperkirakan penjualan eceran masih tumbuh 0,5% pada Agustus. Pertumbuhan terutama ditopang oleh penjualan suku cadang dan aksesori serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau.
Kembalinya penjualan eceran ke zona positif memberikan sinyal bahwa belanja masyarakat mulai pulih setelah sempat melemah pada pertengahan tahun.
Namun, pertumbuhannya masih tipis. Kondisi tersebut menunjukkan konsumen tetap berbelanja, tetapi belum cukup berani untuk meningkatkan pengeluaran secara besar-besaran.
5. Neraca Perdagangan Kembali Surplus Besar
Kinerja perdagangan Indonesia membaik cukup tajam pada Agustus 2026.
BPS mencatat neraca perdagangan surplus US$3,55 miliar. Nilainya melonjak dibandingkan surplus tipis US$122 juta pada Juli dan menjadi surplus bulanan terbesar sejak September 2025.
Ekspor mencapai US$26,61 miliar atau tumbuh 6,72% secara tahunan. Sementara impor tercatat US$23,06 miliar dan meningkat jauh lebih tinggi sebesar 19,09%.
Sepanjang Januari-Agustus 2026, Indonesia masih membukukan surplus perdagangan US$7,25 miliar. Surplus tersebut berasal dari perdagangan nonmigas sebesar US$28,54 miliar, tetapi tergerus defisit migas yang mencapai US$21,29 miliar.
Ekspor logam ikut menopang perbaikan, termasuk nikel, besi dan baja, serta aluminium. Namun, pertumbuhan impor yang jauh lebih tinggi daripada ekspor tetap perlu diperhatikan.
Selain itu, neraca transaksi berjalan pada kuartal kedua mengalami defisit US$12,5 miliar atau setara 3,3% terhadap PDB. Defisit yang melebar menunjukkan kebutuhan valuta asing Indonesia masih cukup besar meskipun neraca perdagangan barang kembali surplus.
6. Rupiah Masih Tertekan
Memasuki Oktober, rupiah belum mampu keluar dari tekanan. Merujuk data Refinitiv, rupiah dibuka melemah ke posisi Rp17.885/US$ pada perdagangan Kamis (1/10/2026). Dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp16.670/US$, mata uang Garuda telah melemah sekitar 7,3%.
Pelemahan rupiah dipengaruhi oleh penguatan dolar AS, tingginya kebutuhan valuta asing untuk impor, ketidakpastian pasar global, serta kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan transaksi berjalan Indonesia.
Kondisi ini perlu diperhatikan karena sekitar 70% impor Indonesia berupa bahan baku dan bahan penolong. Ketika dolar semakin mahal, biaya yang harus dibayar perusahaan untuk mengimpor bahan produksi ikut meningkat.
Jika kenaikan biaya tersebut diteruskan kepada konsumen, harga barang di dalam negeri bisa ikut naik. Namun, jika perusahaan memilih menahannya, keuntungan perusahaan berpotensi berkurang.
7. Jumlah PHK Justru Meningkat
Di tengah perbaikan sejumlah indikator, kondisi pasar tenaga kerja masih menyimpan tekanan.
Kementerian Ketenagakerjaan mencatat 53.490 pekerja melaporkan terkena PHK melalui sistem Jaminan Kehilangan Pekerjaan sepanjang Januari-Agustus 2026.
Jumlah tersebut naik 20,65% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebanyak 44.333 pekerja. Jawa Barat mencatat angka tertinggi dengan 10.880 pekerja, disusul Banten 6.303 orang dan Jawa Timur 5.400 orang.
Data tersebut belum menggambarkan seluruh kasus PHK di Indonesia karena hanya mencakup pekerja yang tercatat dalam sistem JKP. Angkanya juga masih dapat berubah karena pekerja memiliki waktu hingga enam bulan untuk mengajukan klaim.
Secara lebih luas, jumlah penduduk bekerja masih bertambah. Per Februari 2026, jumlah orang yang bekerja naik 1,90 juta menjadi 147,67 juta. Tingkat Pengangguran Terbuka juga turun dari 4,76% menjadi 4,68%.
Perbedaan tersebut menunjukkan lapangan kerja baru masih tercipta, tetapi pada saat yang sama cukup banyak pekerja formal yang kehilangan pekerjaan. Tekanan terutama terasa di kawasan industri dan sektor padat karya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Leave a comment