Jakarta, CNBC Indonesia – Gangguan sinyal GPS pada pesawat menjadi salah satu tantangan yang dihadapi industri penerbangan. Gangguan ini tidak hanya terjadi di wilayah konflik, tetapi dapat ikut terbawa hingga pesawat memasuki ruang udara negara tujuan.
Direktur Keamanan, Keselamatan dan Standardisasi AirNav Indonesia Nurtjahjo Utomo mengatakan sejumlah pesawat yang datang dari kawasan Timur Tengah sempat mengalami gangguan GPS setelah pecahnya konflik Amerika Serikat-Iran.
“Awalnya adalah kejadian setelah mulai perang Amerika-Iran, ini banyak pesawat yang datang dari arah Timur Tengah, setelah mereka mengalami gangguan GPS di sekitar Timur Tengah, ternyata GPS-nya masih terus belum bisa normal sampai mendarat di Jakarta,” kata Nurtjahjo dalam Lokakarya Forum Wartawan Perhubungan (Forwahub) di Bandung, Jumat (2/10/26).
Kondisi tersebut membuat sejumlah penerbangan tidak dapat menggunakan prosedur RNP approach yang mengandalkan navigasi satelit. Pesawat kemudian harus menggunakan alternatif navigasi yang tersedia untuk memastikan proses penerbangan dan pendaratan tetap berjalan.
“Sehingga mereka minta kembali ke penerbangan konvensional, jadi pakai ILS approach. Nah ternyata setelah itu gangguan juga terjadi di sekitar wilayah udara Jakarta,” ujarnya.
Airnav Indonesia memastikan kesiapan penuh layanan navigasi penerbangan di wilayah timur Indonesia, melalui cabang Ambon, dalam rangka mendukung kelancaran dan keselamatan masa angkutan Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Foto: Dokumentasi Airnav
|
Berbeda dengan RNP approach yang mengandalkan navigasi satelit untuk memandu pesawat menuju bandara, ILS approach menggunakan panduan sinyal radio dari peralatan di darat untuk membantu pesawat melakukan pendaratan. Namun gangguan serupa kemudian tercatat di sekitar ruang udara Jakarta. AirNav tidak dapat memastikan sumber gangguan tersebut, tetapi tetap mencatat kejadian dan melakukan penyesuaian terhadap pelayanan navigasi penerbangan.
Nurtjahjo menegaskan gangguan sinyal GPS tidak berarti pesawat kehilangan seluruh kemampuan navigasinya. Sistem navigasi berbasis darat masih dapat digunakan sebagai alternatif ketika sistem berbasis satelit mengalami gangguan.
“Ini kami juga tidak mengetahui sumbernya dari mana, tetapi kita hanya bisa mencatat dan kita kembali bahwa karena gangguan terhadap GPS, maka penerbangan-penerbangan ini adalah kembali menggunakan metode penerbangan yang konvensional, artinya berbasis dengan panduan alat navigasi di darat, AVOR, ILS, dan lain-lain,” kata Nurtjahjo.
Dengan mekanisme tersebut, aspek keselamatan penerbangan tetap dapat dijaga. Namun, perubahan prosedur navigasi membawa konsekuensi pada pengaturan lalu lintas udara, terutama ketika jumlah penerbangan yang harus dilayani cukup padat.
“Sehingga secara keselamatan tidak terganggu, namun demikian akhirnya beberapa penerbangan antreannya juga menjadi lebih panjang. Jadi gangguannya lebih kepada pengaturan lalu lintas penerbangannya saja, tetapi tidak mengganggu terhadap keselamatan,” ujar Nurtjahjo.
(fys/wur)

Leave a comment