Home Finance Air dari Data Center Simpan Ancaman Biosida, Ini Penjelasannya
Finance

Air dari Data Center Simpan Ancaman Biosida, Ini Penjelasannya

Share
Air dari Data Center Simpan Ancaman Biosida, Ini Penjelasannya
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Beberapa waktu terakhir, banyak data center yang terkena masalah. Termasuk di Indonesia, data center AI buatan BDX dihentikan sementara pembangunannya karena belum memenuhi persyaratan termasuk terkait AMDAL dan persetujuan bangunan gedung (PBG).

Bukan hanya itu, data center juga memiliki banyak masalah. Misalnya soal penggunaan air yang menjadi sumber daya penting sebagai pendingin.

Banyak pusat data yang bergantung pada air untuk menyerap panas. Meski begitu penggunaan memang tak sebanyak industri lain seperti pertanian dan sejumlah manufaktur.

Mengutip Knowable Magazine, pada 2023 diperkirakan penggunaan air untuk sistem pendingin pusat data mencapai 66 militer air.

Begitu juga dengan penggunaan AI yang mengonsumsi banyak air. Google pernah memperkirakan lima tetes air dihabiskan untuk memproses kueri dengan panjang rata-rata pada Gemini.

Perkembangan penggunaan air juga bisa terjadi mengingat penggunaan AI yang terus bertambah. Pusat data AS tercatat bisa mengonsumsi 731 miliar hingga 1.125 miliar liter air setiap tahunnya atau setara pasokan air minum kota New York per tahun, ungkap data dari tim penelitian Cornell University yang dipimpin oleh Fengqi You

You juga menyarankan menempatkan data center yang memiliki sumber energi terbarukan yang melimpah dan tidak rentan pada kekeringan. Dilaporkan penempatan lokasi yang strategis dan penerapan langkah lainnya dapat mengurangi jejak air AI hingga 86%.

Biosida di dalam air

Bukan hanya penggunaan, pusat data bisa mencemari air dengan limpasan kimia dari sistem pendingin. Salah satunya melalui biosida yang umum pada sistem air pusat data.

Biasanya penumpukan organik terjadi karena sistem pendingin evaporatif membuat data center menjadi lebih hangat dan lembap. Biosida digunakan untuk menghindari hal itu.

Bahan kimia tersebut, biasanya seperti klorin dioksida atau bromin, digunakan untuk menjaga kebersihan dan efisiensi sistem.

Data Center Knowledge mencatat polutan air dalam jumlah kecil tidak akan menjadi masalah. Misalnya klrin dioksida biasa digunakan pula dalam pengolahan air minum.

Namun penggunaan air dalam jumlah besar di pusat data bisa menjadi skenario lainnya. Tercatat satu data center bisa menggunakan 5 juta galon air per hari atau penggunaan air harian pada lebih dari 15 ribu rumah.

Dengan skala sebesar itu, kotoran kecil bisa menumpuk. Pada akhirnya merusak lingkungan secara signifikan.

Masalah ini juga makin parah saat pihak data center tidak membuang air limbah ke sistem pembuangan air limbah umum. Biasanya ditemukan akan mengalirkannya langsung ke danau, sungai, atau akuifer air tanah di dekat bangunan. Dengan begitu membuat polutan bisa masuk ke dalam ekosistem tanpa terkendali.

(dem/dem)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *