Home Finance Harga Ayam di Peternak Turun, Warga Beli Mahal
Finance

Harga Ayam di Peternak Turun, Warga Beli Mahal

Share
Harga Ayam di Peternak Turun, Warga Beli Mahal
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Harga daging ayam ras menunjukkan kondisi yang berbeda antara tingkat peternak dan konsumen. Di tingkat produsen, harga justru terus turun hingga berada di bawah harga acuan pemerintah. Namun, harga yang dibayar konsumen masih berada di atas Harga Acuan Penjualan (HAP).

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata harga daging ayam ras pada minggu pertama Oktober 2026 turun 0,52% dibandingkan September 2026. Meski demikian, harganya masih berada di atas HAP konsumen.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan, harga daging ayam ras masih menjadi perhatian pemerintah lantaran kenaikan harga terjadi di banyak daerah. Tercatat ada 217 kabupaten/kota yang mengalami peningkatan Indeks Perkembangan Harga (IPH) daging ayam ras.

Dalam paparannya saat Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (5/10/2026), rata-rata harga daging ayam ras di tingkat konsumen pada minggu pertama Oktober mencapai sekitar Rp40.501 per kg, atau masih 0,33% di atas HAP konsumen sebesar Rp40.000 per kg.

Kondisi berbeda terjadi di tingkat produsen. Data Kementerian Pertanian menunjukkan harga daging ayam ras di tingkat produsen pada periode yang sama berada di sekitar Rp23.458 per kg, turun 3,27% dibandingkan minggu sebelumnya dan sudah 6,17% di bawah HAP produsen sebesar Rp25.000 per kg.

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementerian Pertanian (Kementan) Makmun, mengatakan tren penurunan harga di tingkat produsen memang sudah terjadi. Namun, persoalan masih terlihat di tingkat konsumen.

“Kalau kita lihat daging ayam, sesungguhnya kalau di produsen juga sudah turun, yaitu turun sebesar 0,33% atau harganya di produsennya Rp23.458 (per kg). Artinya masih ada di bawah HAP 6,17%. Sedangkan di konsumen memang masih di atas HAP, di beberapa daerah ada yang di atas HAP,” ujar Makmun dalam kesempatan yang sama.

Menurut dia, kondisi harga di tingkat produsen sejauh ini masih relatif terjaga dalam rentang HAP. Pemerintah justru perlu melihat persoalan harga di tingkat konsumen, termasuk distribusi antardaerah.

“Kalau di produsen ini, sepanjang kemarin-kemarin juga tidak ada masalah, teman-teman menjaga di range HAP. Hanya memang di konsumen ini mohon juga bantuan nanti ada dari teman-teman Kemendag, ini yang masih di atas HAP-nya,” lanjut dia.

Kendati demikian, Peternak Rakyat Mandiri Indonesia (Permindo) di saat yang sama mengeluh terjadi tekanan biaya produksi. Para peternak ayam broiler mandiri mengeluhkan kenaikan harga pakan dan DOC yang membuat Harga Pokok Produksi (HPP) meningkat, sementara harga jual ayam hidup atau live bird di tingkat kandang justru turun.

Anggota Permindo Asep Saepudin menyebut HPP ayam broiler saat ini telah mencapai sekitar Rp23.000-Rp23.500 per kg. Sementara harga live bird di tingkat kandang hanya sekitar Rp21.000-Rp22.000 per kg. Kondisi ini membuat peternak berpotensi mengalami kerugian hingga sekitar Rp2.000 per kg.

“Kondisinya sekarang harga pakan rata-rata sudah di atas Rp9.400 per kg untuk starter umur 7-21 hari. Normalnya sekitar Rp 8.000-8.500 per kg. Harga live bird sudah turun per hari ini Rp21.000-22.000 per kg di kandang ya. HPP kami sudah Rp23.000 per kg. Pusing kami,” ujar Asep dalam keterangannya.

Kenaikan biaya produksi tersebut terutama berasal dari harga pakan dan DOC. Harga pakan starter disebut sudah di atas Rp9.400 per kg dari kondisi normal Rp8.000-Rp8.500 per kg. Sementara harga DOC naik ke sekitar Rp7.500-Rp8.500 per ekor dari sebelumnya sekitar Rp6.000 per ekor.

Di sisi lain, peternak juga menghadapi kondisi pasokan yang berlebih sehingga posisi tawar di tingkat kandang semakin tertekan.

“Penyerapan masih stabil, tetapi stok sedang berlebih sehingga hampir di semua wilayah banyak pilihan. Kondisi ini dimanfaatkan pembeli untuk menekan harga,” tuturnya.

Harga Ayam Berbeda Antarwilayah

Sementara itu, Makmun mengatakan ketimpangan harga juga terlihat di sejumlah wilayah di Pulau Jawa yang merupakan sentra produksi ayam.

Di Jawa Barat, harga ayam di tingkat produsen berada di sekitar Rp22.500 per kg, sementara harga konsumen rata-rata Rp39.858 per kg. Adapun di Jawa Tengah, harga produsen berada di Rp22.000 per kg, sedangkan harga konsumen mencapai Rp40.056 per kg.

Sementara di Jawa Timur, harga produsen berada di sekitar Rp23.000/kg dengan harga konsumen rata-rata Rp39.388/kg.

Makmun mengatakan, Jawa Tengah menjadi salah satu barometer harga ayam karena merupakan sentra produksi dan pasokannya didistribusikan ke berbagai wilayah.

“Dan barometer harga ayam memang di Jawa Tengah. Jadi yang lain biasanya selisihnya Rp500, karena biasanya ditransportasikan dari Jawa Tengah ke berbagai provinsi di Pulau Jawa ini,” jelasnya.

Menurut Makmun, kondisi di Pulau Jawa yang sebelumnya sempat mengalami tekanan harga kini mulai melandai. Namun, persoalan masih terlihat pada wilayah yang tidak menjadi sentra produksi.

“Ini di Jawa kemarin agak tinggi sekarang sudah melandai begitu. Jadi kita sama-sama, alhamdulillah ini sudah masuk ke area HAP,” kata Makmun.

Pemerintah pun menyiapkan solusi jangka panjang untuk mengatasi ketimpangan pasokan tersebut. Makmun mengatakan program hilirisasi ayam terintegrasi yang disiapkan pemerintah ditargetkan mulai terbangun pada Juli 2027.

“Sambil pemerintah yang sedang menyiapkan program ini dari Berdikari juga sudah mulai ke tahap konstruksi. Insyaallah targetnya Juli 2027 sudah terbangun yang hilirisasi ayam terintegrasi sebagai solusi jangka panjang, kalau solusi permanen dari kondisi gap antarwilayah ini,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, struktur biaya produksi ayam juga masih sangat dipengaruhi harga pakan. Dalam paparannya, Makmun menyebut bahan pakan menyumbang sekitar 85% dari struktur pembentuk harga pakan, sedangkan 15% lainnya berasal dari biaya operasional.

Untuk pakan broiler, jagung memiliki porsi sekitar 45%, sementara soybean meal (SBM) sekitar 25%. Kementan juga mencatat sebagian bahan baku pakan masih berasal dari impor.

Makmun mengatakan, kenaikan harga jagung pada periode tertentu turut meningkatkan biaya produksi peternak. Namun, menurutnya, kondisi harga jual di tingkat produsen saat ini masih berada di bawah HAP.

(dce)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *