Home Finance Kerap Digoyang Protes, Ini 10 Aksi Demo Terbesar di Prancis Sejak 1944
Finance

Kerap Digoyang Protes, Ini 10 Aksi Demo Terbesar di Prancis Sejak 1944

Share
Kerap Digoyang Protes, Ini 10 Aksi Demo Terbesar di Prancis Sejak 1944
Share


Jakarta, CNBC Indonesia –  Prancis  memiliki dua wajah yang sangat kontras: negara yang memikat wisatawan dan dianggap romantis tapi juga panggung bagi massa demonstrasi yang berulang kali melibatkan jutaan orang dan sering berujung rusuh.

Demonstrasi atau unjuk rasa merupakan aksi kolektif yang dilakukan sekelompok orang untuk menyampaikan tuntutan, penolakan, dukungan, atau sikap terhadap suatu isu. Jalanan ibu kota Prancis berkali-kali dipenuhi massa dalam jumlah besar.

Terbaru, Paris diguncang demo besar mahasiswa.

Demonstrasi pelajar di Prancis awalnya dipicu tuntutan peningkatan anggaran sekolah negeri dan perbaikan kualitas pendidikan. Namun, aksi yang berlangsung sejak akhir September 2026 tersebut berkembang menjadi bentrokan dengan aparat.

Situasi memanas di Lens setelah polisi membubarkan blokade siswa, dengan seorang pelajar berusia 15 tahun mengalami cedera parah pada tangannya akibat perangkat pengendali massa. Insiden itu kini memicu penyelidikan sekaligus perdebatan mengenai penggunaan kekuatan polisi dalam menangani demonstrasi pelajar.




Aksi protes pelajar Prancis selama beberapa hari terakhir yang disertai kerusuhan besar turut memicu perselisihan sengit di kancah politik, Selasa (6/10/2026). (REUTERS/Yves Herman)Aksi protes pelajar Prancis selama beberapa hari terakhir yang disertai kerusuhan besar turut memicu perselisihan sengit di kancah politik, Selasa (6/10/2026). (REUTERS/Yves Herman) Foto: Aksi protes pelajar Prancis selama beberapa hari terakhir yang disertai kerusuhan besar turut memicu perselisihan sengit di kancah politik, Selasa (6/10/2026). (REUTERS/Yves Herman)

Fenomena tersebut bukan sesuatu yang baru. Paris menjadi saksi dari sejumlah aksi dengan peserta mencapai ratusan ribu hingga jutaan orang sejak berakhirnya Perang Dunia II.

Besarnya massa juga menunjukkan bahwa demonstrasi di Prancis tidak selalu berkaitan dengan persoalan ketenagakerjaan. Ada pula aksi yang dipicu isu pendidikan, kebijakan sosial, persoalan politik, tragedi nasional, hingga momen olahraga.



Salah satu yang terbesar terjadi pada 11 Januari 2015, ketika sekitar 3 juta orang turun ke jalan dalam Marche Républicaine, atau pawai republik, untuk memberikan penghormatan kepada 17 korban serangkaian serangan teror di Prancis. Jumlah tersebut menjadikan aksi itu salah satu demonstrasi terbesar dalam sejarah modern Prancis.

Adapun, demonstrasi pada 24 Maret 2013 mengenai rancangan undang-undang pernikahan sesama jenis mempertemukan antara 300.000 peserta menurut kepolisian dan 1,4 juta menurut penyelenggara.

 

Namun, demonstrasi besar bukan selalu berarti protes terhadap pemerintah. Pada 12 Juli 1998, lebih dari 1,5 juta orang memenuhi Champs-Élysées untuk merayakan kemenangan Prancis di Piala Dunia.

Variasi tersebut memperlihatkan bahwa aksi massa telah menjadi bagian dari kehidupan publik Prancis.

Jalanan dapat berubah menjadi ruang untuk menekan pemerintah, menyampaikan tuntutan kelompok tertentu, menunjukkan solidaritas, maupun merayakan sebuah peristiwa nasional.

Kenapa Warga Prancis Sering Demo?

Akar budaya aksi massa di Prancis dapat ditelusuri jauh sebelum demonstrasi modern di Paris. Salah satu tonggaknya adalah pemberontakan pekerja sutra atau canuts di Lyon pada 1831.

Ribuan pekerja menuntut harga minimum untuk kain sutra mereka setelah harga jatuh. Mereka kemudian menghentikan pekerjaan, membangun barikade, dan sempat menguasai sejumlah bagian kota selama tiga hari. Peristiwa tersebut kemudian dikenang sebagai salah satu tonggak lahirnya mogok modern di Prancis.

 

Perubahan struktur ekonomi turut membuat aksi kolektif semakin efektif.

Besarnya demonstrasi di Prancis juga tidak bisa dijelaskan hanya dari banyaknya anggota serikat pekerja. Data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) menunjukkan kepadatan serikat pekerja di Prancis relatif rendah, yakni sekitar 10,8% pekerja pada 2016.

Namun, cakupan perundingan bersama mencapai 98% pekerja pada 2018. Sistem tersebut membuat hasil perundingan antara serikat pekerja dan pemberi kerja dapat mencakup jauh lebih banyak pekerja daripada jumlah anggota serikat itu sendiri.

Sejarah juga membuat aksi kolektif memiliki tempat khusus dalam kehidupan sipil Prancis. Offbeat France mencatat bahwa tuntutan pekerja dari waktu ke waktu tidak hanya berkaitan dengan upah, tetapi juga jam kerja, kondisi kerja, dan perlindungan sosial. Gerakan buruh pada 1936, misalnya, ikut mendorong lahirnya cuti berbayar dan perundingan bersama.

Karena itu, demonstrasi di Prancis tidak selalu berarti masyarakatnya lebih mudah melakukan protes dibandingkan negara lain.

Aksi turun ke jalan telah menjadi salah satu mekanisme historis masyarakat untuk menyampaikan unjuk rasa secara kolektif. Dari pemberontakan pekerja sutra di Lyon pada abad ke-19 hingga demonstrasi yang melibatkan jutaan orang di Paris.

Isunya berubah mengikuti zaman, tetapi logika dengan mengubahnya menjadi aksi kolektif masih tetap ada.

 

(mae/mae)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *