
Jakarta, CNBC Indonesia – Ledakan kecerdasan buatan (AI), komputasi awan (cloud computing), dan layanan digital mendorong pembangunan pusat data (data center) secara masif. Di balik kebutuhan listrik yang besar, terdapat sumber daya lain yang kini menjadi perhatian dunia, yakni air.
International Energy Agency (IEA) memperkirakan konsumsi listrik pusat data global mencapai 415 terawatt hour (TWh) pada 2024 dan akan meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi 945 TWh pada 2030.
Ekspansi serupa terjadi di Indonesia. Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mencatat terdapat 185 pusat data dengan kapasitas sekitar 274 megawatt (MW) pada Mei 2026. Pemerintah menargetkan kapasitas tersebut melampaui 2.000 MW pada 2029.
Pertumbuhan ini turut meningkatkan kebutuhan air, terutama untuk mendinginkan server yang menghasilkan panas selama beroperasi.
Pada sistem cooling tower, air digunakan untuk menyerap panas sebelum sebagian menguap ke atmosfer. Air baru kemudian dibutuhkan untuk menggantikan air yang menguap maupun dibuang selama proses pendinginan.
Jutaan Liter Air Setiap Hari
Environmental and Energy Study Institute (EESI) memperkirakan pusat data berukuran menengah dapat menggunakan sekitar 110 juta galon atau 416 juta liter air per tahun untuk pendinginan.
Pada fasilitas berskala sangat besar, kebutuhan air dapat mencapai 5 juta galon atau sekitar 18,9 juta liter per hari, bergantung pada ukuran, iklim, serta teknologi pendinginannya.
Besarnya konsumsi membuat efisiensi air menjadi perhatian industri. Salah satu indikatornya adalah Water Usage Effectiveness (WUE), yang mengukur jumlah liter air per kilowatt hour (kWh) energi peralatan IT. Semakin rendah WUE, semakin efisien penggunaan air.
Teknologi Pendinginan Mulai Berubah
Untuk mengurangi ketergantungan terhadap air, operator pusat data mulai beralih ke sistem pendinginan tertutup, teknologi berbasis udara, serta sumber air alternatif.
Salah satu pendekatan yang berkembang adalah direct-to-chip liquid cooling dengan closed loop. Cairan menyerap panas langsung dari chip dan kemudian didinginkan kembali tanpa harus terus-menerus menggunakan air baru.
Meski demikian, liquid cooling tidak otomatis bebas penggunaan air. Jika pelepasan panas masih menggunakan cooling tower evaporatif, air tetap diperlukan.
Microsoft memperkirakan desain pusat data terbarunya yang menggunakan pendinginan tanpa evaporasi dapat menghindari penggunaan lebih dari 125 juta liter air per tahun untuk setiap fasilitas dibandingkan desain sebelumnya.
Raksasa Teknologi Dunia Berlomba Menghemat Air
Sejumlah perusahaan teknologi telah menerapkan strategi penghematan air dengan pendekatan berbeda.
Strateginya tidak hanya menghemat volume air, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada air bersih yang dibutuhkan masyarakat.
Google, misalnya, memanfaatkan air laut dari Teluk Finlandia untuk mendinginkan pusat datanya di Hamina, Finlandia. Sistem tersebut mengurangi ketergantungan pada air tawar dengan menggunakan air laut sebagai media pendinginan, tanpa harus melalui proses desalinasi.
Bagaimana Dengan Indonesia?
Di Indonesia, pembahasan keberlanjutan pusat data selama ini lebih banyak berfokus pada kebutuhan energi dan emisi karbon. Namun, seiring pesatnya pembangunan pusat data, efisiensi penggunaan air mulai mendapat perhatian.
Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) telah memasukkan Water Usage Effectiveness (WUE) sebagai salah satu indikator lingkungan dalam Green Data Center White Paper. Organisasi tersebut juga mendorong transparansi konsumsi air, sumber pasokan, serta penggunaan kembali air oleh operator pusat data.
Sejumlah inisiatif mulai diterapkan. Amazon Web Services (AWS), misalnya, bekerja sama dengan pengelola Greenland International Industrial Center (GIIC) di Jawa Barat untuk memanfaatkan air limbah yang telah diolah kembali (reclaimed water) sebagai sumber air pendinginan. Langkah ini bertujuan mengurangi ketergantungan pada pasokan air bersih.
Sementara itu, BP Batam mendorong pengembang pusat data berskala besar membangun fasilitas desalinasi air laut atau seawater reverse osmosis (SWRO) secara mandiri. Tujuannya agar kebutuhan air industri tidak mengganggu pasokan air waduk yang digunakan masyarakat.
Dengan target kapasitas pusat data nasional melampaui 2 GW pada 2029, pengelolaan air akan menjadi aspek penting dalam pengembangan infrastruktur digital. Penggunaan teknologi pendinginan hemat air, pemanfaatan sumber air alternatif, dan transparansi konsumsi diperlukan agar ekspansi industri tidak meningkatkan tekanan terhadap sumber daya air masyarakat.
(slm/slm)
Leave a comment