Home Finance Prancis Terancam Krisis Utang, Peraih Nobel Ekonomi Buka Suara
Finance

Prancis Terancam Krisis Utang, Peraih Nobel Ekonomi Buka Suara

Share
Prancis Terancam Krisis Utang, Peraih Nobel Ekonomi Buka Suara
Share



Daftar Isi



Jakarta, CNBC Indonesia – Prancis dinilai menghadapi potensi krisis utang dan mungkin sudah menjadi “terlalu besar untuk diselamatkan” (too big to save) oleh Bank Sentral Eropa (ECB). Peringatan itu disampaikan ekonom peraih Hadiah Nobel, Paul Krugman.

Dikutip dari CNBC International, Krugman menulis dalam unggahan blog Substack-nya pada Kamis (8/10/2026) bahwa Prancis berada di “jalur fiskal yang tidak berkelanjutan”. Bunga utang pemerintah terus membengkak, sementara defisit anggaran yang besar memperburuk rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) yang sudah tinggi.

Menurut Krugman, salah satu persoalan utamanya adalah kegagalan Prancis membenahi usia pensiun yang relatif rendah di tengah populasi yang menua.

Imbal hasil (yield) obligasi pemerintah Prancis bertenor 10 tahun pun telah menyentuh level tertinggi sejak 2002.

Bayang-bayang Krisis Utang Eropa

Krugman mengingatkan bahwa ketergantungan Prancis pada euro membuat hilangnya kepercayaan pasar bisa dengan mudah berubah menjadi krisis yang buruk.

“Kita sudah pernah melihat film ini pada 2009-2012, pertama di Yunani, lalu di Portugal, Spanyol, dan Italia,” tulis Krugman, merujuk pada krisis utang negara-negara zona euro yang kala itu memicu intervensi besar-besaran ECB.

Ia menjelaskan pola krisis tersebut. Awalnya, investor berhenti membeli obligasi suatu negara zona euro sehingga muncul kekhawatiran pemerintah akan gagal bayar karena tidak punya cukup dana untuk membayar bunga dan pokok utang. Ketakutan itu memicu pelarian modal yang lebih besar, mendorong kenaikan suku bunga, dan memperdalam lingkaran setan.

Krugman mencatat, janji ECB pada 2012 di bawah Presiden Mario Draghi untuk melakukan “whatever it takes” demi mencegah gagal bayar bisa diterima pasar sebagian besar karena negara-negara Eropa selatan saat itu melakukan pemangkasan belanja besar-besaran.

Sebaliknya, menyelamatkan Prancis dinilai akan “sangat mahal” bagi ECB dan memicu perdebatan politik, selama negara itu justru bergerak “semakin jauh dari tanggung jawab fiskal”.

“Prancis mungkin telah melewati batas dari too big to fail menjadi too big to save. Singkatnya, sangat mudah membayangkan skenario yang benar-benar buruk dari krisis Prancis yang akan sangat memecah belah Eropa,” tulis Krugman.

Anggaran 2027 dan Demo Mahasiswa

Peringatan itu muncul saat Perdana Menteri Prancis Sébastien Lecornu tengah berjuang meloloskan anggaran 2027 yang kontroversial. Anggaran tersebut memuat konsolidasi fiskal senilai puluhan miliar dolar AS. Di saat yang sama, gelombang demonstrasi mahasiswa terkait kurangnya pendanaan pendidikan terus mengguncang negara tersebut.

Trichet: Bola di Tangan Pemerintah

Mantan Presiden ECB Jean-Claude Trichet mendesak para politisi Prancis untuk mencapai kompromi guna menekan defisit ekonomi terbesar kedua di Uni Eropa tersebut.

“Bola ada di tangan pemerintah dan parlemen Prancis, dan mereka punya pekerjaan berat,” kata Trichet, yang memimpin ECB pada 2004-2011, kepada CNBC International, Jumat (9/10/2026).

Trichet menyebut, jika terjadi destabilisasi, instrumen yang tersedia sangat banyak dan terbukti efektif di masa lalu. Instrumen itu antara lain European Stability Mechanism (ESM) dan, pada level paling ekstrem, Transmission Protection Instrument (TPI) milik ECB. TPI difinalisasi pada 2022 dan belum pernah digunakan. Instrumen ini dirancang untuk menjaga stabilitas pasar saat terjadi fragmentasi di zona euro.

Namun, intervensi tersebut mengharuskan pemerintah Prancis meminta bantuan kepada ECB, sesuatu yang menurut pemerintah saat ini belum diperlukan.

Mantan Gubernur Bank Sentral Prancis itu meminta seluruh kekuatan politik di Prancis bersikap bertanggung jawab, di tengah situasi politik yang kompleks menjelang pemilihan presiden.

“Saya meminta mereka seefektif mungkin dalam diskusi dan membuktikan bahwa mereka bisa menghasilkan sesuatu yang kredibel. Itu tentu salah satu syarat untuk mengaktifkan TPI,” ujarnya.

Berkaca dari pengalamannya saat krisis utang Eropa, Trichet menegaskan bahwa sebuah negara harus terlebih dahulu menolong dirinya sendiri.

“Kita tidak bisa menang jika Anda sendiri tidak meyakinkan pelaku pasar, investor, dan penabung bahwa Anda kredibel,” tegasnya.

(fsd/fsd)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *