
Jakarta, CNBC Indonesia – Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) yang menerjang wilayah Sumatra dan Kalimantan hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Padahal, berbagai upaya pemadaman di sejumlah titik terus dilakukan. Bahkan, sebaran titik api (hotspot) kini dilaporkan makin meluas ke pulau lain, termasuk Merauke, Papua.
Dampak buruk dari bencana ini tak hanya dirasakan masyarakat lokal. Kabut asap pekat kini melintas batas negara hingga menyelimuti Malaysia dan Singapura. Akibatnya, kualitas udara di kedua negara tetangga tersebut merosot tajam dan memicu lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Di beberapa negara bagian Malaysia, pemerintah setempat bahkan terpaksa meliburkan sekolah dan menghentikan aktivitas belajar mengajar secara tatap muka.
Pakar Kebakaran Hutan dan Lahan dari Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM), Fiqri Ardiansyah, mengungkapkan fenomena El Nino berdurasi panjang menjadi biang kerok utama yang memperparah Karhutla di tanah air tahun ini. Minimnya intensitas hujan membuat kondisi vegetasi dan lahan, khususnya gambut, berada pada tingkat kerentanan tertinggi.
“Curah hujannya sangat minimum dan ini sudah masuk periode El Nino yang lebih dalam. Curah hujan mendekati nol, sehingga bahan bakar seperti lahan gambut menjadi jauh lebih rentan terbakar,” ujar Fiqri dalam keterangannya, dikutip Kamis (15/10/2026).
Meski demikian, Fiqri menegaskan bahwa kondisi kekeringan tidak bisa berdiri sendiri sebagai pemicu tunggal. Karhutla tetap memerlukan unsur pemicu (ignition) yang berinteraksi dengan bahan bakar dan oksigen.
“Bukan gambutnya yang tiba-tiba memicu kebakaran. Kebakaran terjadi karena interaksi antara ekosistem dan sumber panas. Perbedaan utama antara lahan gambut dan non-gambut terletak pada karakteristik serta perilaku apinya saat terbakar,” jelasnya.
Pada ekosistem non-gambut, api umumnya membakar permukaan hingga ke tajuk tanaman. Namun pada lahan gambut, api tidak hanya membakar bagian atas, tetapi juga menyusup dan membakar lapisan tanah bawah permukaan (subsurface fire). Kondisi ini membuat proses deteksi dan pemadaman jauh lebih rumit karena sumber bara api kerap tak kasatmata.
Risiko utama kebakaran gambut adalah menyisakan bara api di bawah tanah meski api di permukaan sudah tampak padam. Jika pemadaman atau penyiraman air hanya menyentuh lapisan atas, bara di bawah tanah akan tetap bertahan dan berpotensi memicu titik api baru sewaktu-waktu.
“Ciri kebakaran bawah permukaan ini bisa diidentifikasi dari kondisi vegetasi yang mengering, daun menggulung, dan munculnya asap tipis meski tidak terlihat nyala api,” tambah Fiqri.
Di sisi lain, persoalan logistik dan geografis turut menghambat proses pemadaman di lapangan. Banyak titik api berada di lokasi terpencil yang sulit diakses. Kondisi ini makin diperparah oleh keterbatasan pasokan air, jumlah personel, serta sarana penunjang pemadaman di daerah.
Terkait pemantauan, Indonesia sebenarnya telah ditopang oleh teknologi deteksi dini seperti sistem FIRMS, Sipongi, hingga data BMKG. Namun, Fiqri menilai tantangan terbesarnya saat ini berada pada efektivitas metode pemadaman di lapangan, khususnya untuk menjangkau bara di dalam tanah.
“Sejumlah teknologi seperti teknik penyuntikan air ke dalam lapisan gambut (grout injection) dan pemanfaatan bahan isolasi api terus dikembangkan. Namun, strategi ini masih memerlukan penyempurnaan agar api benar-benar padam hingga ke akarnya,” paparnya.
Mengingat kompleksitas dampak Karhutla yang dipengaruhi oleh arah angin dan topografi wilayah, Fiqri menekankan bahwa pemerintah tidak bisa hanya bergantung pada datangnya hujan sebagai solusi instan.
Langkah pencegahan melalui edukasi larangan membuka lahan dengan cara membakar harus terus diperketat. Di saat yang sama, penanganan Karhutla membutuhkan sinergi dan kolaborasi lintas instansi dengan menetapkan wilayah prioritas berdasarkan tingkat risiko ekologis, ekonomi, maupun dampak sosial masyarakat.
(fab/fab)
Leave a comment