Jakarta, CNBC Indonesia – Ancaman krisis pangan kembali membayangi Asia. Fenomena El Niño yang semakin kuat memicu kekeringan di sejumlah negara, sementara lonjakan harga energi dan pupuk akibat konflik Timur Tengah memperbesar tekanan terhadap produksi pertanian.
Dampaknya mulai terlihat di berbagai wilayah.
Di Kamboja, sekitar dua ton ikan mati ditemukan mengapung di sebuah danau pada Mei lalu. Di Indonesia, surutnya permukaan air danau bahkan menyingkap kembali reruntuhan Desa Somang yang telah lama terendam. Sementara itu, Filipina memperingatkan potensi pengurangan pasokan air bagi penduduk Manila.
Mengutip The Economist, fenomena El Niño yang berkembang sejak Mei 2026 diperkirakan mencapai puncaknya menjelang akhir tahun. Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperkirakan fenomena tersebut dapat berlangsung hingga Februari 2027.
Asia menjadi salah satu kawasan tinggi kerentanan pangan karena ratusan juta penduduknya masih bergantung pada sektor pertanian. Ketika curah hujan berkurang, produksi pangan dapat terganggu tepat saat petani menghadapi kenaikan biaya energi dan pupuk.
Kekeringan Meluas, Produksi Pangan Terancam
Sejumlah negara Asia mulai merasakan tekanan terhadap sektor pertanian. India mencatat curah hujan monsun sekitar 13% di bawah normal, menjadikannya musim monsun terkering dalam satu dekade. Padahal, musim tersebut menyumbang hampir 70% curah hujan tahunan India.
Di Filipina, tujuh provinsi telah mengalami kekeringan dan pemerintah memperingatkan kondisi tersebut dapat meluas hingga awal 2027.
Indonesia juga menghadapi risiko serupa. Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) per 13 Oktober 2026, indeks ENSO mencapai +3,08, menandakan El Niño dengan intensitas sangat kuat.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) turut menjadi perhatian. Kementerian Kehutanan mencatat luas karhutla mencapai 202.004 hektare sepanjang Januari-Juli 2026, meningkat 69% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, data indikatif Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga 14 Oktober 2026 menunjukkan sekitar 96.058 hektare lahan terbakar di enam provinsi prioritas, dengan luas terbesar di Kalimantan Barat (38.311 hektare).
Risiko terhadap pertanian juga meningkat. BMKG memperkirakan awal musim hujan mundur pada sekitar 61,08% luas daratan Indonesia, berpotensi mengganggu jadwal tanam dan ketersediaan air irigasi.
Tekanan serupa dirasakan Thailand. Berkurangnya cadangan air membuat pemerintah meminta petani di wilayah tengah tidak menanam padi untuk musim kedua. Bank Krungthai memperkirakan produksi beras Thailand berpotensi turun 18% hingga pertengahan 2027.
Harga Pupuk Naik, Inflasi Pangan Mengintai
Ancaman kekeringan datang ketika petani Asia menghadapi kenaikan biaya produksi akibat konflik Timur Tengah.
Menurut The Economist, Bank Dunia memperkirakan rata-rata harga pupuk sepanjang 2026 meningkat 38% dibandingkan tahun sebelumnya. Gangguan pasokan bahan bakar dan pupuk membuat biaya pertanian meningkat, sementara cuaca kering mengancam hasil panen.
Tekanan tersebut mulai tercermin pada inflasi pangan. Di India, inflasi pangan tahunan meningkat dari 2,1% pada Januari menjadi 6% pada Agustus 2026. Sementara di Sri Lanka, inflasi pangan mencapai 7% pada September.
Inflasi Pangan Melonjak di Sejumlah Negara Asia. Perbandingan rata-rata inflasi harga pangan sepanjang 2025 dengan inflasi tahunan September 2026 atau data terbaru yang tersedia, dalam persen. Foto: Haver Analytics, diolah The Economist. |
Persoalannya bukan hanya harga, tetapi juga ketersediaan pangan. Berdasarkan data Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) yang dikutip The Economist, cadangan beras Bangladesh bahkan kurang dari 4% konsumsi tahunannya.
Artinya, gangguan produksi atau kenaikan harga impor berpotensi lebih sulit diatasi bagi negara dengan cadangan pangan terbatas.
Negara Asia Mana Saja yang Paling Rentan?
Untuk mengukur dampaknya, The Economist menyusun indeks kerentanan terhadap El Niño pada 11 negara berkembang di Asia.
Indeks tersebut mempertimbangkan besarnya eksposur ekonomi terhadap sektor pertanian serta kemampuan pemerintah meredam dampak melalui cadangan pangan, kondisi utang publik, dan jangkauan perlindungan sosial.
Hasilnya, Sri Lanka, Bangladesh, dan Kamboja menjadi negara dengan kerentanan tertinggi. Sebaliknya, Thailand dan Malaysia memiliki ketahanan relatif lebih baik.
Dampaknya berbeda antarnegeri. Di India, risiko terutama mengancam pendapatan petani akibat gangguan panen. Sementara di Filipina dan Bangladesh, konsumen lebih rentan terhadap kenaikan harga pangan.
Risiko juga meluas ke sektor energi. Asian Development Bank (ADB) memperingatkan bahwa kekeringan dapat mengurangi produksi pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Di saat bersamaan, suhu tinggi meningkatkan kebutuhan pendingin ruangan, sehingga penggunaan batu bara berpotensi bertambah dan memperbesar tekanan biaya energi.
Risiko Kemiskinan hingga Tekanan Anggaran
Dampak ekonomi El Niño berpotensi berlangsung lebih lama daripada periode kekeringan.
Sebuah penelitian mengenai El Niño 1997 memperkirakan kerugian ekonomi global mencapai hampir US$6 triliun selama lima tahun berikutnya, dengan Asia menanggung sebagian besar dampaknya.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) juga memperkirakan guncangan harga pangan dan energi tahun ini berpotensi mendorong tambahan 132 juta orang di dunia ke dalam kemiskinan apabila kenaikan harga sepenuhnya dibebankan kepada rumah tangga tanpa perlindungan pemerintah.
Dari jumlah tersebut, sekitar 91 juta orang berada di Asia.
Kondisi ini menjadi tantangan bagi pemerintah dalam menjaga keterjangkauan pangan di tengah keterbatasan ruang fiskal. Subsidi dan bantuan sosial dapat membantu masyarakat, tetapi membutuhkan pembiayaan lebih besar apabila tekanan berlangsung lama.
Bisakah Pemerintah Menjaga Krisis?
Kendati risikonya meningkat, pemerintah masih memiliki kesempatan melakukan langkah antisipasi sebelum El Niño mencapai puncaknya.
India mulai mendorong petani di wilayah kering beralih ke tanaman yang membutuhkan lebih sedikit air, seperti kacang-kacangan. Filipina juga mendistribusikan benih tahan kekeringan.
Selain memperkuat cadangan beras dan irigasi, pemerintah perlu menyiapkan pembiayaan penanggulangan bencana sejak dini.
Salah satu pendekatan yang dinilai efektif adalah anticipatory action, yakni pencairan bantuan berdasarkan indikator peringatan dini, seperti prakiraan curah hujan atau penurunan muka air waduk.
Menurut PBB, setiap US$1 yang dikeluarkan untuk langkah antisipasi berpotensi menghemat hingga US$7 dalam bentuk kerugian dan kebutuhan bantuan setelah bencana.
Namun, pendanaannya masih terbatas. Pada Juni 2026, World Food Programme (WFP) dan Food and Agriculture Organization (FAO) mengajukan kebutuhan US$202 juta untuk melindungi 8,8 juta orang di 22 negara. Hingga periode yang dilaporkan The Economist, pendanaan yang terkumpul baru US$40 juta.
Di Indonesia, kondisi pasokan beras saat ini relatif terjaga. Perum Bulog mencatat stok beras mencapai sekitar 4,48 juta ton per September 2026, sementara produksi padi nasional masih menunjukkan pola musiman dengan puncak panen pada awal tahun.
Meski demikian, El Niño yang menguat menjelang akhir 2026 berisiko mengganggu musim tanam berikutnya. Karena itu, penguatan irigasi, pengelolaan cadangan beras, dan bantuan kepada petani menjadi penting untuk menjaga produksi serta stabilitas harga pangan pada 2027.
Pada akhirnya, keberhasilan menghadapi El Niño bukan hanya ditentukan kemampuan memprediksi kekeringan, tetapi juga seberapa cepat pemerintah bertindak sebelum gangguan produksi berubah menjadi krisis pangan.
(slm/slm)

Leave a comment