
Jakarta, CNBC Indonesia – Ketua Umum DPP Perbarindo Tedy Alamsyah menyebut Industri Bank Perekonomian Rakyat (BPR) dan Bank Perekonomian Rakyat Syariah (BPRS) dihadapkan beberapa tentangan. Tantangan ini meliputi penguatan permodalan dan konsolidasi hingga kualitas tata kelola dan manajemen risiko.
Untuk itu, dia berpesan agar industri BPR-BPRS kembali merekonstruksi dan mendesain dalam meningkatkan peran dan fungsi industri BPR-BPRS. Terutama dalam memaksimalkan layanan masyarakat mikro kecil.
“Selain itu tentunya sejalan hal ini perlunya kesamaan visi-misi, baik dari sisi internal BPR, industri BPR, BPS, dan kesamaan visi-misi dalam hal ini, regulator bagaimana desain roadmap industri ke depan yang sejalan dengan kebutuhan masyarakat, usaha mikro, dan kecil,” ungkap dia dalam Seminar Nasional dan Musyawarah Nasional(MUNAS) XII Perhimpunan Bank Perekonomian Rakyat Indonesia (Perbarindo), Senin (19/10/2026).
Tedy menjelaskan hingga Juli 2026 kinerja industri industri BPR-BPRS menunjukkan tren positif di tengah dinamika perekonomian dan tantangan industri keuangan.
“BPR-BPRS menunjukkan perannya dalam menghimpun dana masyarakat dan menyalurkan pembiayaan khususnya bagi UMKM dan masyarakat di daerah,” terang dia.
Dari sisi aset, BPR tumbuh sebesar 4,25% secara tahunan sementara BPRS secara pertumbuhan yang lebih tinggi yaitu 12%. Sedangkan dari sisi kredit dan pembiayaan BPR secara pertumbuhan sebesar 3,12%, sedangkan BPRS tumbuh sebesar 6,23%.
Lalu pada sisi penyimpanan tabungan, BPR tumbuh sebesar 4,21%, sementara tabungan BPRS tumbuh 10,27%. Untuk deposito BPR tumbuh 2,15% dan deposito BPRS tumbuh 4,58%.
“Data ini memperlihatkan bahwa kepercayaan masyarakat tetap menjadi modal penting bagi keberlangsungan perkembangan industri BPR-BPRS,” pungkas Tedy.
(rah/rah)
Leave a comment