
Jakarta, CNBC Indonesia – Hubungan bilateral antara Republik Indonesia (RI) dan China terus menunjukkan perkembangan yang sangat positif dan saling menguntungkan. Hal ini tecermin kuat dalam perhelatan “Dialog Global Selatan: Forum Meja Bundar China-Indonesia” yang digelar di Jakarta, Senin (19/10/2026).
Chargé d’Affaires Ad Interim Kedutaan Besar Republik Rakyat China untuk Republik Indonesia, Zhou Kan, menyampaikan apresiasi mendalam atas eratnya kemitraan strategis komprehensif kedua negara yang kini telah memasuki tahun ke-11. Ia menyoroti peningkatan rasa saling percaya politik yang terus mendalam di bawah panduan strategis kepala negara masing-masing.
“Presiden Xi Jinping telah mengundang Presiden terpilih Prabowo untuk menghadiri Pertemuan Pemimpin Informal APEC di Shenzhen pada bulan depan, dengan harapan kunjungan ini akan menyuntikkan dorongan kuat yang baru bagi pembangunan komunitas senasib sepenanggungan China-Indonesia,” ungkap Zhou.
Menurutnya, integrasi ekonomi antara kedua raksasa Global South ini juga terus berakselerasi secara nyata. China kini telah kokoh menjadi mitra dagang terbesar Indonesia selama 13 tahun berturut-turut, sekaligus menduduki posisi tiga besar sumber investasi asing bagi Indonesia selama 10 tahun berturut-turut.
“Kita juga gembira melihat pertukaran budaya dan antar-masyarakat yang semakin erat. Pada tujuh bulan pertama tahun ini, jumlah wisatawan China yang berkunjung ke Indonesia telah melebihi 1,11 juta kunjungan,” paparnya.
Dukungan serupa juga diutarakan oleh para tokoh kunci lainnya dalam forum tersebut. Presiden dan Pemimpin Redaksi Global Times, Guan Kejiang, menekankan pentingnya komunikasi yang jujur untuk mengurangi asumsi.
“Kita juga perlu memperbanyak pemahaman, serta memperpendek jarak guna membangun kepercayaan antara negara-negara Global South,” katanya.
Dari pihak Indonesia, Staf Khusus Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Bidang Percepatan Hilirisasi dan Peningkatan Pengusaha Nasional, Noor Sona Maesana Mushonnif, menggarisbawahi bahwa kerja sama ini membuka peluang besar untuk eksplorasi lebih lanjut.
“Kerja sama tersebut telah berkembang dalam pengolahan mineral, rantai pasok baterai kendaraan listrik, dan berbagai kegiatan manufaktur,” tuturnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Kependudukan, dan Ketenagakerjaan Bappenas, Maliki, mengingatkan bahwa esensi pembangunan yang berorientasi pada masyarakat adalah kunci utama.
“Kerja sama Indonesia dan China perlu dirancang untuk bermanfaat lebih besar bagi masyarakat,” pungkas Maliki.
(luc/luc)
Leave a comment