Home Finance IHSG Melesat 3% Lebih, Saham BUMN Kompak Jadi Penopang
Finance

IHSG Melesat 3% Lebih, Saham BUMN Kompak Jadi Penopang

Share
IHSG Melesat 3% Lebih, Saham BUMN Kompak Jadi Penopang
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat lebih dari 3% pada perdagangan sesi pertama. Pada titik tertinggi IHSG lompat 3,15% atau naik 157 poin dari perdagangan kemarin ke level 5.157,47

Kenaikan ini terjadi setelah ramai-ramai emiten di bursa mengumumkan aksi buyback, serta keterangan dari SRO, regulator, pelaku pasar hingga pemerintah yang kompak mau berbenah menyelesaikan permasalahan pasar modal.

Saham-saham berkapitalisasi besar kompak menjadi motor penguatan IHSG pada perdagangan pagi ini. Kinerja positif saham Bank Rakyat Indonesia (BBRI) berkontribusi atas penguatan 22,42 indeks poin, dengan harga saham naik ke level Rp2.690.

Posisi berikutnya ditempati Telkom Indonesia (TLKM) yang menyumbang 20,65 indeks poin ke level Rp1.990. Disusul Bank Mandiri (BMRI) dengan kontribusi 19,43 indeks poin ke Rp3.600, serta Bank Central Asia (BBCA) yang mengerek indeks sebesar 14,66 indeks poin ke Rp4.980.

Selain perbankan dan telekomunikasi, saham Astra International (ASII) turut menopang indeks dengan sumbangan 10,70 indeks poin ke level Rp4.390. Bank Negara Indonesia (BBNI) menyumbang 6,00 indeks poin ke Rp3.140, sementara Barito Renewables Energy (BREN), salah satu emiten yang mengumumkan rencana buyback Rp1 triliun, berkontribusi 3,94 indeks poin ke level Rp1.935.

Dominasi saham bank BUMN dan TLKM dalam jajaran penggerak indeks sejalan dengan pernyataan Danantara yang siap menambah kepemilikan di saham-saham BUMN berfundamental kuat.

Penguatan signifikan IHSG pagi ini tidak lepas dari serangkaian langkah penyelamatan yang dikerahkan otoritas bursa, regulator, pemerintah, hingga emiten secara bersamaan. Kompaknya respons berbagai pihak dalam waktu singkat menjadi sinyal bagi pelaku pasar bahwa tekanan akibat pengumuman MSCI tidak dibiarkan berlarut-larut.

Sentimen pertama datang dari gelombang aksi pembelian kembali saham (buyback) oleh emiten-emiten konglomerat. Setidaknya lima emiten milik Prajogo Pangestu dan Franky Oesman Widjaja menyiapkan dana buyback dengan nilai gabungan sekitar Rp4,5 triliun. Dari kubu Prajogo, PT Barito Pacific Tbk (BRPT), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) masing-masing menganggarkan hingga Rp1 triliun, sedangkan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN) menyiapkan Rp500 miliar. Dari Grup Sinarmas, PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) turut mengalokasikan Rp1 triliun. Aksi ini dinilai mampu menjadi bantalan permintaan di tengah derasnya aksi jual, sekaligus menunjukkan keyakinan manajemen bahwa harga saham sudah berada di bawah nilai fundamentalnya.

Sentimen kedua berasal dari langkah Bursa Efek Indonesia (BEI) memperketat aturan untuk menjawab kekhawatiran MSCI. BEI mengumumkan dua inisiatif baru, yakni menambahkan informasi hubungan afiliasi dalam publikasi pemegang saham di atas 1%, serta mengeluarkan saham-saham berstatus High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG. Bobot saham HSC terhadap IHSG saat ini mencapai 18%. Dengan dikeluarkannya saham-saham tersebut, pergerakan IHSG diharapkan lebih mencerminkan kondisi pasar yang sebenarnya. Langkah ini juga menyasar langsung isu transparansi kepemilikan saham yang selama ini menjadi sorotan MSCI.

Sentimen ketiga datang dari Danantara. Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara Dony Oskaria menegaskan pihaknya siap menambah kepemilikan di saham-saham BUMN yang memiliki fundamental kuat. Pernyataan ini memberi keyakinan bahwa ada pembeli besar yang siap masuk ketika harga saham BUMN, terutama perbankan pelat merah, terdiskon dalam akibat aksi jual beberapa hari terakhir. Tak heran, saham bank BUMN seperti BMRI, BBRI, BBNI, dan BBTN melesat lebih dari 5% pagi ini.

Sentimen keempat datang dari Istana dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Presiden Prabowo Subianto menggelar rapat terbatas yang turut dihadiri Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi. Dalam pertemuan tersebut, Prabowo meminta OJK bertindak tegas terhadap pelanggar di pasar modal, khususnya praktik coordinated trading. OJK menyatakan akan melanjutkan reformasi pasar modal untuk meningkatkan transparansi, likuiditas, dan penegakan aturan, dengan harapan menimbulkan efek jera. Komitmen penegakan hukum ini penting karena MSCI menilai perbaikan yang dilakukan otoritas Indonesia masih perlu dibuktikan dengan implementasi yang konsisten.

Selain itu, kenaikan IHSG juga ditopang faktor teknikal. Setelah anjlok 946 poin atau 15,93% dalam tiga hari perdagangan terakhir, valuasi sejumlah saham berkapitalisasi besar dinilai sudah terlalu murah sehingga memicu aksi beli kembali (bargain hunting) dari investor.

Meski demikian, pelaku pasar masih perlu mencermati keberlanjutan penguatan ini. Proses konsultasi reklasifikasi MSCI masih berlangsung hingga April 2027, dengan keputusan akhir paling lambat diumumkan pada 30 Juni 2027. Artinya, konsistensi pelaksanaan reformasi dan bukti penegakan aturan akan menjadi penentu utama apakah IHSG benar-benar mampu lolos dari badai MSCI.

(fsd/fsd)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *