
Jakarta, CNBC Indonesia – Dolar Singapura menjadi salah satu mata uang yang sedang ramai diperjualbelikan masyarakat Indonesia. Di tengah pelemahan kurs rupiah, masyarakat justru memanfaatkan kesempatan itu untuk menjual dolar Singapura yang mereka miliki.
Fenomena ini terlihat di sejumlah gerai money changer yang ada di Jakarta pada Senin (19/10/2026).
Supervisor PT Daffa Indo Valuta, Aris Permana, mengatakan masyarakat yang datang untuk menjual dolar Singapura saat ini bahkan lebih banyak dibandingkan mereka yang menjual dolar Amerika Serikat (AS).
“Jadi untuk saat ini banyak yang jual itu mata uang Singapura. Dolar Amerika Serikat juga ada yang jual. Namun tidak sebanyak Singapura karena sebetulnya yang signifikan naik itu bukan Amerika dolar, melainkan Singapura,” ujar Aris kepada CNBC Indonesia, Senin (19/10/2026).
Ramainya masyarakat yang menjual dolar Singapura tidak lepas dari pergerakan nilai tukarnya yang semakin mahal terhadap rupiah.
Melansir data Refinitiv, dolar Singapura pada perdagangan Senin (19/10/2026) ditutup di posisi Rp14.084/SGD atau menguat 0,14%. Memang tidak terlalu signifikan penguatannya, akan tetapi jika ditarik sejak awal tahun ini, dolar Singapura telah menguat 8,70% terhadap rupiah.
Bahkan jika dilihat dalam satu tahun, dolar Singapura menguat hingga 10,06%.
Di tahun ini pula, dolar Singapura mencatatkan level terkuatnya terhadap rupiah sepanjang masa. Tepatnya pada 30 Juli 2026, ketika dolar Singapura ditutup menguat ke level Rp14.106/SGD.
Kenaikan kurs SGD tersebut tentu membawa kabar buruk bagi rupiah tetapi jadi kabar baik bagi yang memiliki cadangan dolar Singapura dalam simpanannya.
Sebagai gambaran, seseorang yang memiliki 20.000 dolar Singapura pada akhir 2025 mempunyai aset senilai sekitar Rp259,15 juta berdasarkan kurs pasar saat itu.
Namun saat ini, nilainya meningkat menjadi sekitar Rp281,70 juta.
Ada kenaikan nilai sekitar Rp22,54 juta dalam waktu kurang dari 10 bulan, sebelum memperhitungkan selisih kurs dan biaya penukaran.
Namun, di balik ramainya masyarakat yang menjual mata uang tersebut, ada pertanyaan menarik.
Apa sebenarnya yang membuat dolar Singapura semakin mahal terhadap rupiah? Apakah karena mata uang Singapura sedang menguat, atau justru rupiah yang semakin melemah?
Mengapa Dolar Singapura Semakin Kuat?
Penguatan dolar Singapura terhadap rupiah tidak terjadi begitu saja. Ada beberapa faktor yang memengaruhi pergerakan kedua mata uang tersebut, mulai dari kebijakan bank sentral Singapura hingga kondisi ekonomi dan pasar keuangan Indonesia.
Berbeda dengan Bank Indonesia (BI) yang menggunakan suku bunga sebagai alat utama untuk mengendalikan inflasi, bank sentral Singapura atau Monetary Authority of Singapore (MAS) lebih mengandalkan pengelolaan nilai tukar.
Pada April dan Juli 2026, MAS mempercepat laju penguatan dolar Singapura terhadap sekeranjang mata uang mitra dagangnya.
Kemudian, dalam keputusan terbaru pada 14 Oktober 2026, MAS mempertahankan kebijakan tersebut untuk membantu menahan kenaikan harga barang impor.
Singapura memang memiliki ketergantungan yang cukup besar terhadap barang dari luar negeri. Karena itu, menjaga kekuatan mata uang menjadi salah satu cara untuk membantu mengendalikan harga barang di dalam negeri.
Ketika dolar Singapura menguat, harga barang impor yang dibayar menggunakan mata uang asing tertentu bisa menjadi lebih murah.
Di sisi lain, rupiah memang masih menghadapi tekanan dari kondisi pasar keuangan domestik maupun global.
Ketegangan geopolitik, tingginya harga minyak dunia, serta kekhawatiran investor terhadap pasar saham Indonesia setelah pengumuman MSCI ikut memengaruhi pergerakan rupiah.
Meski pergerakan kurs dipengaruhi berbagai faktor tersebut, kebutuhan dolar Singapura dari masyarakat dan perusahaan Indonesia tetap menarik untuk diperhatikan.
Pasalnya, hubungan ekonomi kedua negara yang cukup erat membuat kebutuhan SGD tidak hanya datang dari wisatawan, tetapi juga kegiatan perdagangan, investasi, pendidikan, hingga pengobatan.
Dari Wisata hingga Bisnis, Ini Sumber Permintaan Dolar Singapura
Ada beberapa kegiatan yang berpotensi menciptakan permintaan dolar Singapura dari Indonesia.
1. Pariwisata
Pariwisata menjadi salah satu sumber kebutuhan dolar Singapura.
Berdasarkan data Singapore Tourism Board (STB), jumlah kunjungan wisatawan asal Indonesia ke Singapura mencapai 2,4 juta sepanjang 2025.
Jumlah tersebut menjadikan Indonesia sebagai penyumbang wisatawan terbesar kedua ke Singapura setelah China.
Bukan hanya jumlah kunjungannya yang besar, uang yang dibelanjakan wisatawan Indonesia juga tidak sedikit.
Sepanjang Januari hingga September 2025, pengeluaran wisatawan Indonesia di Singapura mencapai S$2,09 miliar, di luar sejumlah kategori hiburan dan wisata tertentu.
Angka ini menempatkan Indonesia sebagai negara penyumbang pendapatan pariwisata terbesar kedua bagi Singapura.
Uang tersebut digunakan untuk berbagai kebutuhan, mulai dari hotel, makanan, transportasi, hingga berbelanja.
Besarnya pengeluaran ini menunjukkan bahwa kegiatan wisata masyarakat Indonesia menciptakan kebutuhan pembayaran dalam dolar Singapura yang cukup besar.
2. Perdagangan dan Impor Barang
Selain pariwisata, kegiatan perdagangan antara Indonesia dan Singapura juga menjadi salah satu sumber kebutuhan mata uang asing.
Hubungan perdagangan kedua negara terbilang besar. Bahkan, Indonesia terus mencatatkan defisit perdagangan dengan Singapura dalam lima tahun terakhir.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), defisit perdagangan Indonesia dengan Singapura mencapai US$5,73 miliar sepanjang 2025.
Angka tersebut berasal dari ekspor Indonesia ke Singapura sebesar US$13,44 miliar, sementara impornya mencapai US$19,17 miliar.
Defisit perdagangan pada 2025 sebenarnya sudah mengecil dibandingkan 2024, ketika Indonesia mencatatkan defisit hingga US$9,33 miliar, yang merupakan posisi terbesar dalam lima tahun terakhir.
Penurunan tersebut terjadi seiring berkurangnya impor Indonesia dari Singapura, sementara nilai ekspornya justru meningkat.
Meski demikian, besarnya nilai impor menunjukkan bahwa perusahaan Indonesia masih memiliki kebutuhan pembayaran yang cukup besar kepada pemasok di Singapura.
Dalam kegiatan impor, perusahaan perlu menyiapkan mata uang yang telah disepakati untuk membayar barang yang dibeli. Jika transaksi menggunakan dolar Singapura, perusahaan Indonesia harus menyediakan SGD untuk menyelesaikan pembayaran.
Namun, tidak seluruh perdagangan Indonesia dan Singapura menggunakan SGD. Sebagian transaksi internasional masih dilakukan menggunakan dolar AS.
Menariknya, Bank Indonesia (BI) bersama Monetary Authority of Singapore (MAS) mulai menjalankan kerja sama penggunaan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) pada 31 Agustus 2026.
Melalui kerja sama tersebut, transaksi perdagangan, investasi langsung, hingga pembayaran lintas negara dapat dilakukan menggunakan rupiah maupun dolar Singapura.
Dengan begitu, perusahaan di kedua negara memiliki lebih banyak pilihan mata uang untuk bertransaksi, tanpa harus selalu menggunakan dolar AS.
3. Investasi dan Penyimpanan Dana
Sumber kebutuhan lainnya berasal dari kegiatan investasi.
Data Singapore Department of Statistics menunjukkan aliran investasi langsung dari Indonesia ke Singapura mencapai S$981,3 juta sepanjang 2025.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa Singapura juga menjadi tujuan penempatan modal perusahaan asal Indonesia.
Perusahaan yang menjalankan bisnis di Singapura dapat membutuhkan SGD untuk membayar sewa, gaji karyawan, maupun berbagai kebutuhan operasional.
Selain itu, sebagian masyarakat juga memilih menyimpan uang dalam bentuk dolar Singapura atau membeli aset yang nilainya menggunakan SGD.
Meski begitu, tidak seluruh nilai investasi tersebut berasal dari penukaran rupiah menjadi SGD. Dana investasi juga dapat berasal dari mata uang asing lainnya maupun keuntungan usaha yang sudah berada di luar negeri.
4. Pendidikan dan Pengobatan
Kebutuhan dolar Singapura juga datang dari masyarakat Indonesia yang menempuh pendidikan atau menjalani pengobatan di Singapura.
Orang tua yang menyekolahkan anaknya di Singapura perlu menyiapkan dana untuk biaya kuliah, tempat tinggal, dan kebutuhan sehari-hari.
Begitu pula masyarakat yang berobat ke rumah sakit Singapura. Mereka membutuhkan dana untuk membayar layanan kesehatan, meskipun nilai tukar sedang mahal.
Berbeda dengan pembelian mata uang untuk mencari keuntungan, kebutuhan pendidikan dan kesehatan sering kali sulit ditunda hanya karena kurs sedang naik.
Pada akhirnya, mahalnya dolar Singapura memberikan dua sisi yang berbeda. Masyarakat yang sudah menyimpan SGD sejak lama berpeluang memperoleh keuntungan dari selisih kurs.
Sebaliknya, mereka yang membutuhkan dolar Singapura untuk berlibur, bersekolah, berobat, maupun menjalankan usaha harus menyiapkan rupiah lebih banyak dibandingkan sebelumnya.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)
Leave a comment