Home Finance Won-Yen Menguat, Rupiah Paling Ambruk
Finance

Won-Yen Menguat, Rupiah Paling Ambruk

Share
Won-Yen Menguat, Rupiah Paling Ambruk
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar valuta Asia kembali menunjukkan arah yang beragam pada perdagangan Kamis (22/10/2026).

Per pukul 09.20 WIB, enam dari 10 mata uang Asia yang dipantau Refinitiv masih melemah terhadap dolar AS. Empat mata uang lainnya mampu mencatat penguatan.

Won Korea Selatan menjadi yang paling perkasa dengan kenaikan 0,20% ke posisi KRW1.324/US$. Yen Jepang menyusul dengan penguatan 0,14% ke JPY157,92/US$.

Dong Vietnam dan yuan China turut bergerak positif masing-masing 0,07% dan 0,01%.

Sebaliknya, rupiah justru mengalami tekanan paling besar. Mata uang Garuda turun 0,25% ke posisi Rp18.045/US$, kembali bergerak di atas level psikologis Rp18.000/US$.

Dolar Taiwan menjadi mata uang dengan pelemahan terdalam berikutnya setelah rupiah, yakni 0,24%. Peso Filipina turun 0,11%, sementara baht Thailand, ringgit Malaysia, dan dolar Singapura masing-masing terkoreksi 0,06%, 0,04%, dan 0,03%.


Greenback sebenarnya sedang mengalami pelemahan yang terlihat dari pergerakan indeks dolar AS (DXY) yang tengah turun 0,06% ke posisi 101,717.

Meski melemah, DXY masih bertahan di atas level 101. Kondisi ini menunjukkan dolar AS belum benar-benar kehilangan kekuatan menjelang rangkaian keputusan suku bunga bank sentral utama dunia pada pekan depan.

Pelaku pasar saat ini masih cukup banyak memegang dolar dengan anggapan bahwa ekonomi AS akan tetap kuat, salah satunya ditopang oleh perkembangan industri kecerdasan buatan atau AI.

Pertumbuhan ekonomi yang masih kuat membuat suku bunga AS diperkirakan dapat bertahan tinggi lebih lama.

Namun, posisi beli terhadap dolar mulai sedikit berkurang. Hal tersebut terlihat dari penguatan beberapa mata uang utama seperti poundsterling, dolar Kanada, dolar Australia, hingga dolar Selandia Baru yang dalam beberapa hari terakhir sempat menyentuh level tertinggi dalam beberapa pekan terhadap greenback.

Pasar kini mulai bersiap menghadapi pekan penting bagi kebijakan moneter global. The Federal Reserve/The Fed, Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of Japan (BOJ) akan mengumumkan keputusan suku bunga dalam waktu berdekatan pada pekan depan.

Ketiga bank sentral tersebut diperkirakan belum akan mengubah suku bunga pada pertemuan kali ini. Namun, pasar akan mencermati nada pernyataan masing-masing bank sentral untuk mencari petunjuk mengenai langkah berikutnya.

The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%-4,00% pada Oktober. Meski demikian, pasar masih melihat peluang kenaikan suku bunga pada Desember.

Di Eropa, ECB diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya di level 2,5% pekan depan. Pasar tetap memperhitungkan adanya kenaikan bunga sebelum akhir tahun.

Sementara di Jepang, BOJ juga diperkirakan belum mengubah suku bunga pada pertemuan mendatang. Kenaikan berikutnya ke level 1,5% diperkirakan baru terjadi pada awal tahun depan.

Ekspektasi tersebut ikut membantu yen bertahan. Mata uang Jepang masih bergerak di sekitar 158 per dolar AS, dengan ancaman intervensi otoritas Jepang dan peluang kenaikan suku bunga BOJ menjadi penahan pelemahan lebih lanjut.

Di sisi lain, euro masih menghadapi tekanan dari persoalan fiskal Prancis dan kondisi energi Eropa.

Imbal hasil obligasi pemerintah Prancis tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak 2022 pada Rabu. Gejolak sosial yang terjadi di Prancis kembali menyoroti sulitnya pemerintah menekan defisit anggaran.

“Euro tidak bisa turun lebih jauh, tetapi juga tidak bisa menguat. Kita berada dalam kondisi buntu ketika tumpukan berita buruk hampir sepenuhnya diimbangi oleh posisi pasar,” ujar Brent Donnelly, Presiden Spectra Markets, dikutip dari Reuters.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *