Home Finance Rupiah Ditutup Melemah 0,39%, Dolar AS Naik Jadi Rp18.110
Finance

Rupiah Ditutup Melemah 0,39%, Dolar AS Naik Jadi Rp18.110

Share
Rupiah Ditutup Melemah 0,39%, Dolar AS Naik Jadi Rp18.110
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah belum mampu keluar dari tekanan pada perdagangan awal pekan. Mata uang Garuda mengakhiri perdagangan Senin (26/10/2026) dengan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,39% ke level Rp18.110/US$, dibandingkan penutupan Jumat (23/10/2026) di Rp18.040/US$.

Posisi tersebut menjadi penutupan terlemah rupiah sejak awal Juni 2026 atau dalam 4 bulan terakhir.

Tekanan sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan, ketika rupiah melemah 0,06% ke posisi Rp18.050/US$. Pelemahan kemudian berlanjut hingga rupiah sempat menyentuh Rp18.130/US$.

Menjelang penutupan, tekanan sedikit mereda. Rupiah memangkas pelemahannya sebesar 20 poin dari posisi terlemah hari ini, meski tetap berakhir 60 poin lebih lemah dibandingkan pembukaan.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah tipis 0,01% ke posisi 101,802.


Pergerakan rupiah hari ini diwarnai sejumlah sentimen dari dalam negeri maupun global.

Dari domestik, pasar masih mencermati perkembangan setelah pengumuman MSCI mengenai konsultasi perubahan klasifikasi pasar saham Indonesia. Perhatian juga tertuju pada respons Bank Indonesia (BI) dalam menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan tersebut.

Sementara dari eksternal, harga minyak dunia mulai terkoreksi setelah melonjak tajam pada pekan lalu akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Pelaku pasar juga bersiap menghadapi sejumlah agenda ekonomi penting AS sepanjang pekan ini, mulai dari keputusan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) hingga rilis data pertumbuhan ekonomi dan inflasi. Rangkaian agenda tersebut akan menjadi petunjuk bagi arah kebijakan moneter AS dan pergerakan dolar selanjutnya.

Di tengah kondisi tersebut, Gubernur BI Destry Damayanti menegaskan bank sentral tetap hadir di pasar untuk memantau pergerakan rupiah.

Destry menjelaskan, nilai tukar dipengaruhi dinamika permintaan dan penawaran valuta asing. BI terus mencermati perkembangan tersebut sekaligus menelusuri faktor yang mendasarinya.

“Kita tetap ada di pasar. Ini tergantung supply and demand. Hari ini mungkin lagi… Ya pokoknya tetap kita monitor, kita memantau pergerakannya,” ujar Destry dalam acara Danantara TIIF 2026, Senin (26/10/2026).

Ketika ditanya mengenai kemungkinan perubahan strategi intervensi, Destry menyebut gejolak yang terjadi masih merupakan bagian dari dinamika pasar yang terus dipantau BI.

“Enggak, enggak, enggak. Ini volatilitas biasa, tapi kita akan terus monitor. Kita lihat root cause-nya juga,” katanya.

Namun, Destry belum merinci penyebab utama tekanan terhadap rupiah pada perdagangan hari ini. Ia mengatakan masih akan mengecek perkembangan lebih lanjut sebelum memberikan penjelasan mengenai faktor pemicunya.

(evw/evw)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *