
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah pada perdagangan Senin, 26 Oktober 2026. Indeks turun 66,16 poin atau 1,22% ke level 5.373,09.
Padahal, IHSG dibuka di level 5.442,30, sedikit lebih tinggi dari penutupan akhir pekan lalu. Pergerakan indeks sepanjang hari cenderung fluktuatif dengan tekanan yang dominan. Setelah dibuka menguat dan mencapai level tertinggi harian di 5.453,65 pada awal sesi pertama, IHSG berbalik arah dan turun tajam menjelang pukul 10.00 WIB hingga menyentuh titik terendah harian di 5.349,75.
Indeks juga sempat rebound ke area 5.400 sebelum kembali melemah dan bergerak sideways di kisaran 5.360 hingga 5.390 pada sesi kedua.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat sebesar 285,61 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp12.611,4 miliar atau sekitar Rp12,6 triliun.
Pasar keuangan global dan Indonesia akan menghadapi pekan padat pada minggu ini.
Perkembangan perang masih menjadi penggerak utama pasar pekan ini. Sejumlah agenda penting, mulai dari keputusan bank sentral yang akan menggerakkan pasar saham, obligasi, valuta asing, dan komoditas.
Pada pekan ini, tujuh bank sentral dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneter, yakni State Bank of Pakistan pada 26 Oktober; Federal Reserve AS, Bank of Canada, Reserve Bank of New Zealand, dan Bank of Thailand pada 28 Oktober; European Central Bank (ECB) pada 29 Oktober; serta Bank of Japan (BOJ) pada 30 Oktober.
Investor juga akan mencermati data pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat (AS) dan zona euro, serta inflasi PCE AS yang menjadi salah satu acuan utama The Fed dalam menentukan arah kebijakan moneter.
Berikut sederet agenda ekonomi yang perlu dicermati pasar pekan ini.
1. Sidang Partai Komunis China
Communist Party Fifth Plenum atau Sidang Pleno Kelima Komite Sentral Partai Komunis China merupakan pertemuan penting untuk membahas arah politik dan kebijakan strategis China.
Partai akan membahas arah kebijakan ekonomi, industri, teknologi, dan pembangunan negara dalam beberapa tahun ke depan.
Sidang yang dijadwalkan berlangsung pada 26-29 Oktober 2026 ini menjadi sorotan karena dapat memberikan sinyal mengenai konsolidasi kekuasaan Presiden Xi Jinping, penguatan pemberantasan korupsi, serta prioritas pemerintahan menjelang 2027.
Bagi investor global, hasil pertemuan ini penting untuk mencermati kepastian kebijakan, iklim bisnis, dan prospek ekonomi China yang berpengaruh terhadap pasar saham, nilai tukar yuan, harga komoditas, serta negara mitra dagang seperti Indonesia.
2. Laba Industri China September 2026
China merilis data laba industri Januari-September pada Selasa (27/10) pukul 08.30 WIB. Sebagai pembanding, laba industri tumbuh 15,7% secara tahunan pada Januari-Agustus, melambat dari 17,6% pada Januari-Juli. Perlambatan lanjutan dapat menekan prospek permintaan komoditas, sedangkan penguatan laba berpotensi menjadi sinyal perbaikan aktivitas industri dan investasi China.
3. Keputusan Suku Bunga The Fed Oktober 2026
The Fed dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Rabu waktu AS atau Kamis (29/10) pukul 01.00 WIB, dilanjutkan konferensi pers pada pukul 01.30 WIB.
Konsensus pasar memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga di kisaran 3,75%-4,00%, setelah menaikkan bunga sebesar 25 basis poin pada September.
Meski suku bunga diperkirakan tidak berubah, perhatian investor akan tertuju pada pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh mengenai prospek inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, dan kemungkinan pengetatan kebijakan berikutnya.
Sikap yang lebih hawkish berpotensi memperkuat dolar AS dan menekan aset berisiko, termasuk saham negara berkembang. Sebaliknya, sinyal bahwa tekanan inflasi mulai mereda dapat memberikan ruang bagi pasar untuk menilai ulang prospek kebijakan moneter AS.
Bagi Indonesia, arah kebijakan The Fed menjadi faktor penting yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah, arus modal asing, serta daya tarik Surat Berharga Negara (SBN).
4. Pertumbuhan Ekonomi AS Kuartal III-2026
Estimasi awal PDB AS kuartal III dirilis Kamis (29/10) pukul 19.30 WIB.
Ekonomi AS diperkirakan tumbuh 3,2% secara kuartalan dalam hitungan tahunan (annualized), naik dari 2,2% pada kuartal sebelumnya. Pertumbuhan yang lebih kuat dapat menegaskan ketahanan ekonomi AS, tetapi jika disertai inflasi tinggi, ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama berpotensi menguat.
5. Inflasi PCE Amerika Serikat
AS juga akan merilis data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) September pada Kamis (29/10) pukul 19.30 WIB.
Sebagai catatan, pada Agustus 2026, inflasi PCE tercatat 3,4% (YoY) sementara inflasi inti sebesar 3,0% (YoY).
Inflasi PCE inti, yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi, diperkirakan naik 0,3% secara bulanan pada September 2026, dari 0,2% pada Agustus. Secara tahunan, inflasi inti diproyeksikan meningkat menjadi 3,1%, dari 3,0%.
Data ini penting karena PCE merupakan salah satu indikator inflasi yang menjadi acuan utama The Fed dalam menentukan kebijakan moneter.
Jika inflasi melampaui perkiraan, kekhawatiran bahwa tekanan harga masih sulit dikendalikan dapat meningkat. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama.
Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat meredakan tekanan terhadap pasar, meskipun diperlukan bukti penurunan yang konsisten sebelum prospek kebijakan moneter berubah secara signifikan.
6. Keputusan Suku Bunga ECB Oktober 2026
ECB dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Kamis (29/10) pukul 20.15 WIB, dengan konferensi pers pada pukul 20.45 WIB.
Konsensus memperkirakan suku bunga operasi pembiayaan utama tetap di 2,65%, sementara suku bunga fasilitas simpanan bertahan di 2,50%.
Investor akan mencermati bagaimana ECB menyeimbangkan risiko inflasi dengan perlambatan ekonomi kawasan Eropa. Tekanan harga energi dan ketidakpastian pertumbuhan menjadi faktor penting dalam menentukan arah kebijakan selanjutnya.
7. Keputusan Suku Bunga BOJ Oktober 2026
BOJ dijadwalkan mengumumkan keputusan suku bunga pada Jumat (30/10), dengan waktu pengumuman yang dapat berubah mengikuti jadwal resmi bank sentral.
Konsensus memperkirakan BOJ mempertahankan suku bunga di 1,25%, setelah kenaikan dari 1,00% pada September.
Selain keputusan suku bunga, pasar akan mencermati laporan prospek ekonomi dan harga, termasuk perubahan proyeksi pertumbuhan, inflasi, serta penilaian terhadap perkembangan upah dan konsumsi.
8. Pertumbuhan Ekonomi Zona Euro Kuartal III-2026
Estimasi awal PDB zona euro dirilis Jumat (30/10) pukul 17.00 WIB.
Ekonomi diperkirakan tumbuh 0,2% secara kuartalan, melambat dari 0,6% pada kuartal sebelumnya.
Secara tahunan, pertumbuhan diproyeksikan mencapai 1,1%, turun dari 1,2%. Perlambatan yang lebih tajam dapat meningkatkan kekhawatiran terhadap ekonomi kawasan dan menjadi pertimbangan penting bagi arah kebijakan ECB.
(rob/rob)
Leave a comment