
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Judul di atas bukanlah ajakan untuk memutus jalur laut, melainkan sebuah refleksi atas realitas logistik yang telah lama membentuk wajah ketahanan pangan di Maluku Utara. Selama bertahun-tahun, kapal kargo yang membawa telur dan daging dari Surabaya dan Makassar adalah “penyelamat” sekaligus pengingat bahwa wilayah kaya sumber daya ini belum berdaulat atas proteinnya sendiri.
Namun, ketergantungan tersebut bukanlah takdir yang tak bisa diubah. Justru, Maluku Utara memiliki semua prasyarat untuk melompat maju dan menjadi teladan bagi provinsi lain di Indonesia Timur yang masih bergantung pada pasokan dari Jawa. Optimisme ini bukanlah mimpi kosong, melainkan peluang nyata yang menunggu untuk dieksekusi.
Data terbaru menunjukkan prevalensi stunting di Maluku mencapai 28,4 persen, sementara Maluku Utara 23,2 persen, keduanya jauh di atas rata-rata nasional yang telah turun ke 19,8 persen. Stunting adalah cermin dari kekurangan asupan protein hewani dalam seribu hari pertama kehidupan. Ketika telur dan daging ayam harus menempuh perjalanan laut berhari-hari, harga di tingkat konsumen melonjak, dan akses keluarga miskin terhadap protein pun terputus.
Ketergantungan yang Mahal
Di Maluku Utara, sekitar 80 persen kebutuhan telur masih dipasok dari luar daerah. Produksi telur ayam lokal bahkan hanya mampu memenuhi sekitar 3 persen kebutuhan masyarakat. Kesenjangan ini menciptakan harga yang tidak wajar. Telur di Ternate dijual sekitar Rp2.000 hingga Rp2.500 per butir, sementara harga daging ayam ras mencapai Rp44.500 hingga Rp50.000 per kilogram, angka yang jauh lebih tinggi dibandingkan daerah penghasil.
Biaya logistik laut, penanganan pelabuhan, dan risiko kerusakan selama perjalanan adalah penyebab utamanya. Ketergantungan ini bukan hanya membebani anggaran rumah tangga, tetapi juga memperlebar ketimpangan gizi.
Lompatan Modernisasi dan Sistem Energi
Maluku Utara memiliki peluang membalikkan keadaan. Pemerintah provinsi menargetkan swasembada telur pada 2026 dengan harga stabil sekitar Rp1.500 per butir. Namun, swasembada tidak akan tercapai hanya dengan menambah populasi ayam. Akar masalahnya adalah tingginya harga pakan dan tidak efisiennya peternakan konvensional. Di sinilah modernisasi ekosistem peternakan menjadi kunci.
Yang dibutuhkan Maluku Utara adalah lompatan menuju sistem pertanian terintegrasi (agri–park) yang menghubungkan seluruh rantai nilai dalam satu kawasan. Bayangkan sebuah kawasan terpadu yang di dalamnya berdiri pabrik pakan berkapasitas 40 ton per jam dengan dua lini pelet, dilengkapi silo penyimpanan berkapasitas 4×5.000 ton dan pengering gabah 750 ton per hari.
Kawasan ini juga memiliki fasilitas pembibitan (hatchery) modern berkapasitas 70.600 butir telur tetas, kandang pembesaran (brooder), serta peternakan ayam pedaging dan petelur skala besar yang dilengkapi sistem kandang baterai (H-Type) otomatis.
Di hilir, hasil panen tidak hanya dijual mentah. Ekosistem ini mencakup rumah potong hewan (RPH) berkapasitas 5.000 ekor per jam, fasilitas rantai dingin (cold storage), pabrik pengolahan telur, hingga pabrik pengolahan limbah (rendering house) yang mengubah sisa potongan dan bulu ayam menjadi tepung daging-tulang bernilai gizi tinggi sebagai bahan baku pakan kembali. Bahkan kotoran ternak diproses melalui sistem fermentasi 30 hari menjadi pupuk organik (pellet dan mash) untuk pertanian.
Dari sisi energi, sistem modern ini mengedepankan efisiensi dan keberlanjutan. Kandang closed–house dilengkapi dengan sistem ventilasi dan pengatur suhu otomatis yang menekan konsumsi energi listrik, didukung oleh instalasi pengolahan air limbah (waste water treatment) berkapasitas 1.120 ton per hari.
Pengeringan biji-bijian dan proses pengolahan menggunakan sistem pemanas terintegrasi yang diisolasi dengan baik untuk meminimalisasi kehilangan panas. Ditambah lagi, sistem digitalisasi cerdas (smart control) memantau suhu, kelembapan, dan operasional mesin secara real–time untuk mencegah pemborosan energi dan kegagalan produksi.
Potensi Produksi yang Masif
Dengan perencanaan teknis yang tepat, ekosistem ini dapat menghasilkan 30.000 ton daging ayam per tahun (setara 60.000 ekor ayam per hari dengan bobot 2 kg) dan 150 juta butir telur per tahun (sekitar 9.000 ton telur). Untuk mendukung kapasitas ini, dibutuhkan 500.000 ekor ayam petelur dalam kandang dan 1,8 juta ekor ayam pedaging dalam siklus pertumbuhan.
Angka-angka ini bukanlah utopia. Desain dan mekanisme serupa telah berhasil diterapkan di berbagai negara, termasuk di Indonesia sendiri untuk kawasan Indonesia Timur. Skala proyek serupa telah terbukti menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional di Mesir melalui proyek strategis “Egypt Future” dengan kapasitas silo 500.000 ton, serta di Zimbabwe yang mencakup 14 lokasi penyimpanan strategis.
Mekanisme Hilir: KDKMP dan MBG
Pada sisi hilir, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dapat menjadi simpul yang mengoptimalkan penyerapan hasil produksi lokal. KDKMP di Maluku Utara dapat berperan sebagai pemasok bahan baku ayam dan telur bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menjalankan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dengan pasokan dari peternakan lokal yang modern, SPPG tidak perlu lagi mendatangkan bahan baku dari Jawa atau Sulawesi. Imbasnya, harga pokok produksi (HPP) menjadi lebih murah karena biaya logistik antar-pulau terpangkas, dan peserta sekolah rakyat dapat menikmati ayam dan telur dalam menu MBG secara lebih stabil.
KDKMP tidak sekadar menjadi penyalur, tetapi juga penjamin mutu dan kontinuitas pasokan.
Rekomendasi Kebijakan
Pertama, Pemerintah Provinsi Maluku Utara perlu menetapkan swasembada telur dan daging ayam sebagai program prioritas dengan target terukur. Kedua, integrasi rantai nilai pakan harus menjadi fokus utama, menghubungkan produksi jagung lokal langsung dengan pabrik pakan skala regional.
Ketiga, pemerintah daerah perlu membangun kemitraan dengan penyedia solusi teknologi terintegrasi yang mampu merancang, membangun, hingga mengoperasikan fasilitas peternakan dan pabrik pakan secara menyeluruh (turnkey). Keempat, KDKMP perlu diberi peran formal sebagai mitra hilir SPPG untuk memastikan program MBG berjalan dengan bahan baku lokal yang terjangkau.
Kelima, dan yang paling krusial, pemerintah pusat harus hadir melalui dukungan anggaran yang memadai. Penambahan anggaran untuk pilot project ekosistem terintegrasi di Maluku Utara ini sangatlah pantas dan selaras dengan kebijakan Presiden yang menempatkan kedaulatan pangan dan food security sebagai prioritas utama.
Keenam, pembiayaan proyek strategis ini dapat melibatkan Danantara sebagai sovereign wealth fund yang berfokus pada investasi jangka panjang dan berdampak. Dengan skema pembiayaan yang tepat, proyek ini tidak hanya menjadi beban APBN, tetapi juga peluang investasi yang menguntungkan secara ekonomi dan sosial.
Investasi untuk Otak Anak Maluku
Membangun ekosistem peternakan dan pabrik pakan terintegrasi memang membutuhkan investasi awal yang tidak sedikit. Namun, kita harus melihat ini bukan sebagai pengeluaran biaya, melainkan sebagai investasi strategis jangka panjang. Jika ekosistem ini berdiri, biaya yang mahal hari ini akan terbayar lunas dalam kurun waktu 5 hingga 20 tahun ke depan.
Bayangkan Maluku dan Maluku Utara 20 tahun dari sekarang: sebuah generasi baru yang lahir dan tumbuh besar tanpa pernah mengenal kata stunting. Anak-anak sekolah rakyat di pelosok kepulauan menikmati asupan protein hewani yang cukup setiap hari-bukan dari sisa impor yang harganya melambung, melainkan dari peternakan modern di tanah mereka sendiri. Dengan gizi yang terpenuhi, otak mereka berkembang optimal; mereka menjadi generasi yang cerdas, tangguh, dan siap membangun daerahnya.
Sebab pada akhirnya, kedaulatan pangan tidak kalah pentingnya dari aspek pertahanan nasional mana pun. Bukankah dahulu para pendiri bangsa mengingatkan bahwa setara dengan ketersediaan pangan adalah kunci kedaulatan? Ketika pangan cukup, rakyat pun sejahtera.
Ketika pangan aman, negara pun aman. Swasembada protein bukanlah utopia, melainkan pilihan kebijakan yang harus diambil sekarang, sebelum satu generasi lagi kehilangan kesempatan untuk tumbuh optimal.
(miq/miq)
Leave a comment