Home Finance Dunia Dihantam Cuaca Ekstrem, Harga 5 Komoditas Pangan Ini Meledak
Finance

Dunia Dihantam Cuaca Ekstrem, Harga 5 Komoditas Pangan Ini Meledak

Share
Dunia Dihantam Cuaca Ekstrem, Harga 5 Komoditas Pangan Ini Meledak
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Harga sejumlah komoditas pertanian terpantau mengalami kenaikan cukup tajam di sepanjang tahun ini. 

Fenomena El Nino menyebabkan adanya perubahan curah hujan yang membuat adanya kekeringan hingga hujan ekstrem di sejumlah wilayah di berbagai negara. Kondisi itu berisiko mengganggu musim tanam yang bisa membuat turunnya hasil panen yang pada akhirnya memperketat pasokan pertanian dunia. 

Tekanan terhadap harga juga semakin besar akibat meningkatnya biaya energi dan distribusi, sehingga sejumlah komoditas pertanian mencatat lonjakan harga yang signifikan sejak awal tahun.

Kondisi tersebut juga terlihat dari kenaikan indeks harga pangan dunia yang dirilis Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO).

Melansir data terbaru FAO Food Price Index, indeks harga pangan dunia mencapai 136,0 poin pada September 2026, naik 1,5% dibandingkan Agustus dan meningkat 5,8% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.


Posisi tersebut merupakan yang tertinggi sejak November 2022, meskipun masih berada 15,1% di bawah rekor tertinggi yang tercapai pada Maret 2022, ketika pasar pangan global terguncang akibat perang Rusia-Ukraina.

Kenaikan indeks terutama didorong oleh harga biji-bijian yang naik 5,1%, gula 6,1%, dan minyak nabati 0,9% secara bulanan.

Sementara itu, melansir data Trading Economics per Rabu (28/10/2026) menunjukkan lima komoditas pertanian dengan kenaikan harga tertinggi secara year-to-date (ytd) atau sejak awal tahun dipimpin oleh harga beras yang melonjak hingga 80%. 

Selain itu, harga karet juga mengalami kenaikan tajam yang mencapai 42,75%. Diikuti harga barli yang naik 40%, canola 33,47% dan gula yang naik sekitar 27%. 


Beras 

Beras menjadi komoditas pertanian dengan kenaikan harga paling tinggi sepanjang 2026. Harga kontrak beras tercatat mencapai US$17,29 per hundredweight (cwt), melonjak 80,25% sejak awal tahun dan 72,69% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap produksi beras di sejumlah negara eksportir utama, khususnya India dan Thailand.

Departemen Pertanian Amerika Serikat (USDA) memperkirakan produksi beras India pada musim 2026/2027 turun sekitar 7 juta ton menjadi 147 juta ton akibat musim hujan yang lemah. Ekspor India juga diperkirakan turun 4% menjadi 24 juta ton pada 2027.

Sementara itu, banjir di Thailand mengganggu distribusi dan meningkatkan risiko kerusakan tanaman. Ancaman El Niño serta meningkatnya biaya pengiriman turut memperbesar tekanan harga.


Karet 

Harga karet berada di level 256,80 sen AS per kilogram, meningkat 42,75% sejak awal tahun. Secara tahunan, harganya bahkan telah melonjak 47,25%.

Kenaikan harga karet terutama dipicu oleh gangguan pasokan dari negara-negara produsen utama di Asia Tenggara.

Hujan deras dan banjir di Thailand menghambat aktivitas penyadapan pohon karet, sementara keterbatasan bahan baku di Tanah Air turut memperketat pasokan.

Kondisi tersebut sempat mendorong harga karet mendekati 265 sen AS per kilogram pada pertengahan Oktober, level tertinggi sejak 2013.

Barli 

Barli atau jelai merupakan tanaman biji-bijian yang banyak digunakan sebagai pakan ternak dan bahan baku industri makanan maupun minuman.

Harga barli pada acuan pasar India tercatat sebesar 3.213,50 rupee India per ton pada 26 Oktober 2026, meningkat 40,17% sejak awal tahun.

Kenaikan tersebut terutama didorong oleh terbatasnya pasokan barli di pasar domestik India, sementara permintaan dari industri pakan ternak, pengolahan malt, dan minuman tetap kuat.

Canola 

Canola, tanaman penghasil minyak nabati yang digunakan dalam industri pangan dan bahan bakar nabati, mencatat kenaikan harga sebesar 33,47% sejak awal tahun.

Harga komoditas tersebut berada di posisi 786,59 dolar Kanada per ton.

Kenaikan harga canola ditopang oleh permintaan industri pengolahan minyak nabati serta kebutuhan bahan bakar nabati yang tetap kuat.

Di sisi pasokan, cuaca basah di wilayah produsen utama Kanada sempat menghambat kegiatan panen dan menimbulkan kekhawatiran terhadap ketersediaan komoditas tersebut.

Meski begitu, harga canola telah terkoreksi 4,50% dalam sebulan terakhir seiring membaiknya prospek panen dan pasokan.

Gula 

Gula menempati posisi kelima dengan kenaikan harga sebesar 27,91% sejak awal tahun. Harga gula mentah tercatat sebesar 19,20 sen AS per pon pada 27 Oktober 2026.

Kenaikan tersebut terutama dipengaruhi oleh kekhawatiran terhadap produksi dari dua negara produsen utama, yakni Brasil dan India.

Di Brasil, hujan berlebihan sempat mengganggu panen dan pengolahan tebu. Produksi gula kumulatif hingga Agustus bahkan turun 10,3% secara tahunan karena pabrik mengalokasikan lebih banyak tebu untuk produksi etanol.

Sementara itu, India menghadapi risiko penurunan hasil panen akibat lemahnya musim hujan yang dipengaruhi fenomena El Niño.

Kondisi tersebut memperketat prospek pasokan gula global dan menjadi salah satu faktor yang menjaga harga tetap tinggi sepanjang tahun.

Secara keseluruhan, lonjakan harga kelima komoditas tersebut memperlihatkan besarnya pengaruh cuaca, ketersediaan pasokan, dan permintaan industri terhadap pasar pertanian sepanjang 2026.

Jika tekanan harga terus berlanjut, negara-negara yang bergantung pada impor pangan maupun bahan baku industri berpotensi menghadapi peningkatan biaya produksi dan kebutuhan impor.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *