
Jakarta, CNBC Indonesia – Mitos Octobull yang identik dengan penguatan pasar saham tampaknya tak berlaku tahun ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru ambruk hampir 15% sepanjang Oktober 2026, mematahkan tren positif yang kerap terjadi pada bulan tersebut.
Dalam sepuluh tahun terakhir, Oktober kerap menjadi bulan yang positif bagi IHSG. Sepanjang 2016-2025, indeks berhasil menguat dalam delapan dari sepuluh Oktober.
Perkasanya IHSG di Oktober inilah yang kemudian melahirkan mitos kesaktian “Octobull” karena IHSG dalam kondisi bull (banteng) atau optimis.
Namun, Oktober kali ini mencatatkan cerita berbeda. Meski ditutup menguat hari ini tetapi hingga hari ini, Rabu (28/10/2026), IHSG sudah ambruk 13% di Oktober. Penurunan tersebut menjadi yang terdalam untuk bulan Oktober sejak 2008.
Oktober yang Biasanya Hijau Berubah Merah
Sepanjang 2016-2025, rata-rata imbal hasil IHSG pada Oktober mencapai 1,16%. Kenaikan tertinggi terjadi pada Oktober 2020 sebesar 5,30%, disusul Oktober 2021 sebesar 4,84%.
Sebaliknya, hanya Oktober 2018 dan 2023 yang berakhir di zona merah, dengan penurunan masing-masing sebesar 2,42% dan 2,70%. Dalam dua tahun terakhir, IHSG juga masih mencatatkan penguatan, yakni 0,61% pada Oktober 2024 dan 1,28% pada Oktober 2025.
Koreksi IHSG pada Oktober tahun ini jauh lebih tajam dibandingkan Oktober sebelumnya. Pelemahan sebesar 14,69% hingga 28 Oktober bahkan menjadi yang terdalam untuk bulan Oktober sejak 2008, ketika indeks anjlok 31,42% akibat krisis keuangan global.
Jika dibandingkan dengan seluruh bulan perdagangan dalam sepuluh tahun terakhir, Oktober 2026 juga mencatatkan penurunan terdalam kedua. Koreksinya hanya kalah dari Maret 2020, saat IHSG merosot 16,76% di tengah pandemi Covid-19.
Sementara itu, posisi ketiga ditempati Maret 2026 dengan penurunan 14,42%. Artinya, dua dari tiga penurunan bulanan terbesar IHSG dalam satu dekade terakhir terjadi pada tahun ini.
Kejatuhan IHSG Memuncak pada Pertengahan Oktober
Dalamnya koreksi IHSG sepanjang Oktober tak lepas dari kejatuhan tajam yang terjadi pada pertengahan bulan. Pada Jumat (16/10/2026), indeks anjlok 11,57% dalam sehari, mencatatkan penurunan harian terdalam sejak 1998.
Kejatuhan tersebut terjadi setelah Morgan Stanley Capital International (MSCI) mengumumkan konsultasi terkait kemungkinan penurunan status pasar Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market pada 15 Oktober 2026.
Rencana tersebut memicu kekhawatiran investor terhadap potensi keluarnya saham-saham Indonesia dari indeks global yang menjadi acuan sejumlah pengelola dana. Tekanan jual pun meningkat hingga perdagangan sempat dihentikan sementara (trading halt).
Koreksi tajam IHSG turut memangkas kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga Selasa (27/10/2026), kapitalisasi pasar BEI menyusut Rp1.447 triliun atau 13,53%, dari Rp10.695 triliun pada akhir September menjadi Rp9.248 triliun.
Tekanan jual juga terlihat dari transaksi investor asing. Sepanjang 1-27 Oktober 2026, investor asing mencatatkan jual bersih (net sell) sebesar Rp16,33 triliun. Aksi jual terbesar terjadi pada 16 Oktober, dengan nilai mencapai Rp3,34 triliun dalam sehari.
Dengan penurunan yang telah mencapai 13% hingga hari ini, IHSG berpotensi mencatatkan kinerja Oktober terburuk sejak 2008. Namun, angka tersebut masih dapat berubah mengingat perdagangan bulan ini belum berakhir.
(mae/mae)
Leave a comment