
Jakarta, CNBC Indonesia – Sejumlah negara kini meminta warganya untuk menyetok makanan dan air untuk keadaan darurat. Tak hanya itu warga juga diminta menyiapkan obat-obatan penting.
Warga juga diminta menyiapkan senter, baterai, serta rencana alternatif jika listrik atau komunikasi tiba-tiba terputus. Kelima negara itu adalah Jepang, Jerman, Inggris, Taiwan, dan Amerika Serikat (AS).
Ada apa?
Mengutip laman AS, Newsweek, dan Kanada, Philippine Canadian Inquirer Kamis (29/10/2026), negara-negara tersebut memperkuat persiapan untuk menghadapi bencana alam, ancaman keamanan, serta gangguan terhadap layanan penting. Inggris menjadi pelopor di 22 Oktober lalu dengan mengimbau setiap rumah tangga untuk bersiap menghadapi setidaknya tiga hari tanpa akses normal terhadap layanan penting.
Negara-negara lain juga menerapkan rekomendasi serupa, meskipun panduan mereka berbeda sesuai dengan risiko yang dihadapi masing-masing. Mulai dari gempa bumi dan badai hebat hingga serangan siber dan potensi konflik bersenjata.
Namun pesan yang disampaikan tetap sama. Yakni rumah tangga harus mampu bertahan untuk sementara waktu ketika bantuan dari luar terbatas.
Inggris
Kampanye baru pemerintah Inggris, Be Ready, mendorong keluarga untuk bersiap menghadapi kemungkinan gangguan selama tiga hari terhadap pasokan listrik, air, komunikasi seluler, dan layanan internet. Diluncurkan pada 22 Oktober, inisiatif ini merupakan bagian dari upaya peningkatan kesadaran masyarakat selama tiga tahun agar rumah tangga lebih siap menghadapi keadaan darurat.
Pemerintah Inggris merekomendasikan warga untuk menyimpan air minum kemasan, makanan yang tidak mudah rusak, senter, pengisi daya portabel (power bank) yang terisi penuh, obat-obatan penting, serta radio bertenaga baterai atau radio engkol. Menteri Keamanan Dan Jarvis mengatakan kesiapsiagaan dapat membantu mengurangi beban petugas tanggap darurat sehingga mereka bisa memprioritaskan orang-orang yang paling membutuhkan pertolongan.
Kampanye ini diluncurkan setelah badai hebat dan kebakaran hutan mengganggu kehidupan masyarakat di Inggris. Inisiatif tersebut juga melanjutkan panduan kesiapsiagaan rumah tangga yang telah diterbitkan pemerintah sejak 2024.
Jepang
Di Jepang, negara yang berulang kali menghadapi ancaman gempa bumi, tsunami, topan, dan aktivitas vulkanik, kesiapsiagaan darurat telah lama menjadi prioritas. Pemerintah Jepang merekomendasikan warga untuk memiliki persediaan makanan, air minum, dan kebutuhan pokok lainnya yang cukup untuk setidaknya tiga hari, atau idealnya satu minggu.
Keluarga juga dianjurkan menyiapkan tas evakuasi, toilet portabel, senter, dan peralatan komunikasi. Kantor Kabinet Jepang menekankan bahwa bencana berskala besar dapat mengganggu transportasi, layanan utilitas, dan pengiriman pasokan.
Karena itu, rumah tangga perlu bersiap sebelum petugas darurat dapat menjangkau seluruh warga. Rekomendasi tersebut merupakan langkah keselamatan menghadapi bencana yang telah lama diterapkan.
Jerman
Jerman merekomendasikan penduduk untuk menyimpan makanan, air, dan kebutuhan lainnya yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup hingga 10 hari. Meski demikian, Kantor Federal Jerman untuk Perlindungan Sipil dan Bantuan Bencana (BBK) meminta warga menyetor persiapan untuk tiga hari sebagai langkah awal.
Panduan terbaru lembaga tersebut mencakup cara menghadapi pemadaman listrik berkepanjangan, cuaca ekstrem, misinformasi, serta keadaan darurat keamanan, termasuk situasi yang melibatkan konflik bersenjata. Pemerintah Jerman menekankan bahwa kesiapsiagaan harus disesuaikan dengan kebutuhan setiap rumah tangga, ruang penyimpanan yang tersedia, dan kondisi keuangan masing-masing.
“Tujuannya adalah membantu warga tetap aman ketika layanan penting untuk sementara tidak tersedia,” kata BBK.
Taiwan
Panduan kesiapsiagaan darurat juga dirilis Taiwan. Ini dilakukan untuk melatih warga akan kesiap-siagaan bencana maupun kemungkinan keadaan darurat militer.
Buku panduan keselamatan publik Taiwan merekomendasikan rumah tangga untuk menyimpan kebutuhan pokok yang cukup untuk setidaknya tujuh hari. Persediaan air minum yang dianjurkan minimal tiga liter per orang setiap hari.
Warga juga disarankan menyiapkan tas evakuasi darurat terpisah yang berisi kebutuhan pokok untuk satu hingga tiga hari. Persediaan yang dianjurkan mencakup makanan, obat-obatan, perlengkapan kebersihan, peralatan medis dasar, dan barang-barang pribadi yang penting.
Langkah kesiapsiagaan Taiwan mencerminkan kerentanan wilayah tersebut terhadap gempa bumi, cuaca ekstrem, serta ketegangan dengan China. Panduan itu dirancang untuk meningkatkan kesiapan warga sipil dalam menghadapi berbagai keadaan darurat, bukan untuk memprediksi bahwa konflik atau bencana akan terjadi pada tanggal tertentu.
Amerika Serikat
Di Amerika Serikat, Badan Manajemen Darurat Federal (FEMA) terus mendorong kesiapsiagaan rumah tangga melalui program Ready.gov. Lembaga tersebut merekomendasikan persediaan makanan yang tidak mudah rusak dan air minum untuk setidaknya tiga hari.
Jumlah air yang disarankan sekitar satu galon atau 3,8 liter per orang setiap hari untuk minum dan sanitasi. Persediaan lain yang disarankan meliputi kotak pertolongan pertama, senter, baterai, radio, obat-obatan resep, serta dokumen penting.
Keluarga juga didorong untuk menyusun rencana komunikasi darurat dan mempertimbangkan kebutuhan anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, serta hewan peliharaan. Panduan tersebut mencakup berbagai keadaan darurat, termasuk badai tropis, kebakaran hutan, banjir, gempa bumi, dan pemadaman listrik berkepanjangan.
Uni Eropa
Di luar masing-masing negara, Uni Eropa (UE) juga mengambil langkah untuk memperkuat kesiapsiagaan masyarakat. Sebelumnya, pada Maret 2025, Komisi Eropa memperkenalkan Strategi Uni Kesiapsiagaan (Preparedness Union Strategy).
Strategi ini mencakup berbagai risiko, mulai dari bencana alam dan serangan siber hingga ketegangan geopolitik serta gangguan terhadap infrastruktur penting. Salah satu tujuannya adalah menyusun panduan yang membantu masyarakat memenuhi kebutuhan sendiri setidaknya selama 72 jam ketika terjadi keadaan darurat.
Strategi tersebut juga mendorong edukasi publik, sistem peringatan dini, serta koordinasi yang lebih erat antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha. Pejabat Eropa menekankan bahwa kesiapsiagaan merupakan tanggung jawab bersama yang melibatkan lembaga publik maupun setiap rumah tangga.
(tfa/sef)
Leave a comment