
Jakarta, CNBC Indonesia – Dua raksasa internet yang selama dua puluh tahun panen pengeluaran iklan di seluruh dunia kini berjalan ke arah yang berlawanan. AI mendongkrak pendapatan iklan Meta, sedangkan sumber sumber duit Google yaitu Search, mulai tergerus. Perbedaan ini membuat pasar saham gempar.
Pada kuartal ketiga tahun ini, pendapatan iklan Meta naik 26 persen menjadi US$ 63,1 miliar atau sekitar Rp 1.104 triliun. Sementara itu, divisi pencarian Google hanya tumbuh 12 persen, separuh laju pertumbuhan Meta dengan pendapatan US$ 63,4 miliar. Selisih pertumbuhan 14 poin ini adalah yang terbesar menguntungkan Meta sejak tahun 2021.
Bagi Google, angka itu memicu kepanikan. Saham induknya, Alphabet, anjlok lebih dari 12 persen setelah laporan keuangan dirilis, menghapuskan nilai pasar sekitar US$ 500 miliar atau Rp 8.750 triliun dalam satu hari – penurunan terburuk sepanjang sejarah perusahaan.
Alasannya terletak pada cara setiap perusahaan memanfaatkan kecerdasan buatan.
Meta memasukkan AI langsung ke dalam mesin iklannya. Asisten buatan bantu merancang kampanye, menargetkan pengguna yang paling tepat, dan menyarankan perbaikan agar iklan lebih efektif. Pengiklan yang memakai fitur ini mencatat konversi naik hampir 5 persen dan belanja iklan bertambah 9 persen. Contohnya, produsen sirup maple Simply Organic Maple melihat penjualan naik 57 persen sekaligus biaya per pembelian turun 36 persen. Kini, hampir 10 juta pengiklan memakai alat AI tersebut.
Google justru berada di posisi yang sulit. Kehadiran produk AI seperti ChatGPT, Claude, hingga Gemini buatan Google, mendorong pengguna mencari jawaban langsung tanpa harus mengeklik link. Setiap klik ke tautan padahal adalah sumber pendapatan iklan. Makin pintar AI menjawab pertanyaan, makin sedikit orang yang mengunjungi situs lewat pencarian, dan semakin sedikit iklan yang terlihat.
Kompetitor baru juga muncul dari Meta, yang baru-baru ini meluncurkan asisten AI bernama Muse.
“Ini pedang bermata dua. Jika orang menemukan jawaban yang mereka cari tanpa perlu mengeklik apa pun, mesin pencari kehilangan alasan utama untuk dikunjungi,” ujar Nate Elliott, analis di Emarketer kepada CNBC International. “Perubahan kebiasaan ini berpotensi bencana bagi bisnis iklan Google.”
Google sebenarnya telah menerapkan AI ke dalam sistem iklannya, tetapi dampaknya belum terlihat. Sementara itu, fitur AI Overview yang menampilkan ringkasan jawaban langsung di halaman pencarian justru mempercepat penurunan jumlah klik. Google mencatat jumlah pencarian mencapai rekor tertinggi, namun pendapatannya tumbuh jauh lebih lambat.
Kedua perusahaan menghamburkan uang dalam jumlah luar biasa besar untuk membangun infrastruktur AI. Google merencanakan belanja modal hingga US$ 205 miliar tahun ini, sementara Meta menyiapkan US$ 145 miliar. Keduanya belum mendapat pengembalian yang sebanding.
Perbedaan posisi juga menambah beban. Iklan menyumbang 98 persen pendapatan Meta, sehingga setiap perbaikan langsung terasa. Google lebih beragam, iklan kini kurang dari dua pertiga total, tetapi pencarian tetap menjadi mesin uang terbesarnya. Jika pertumbuhan Google Search itu melambat, seluruh perusahaan ikut tertekan.
Kini, keduanya berusaha mencari jalan keluar. Meta mulai merintis pendapatan dari langganan agar tidak bergantung sepenuhnya pada iklan.
Google mempercepat pertumbuhan bisnis layanan awan yang kuartal ini naik lebih dari 100 persen menjadi US$ 31 miliar. Namun hingga saat ini, tidak ada yang dapat menggantikan kekuatan uang yang mengalir dari Seach.
(dem/dem)
Leave a comment