Jakarta, CNBC Indonesia- Menyambut hari kemerdekaan, pasar keuangan dalam negeri kompak ditutup menguat pada perdagangan Jumat pekan lalu usai pidato Presiden RI Prabowo Subianto.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan menghadapi banyak tantangan pekan ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar keuangan hari ini dan sepekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat signifikan pada perdagangan Jumat (14/8/2026). IHSG melonjak 1,59% ke level 6.401 di tengah pidato Presiden RI Prabowo Subianto di Gedung Nusantara, DPR RI, Jakarta.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, IHSG ditutup di posisi 6.401,89, menguat 100,12 poin atau 1,59% dari penutupan sebelumnya di level 6.301,77.
IHSG sempat lesu pada awal perdagangan. Indeks sempat menyentuh level terendah 6.267,41, sebelum berbalik menguat dan mencapai level tertinggi sekaligus penutupan di 6.401,89.
Penguatan IHSG ditopang terutama oleh lonjakan saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) yang melesat 20% ke Rp14.400 per saham dan menyumbang 44,13 poin terhadap indeks.
Hampir seluruh sektor ditutup menguat dengan sektor energi memimpin kenaikan sebesar 6,80%, diikuti kesehatan dan properti, sementara utilitas menjadi satu-satunya sektor yang melemah
Beralih ke pasar valas nilai tukar rupiah menutup perdagangan terakhir pekan lalu dengan perkasa terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda berbalik menguat setelah sempat tertekan pada pembukaan.
Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Jumat (14/8/2026), rupiah terapresiasi 0,22% ke posisi Rp17.820/US$. Penguatan tersebut menjadi kenaikan kedua secara beruntun setelah sehari sebelumnya rupiah menguat tipis 0,03%.
Secara mingguan, rupiah juga membukukan penguatan sebesar 0,36%.
Rupiah mendapat angin segar dari melemahnya dolar AS di pasar global. Tekanan terhadap greenback muncul setelah data inflasi produsen AS kembali mengurangi peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed), pada September mendatang.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 7,062% pada Jumat pekan lalu. Posisi ini adalah yang terendah sejak 18 Juni 2026 atau dua bulan terakhir.
Imbal hasil SBN yang melandai menandai harga SBN yang tengah naik karena banyak dibeli investor.
Dari pasar saham AS, bursa Wall Street anjlok pada perdagangan Senin atau Selasa dini hari waktu Indonesia (17/8/2026).
Indeks S&P turun 0,52% menjadi 7.745,06, sedangkan Nasdaq Composite melemah 0,32% ke level 26.644,91. Dow Jones Industrial Average jatuh 272,63 poin atau 0,51% menjadi 53.459,78.
Perhatian investor tertuju pada konflik di Timur Tengah. Gencatan senjata antara Amerika Serikat (AS) dan Iran berakhir pada Senin, sementara negosiasi kedua pihak mengalami kebuntuan. Iran juga menolak pembicaraan untuk memperpanjang nota kesepahaman tersebut, menurut kantor berita pemerintah Tasnim.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Senin bahwa negaranya akan beralih ke posisi ofensif jika diplomasi dengan AS gagal.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada Fox News bahwa AS akan mengebom Oman jika negara tersebut menghalangi upaya AS.
Harga minyak pun menguat merespons perkembangan tersebut. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 2,6% menjadi US$84,50 per barel, sementara Brent, patokan minyak internasional, naik 2,7% menjadi US$90,87 per barel.
Kenaikan harga minyak turut mendorong imbal hasil (yield) Treasury AS bertenor 30 tahun ke level tertinggi sejak Juni 2007.
“Kami kembali memantau negosiasi secara langsung, dan saya pikir banyak orang hanya menutup mata terhadap hal ini,” kata Jason Stephens, pendiri Evertern Wealth, dikutip dari CNBC International.
Menurutnya, saat ini risiko penurunan harga minyak lebih besar dibandingkan potensi kenaikannya karena masih ada peluang tercapainya kesepakatan, terutama menjelang pemilu paruh waktu AS.
“Tekanan terhadap pemerintahan saat ini sangat besar untuk benar-benar fokus pada masalah ini dan menyelesaikannya,” tambah Stephens.
Di tengah pelemahan pasar, Micron Technology menjadi salah satu titik terang. Saham perusahaan tersebut melonjak 4%.
Pekan lalu, Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan kepada The Wall Street Journal bahwa pemerintahan Trump tidak mendukung rencana Apple membeli chip memori dari China. Bloomberg juga melaporkan bahwa pendapatan Anthropic pada kuartal II mencapai lebih dari US$11,5 miliar, melonjak tajam dibandingkan setahun sebelumnya.
S&P 500 mencetak rekor tertinggi sepanjang masa pada pekan lalu setelah musim laporan keuangan yang kuat berhasil meningkatkan kepercayaan investor. Pasar saham AS terus menguat meski konflik di Timur Tengah masih berlangsung.
Pekan ini, investor menghadapi kalender ekonomi yang relatif lebih sepi. Namun, Federal Reserve (The Fed) akan merilis risalah rapat terbarunya pada Rabu. Sejumlah perusahaan ritel juga akan merilis laporan keuangan, termasuk Walmart pada Kamis. Sementara itu, Home Depot dan Lowe’s masing-masing akan melaporkan kinerja pada Selasa dan Rabu.
Pasar keuangan Indonesia memasuki pekan yang relatif lebih singkat pada 17-23 Agustus 2026 seiring peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada Senin (17/8/2026) yang telah berlangsung. Libur nasional tersebut diperkirakan membuat aktivitas perdagangan di awal pekan lebih sepi, tetapi perhatian pelaku pasar akan segera beralih kepada sejumlah agenda penting Bank Indonesia (BI) yang dimulai hari ini.
Selain itu, di tengah hari kemerdekaan kabar duka menyelinap, kondisi jumlah korban meninggal dunia hingga 17 Agustus mencapai 68 jiwa dalam bencana alam gempa bumi yang melanda NTT.
Dari dalam negeri, pemerintah telah menyampaikan keterangan pemerintah atas Rancangan Undang-Undang tentang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2027 beserta Nota Keuangannya dalam Rapat Paripurna DPR RI.
Investor juga akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Statistik Utang Luar Negeri (SULNI), perkembangan uang beredar (M2), serta Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) kuartal II-2026. Rangkaian data tersebut akan memberikan gambaran terbaru mengenai kondisi likuiditas, stabilitas eksternal, hingga arah kebijakan moneter.
Sementara dari global, sorotan tertuju pada data ekonomi China, risalah rapat Federal Reserve (FOMC Minutes), serta sederet indikator Jepang yang dapat memengaruhi sentimen terhadap dolar AS, rupiah, harga komoditas, dan pasar saham.
1. Pemerintah Belum Buka Opsi Bantuan Asing untuk Tangani Dampak Gempa NTT
Pemerintah menyatakan masih mampu menangani dampak gempa bumi berkekuatan magnitudo 7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) tanpa membuka bantuan dari negara lain.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pemerintah terus memantau perkembangan di lapangan dan menilai seluruh kebutuhan penanganan bencana masih dapat diatasi.
Dia menyebut kebutuhan logistik, pengungsian, serta rencana pembangunan hunian sementara dan hunian tetap telah memasuki tahap identifikasi. Pemerintah optimistis proses penanganan bencana dapat berjalan sesuai rencana.
Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan tidak ada lagi warga yang dinyatakan hilang akibat gempa tersebut, meski tim Basarnas masih bersiaga di tujuh kabupaten terdampak.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan jumlah korban meninggal dunia hingga 17 Agustus mencapai 68 jiwa. Di sisi lain, Kementerian Kesehatan telah mengirimkan dua unit rumah sakit lapangan ke Ruteng, Kabupaten Manggarai, dan Kabupaten Nagekeo untuk mempercepat layanan medis bagi para korban, mengingat sejumlah rumah sakit dan puskesmas ikut terdampak akibat gempa.
Tim SAR melakukan penyisiran bangunan Pelabuhan Laurentius Say Maumere yang rusak akibat gempa di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). (REUTERS/Stringer) Foto: Tim SAR melakukan penyisiran bangunan Pelabuhan Laurentius Say Maumere yang rusak akibat gempa di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), Sabtu (15/8/2026). (REUTERS/Stringer)
|
2. Postur RAPBN 2027 Belanja Rp4.097 T, Defisit Turun ke 2,4%
Presiden Prabowo Subianto menyampaikan Rancangan APBN 2027 beserta Nota Keuangan di DPR RI dengan target pendapatan negara sebesar Rp3.426 triliun atau naik 6,8% dibandingkan outlook 2026.
Belanja negara direncanakan mencapai Rp4.097,2 triliun, meningkat 3,9%, sehingga defisit dijaga di level 2,40% terhadap PDB, lebih rendah dari outlook 2026 sebesar 2,85%. Kebutuhan pembiayaan anggaran diproyeksikan sebesar Rp671,2 triliun atau turun 8,6%.
Belanja negara terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp3.362,2 triliun dan Transfer ke Daerah (TKD) Rp735 triliun.
Belanja pemerintah pusat akan diarahkan untuk mendukung program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), pendidikan, kesehatan, ketahanan pangan, energi, dan perlindungan sosial.
Sementara itu, alokasi TKD meningkat sekitar 6,1% dibandingkan APBN 2026 dan berbalik naik setelah pada outlook 2026 sempat turun 17,9%.
Di sisi pendapatan, penerimaan perpajakan ditargetkan mencapai Rp2.908 triliun yang terdiri dari penerimaan pajak Rp2.591,4 triliun dan kepabeanan serta cukai Rp316,6 triliun, sedangkan PNBP diperkirakan sebesar Rp517,4 triliun dan hibah Rp0,7 triliun.
Target penerimaan pajak tumbuh 12,1% dari outlook 2026, meski penerimaan kepabeanan dan cukai diproyeksikan turun 1,2% dan PNBP menyusut 10%, seiring tidak lagi masuknya dividen BUMN sebagai penerimaan negara setelah pengelolaannya dialihkan ke Danantara. RAPBN 2027 selanjutnya akan dibahas DPR selama 30 hari kerja sebelum disahkan dalam Sidang Paripurna.
3. Perkembangan Perang: Iran Siap Perang Total, Diplomasi dengan AS Buntu
Iran akan mengubah postur militernya menjadi “sepenuhnya ofensif” setelah upaya mencapai kesepakatan damai permanen dengan Amerika Serikat (AS) menemui jalan buntu.
Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters, Teheran siap meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz dan melancarkan serangan militer jika diplomasi gagal. Selat strategis ini merupakan jalur penting bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dan LNG dunia.
Kesepakatan sementara yang dibuat pada Juni telah berakhir pada Senin. Namun, Presiden AS Donald Trump menegaskan Washington tidak berniat memperpanjangnya.
Salah satu isu utama adalah kendali atas Selat Hormuz. Iran mengklaim memiliki hak untuk mengatur jalur tersebut, sementara AS menolak klaim itu.
Di tengah kebuntuan, jalur diplomasi rahasia disebut masih berlangsung antara AS dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran. Namun, Trump justru kembali meningkatkan tensi dengan mengancam Oman yang tengah bernegosiasi dengan Iran terkait pengelolaan selat.
“Jika Oman menghalangi, kami akan membombardir mereka habis-habisan,” kata Trump kepada Fox News.
Konflik telah menewaskan ribuan orang dan mengganggu perdagangan serta produksi energi Iran. Harga minyak Brent kini berada di US$90,87 per barel, setelah sempat menyentuh US$126 per barel selama perang. Di AS, harga bensin juga telah menembus US$4 per galon, dari sebelumnya di bawah US$3.
4. Pertumbuhan Ekonomi Jepang Kuartal II-2026
Produk domestik bruto (PDB) Jepang tumbuh 0,3% secara kuartalan (quarter-to-quarter/qtq) pada kuartal II-2026. Laju tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan kuartal I dan berada di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 0,5%, berdasarkan data awal (flash estimate).
Perlambatan terutama dipicu oleh melemahnya permintaan domestik yang memangkas pertumbuhan ekonomi sebesar 0,2 poin persentase.
Konsumsi rumah tangga tercatat stagnan atau tumbuh 0%, setelah pada kuartal sebelumnya naik 0,3%, sekaligus lebih rendah dari proyeksi ekonom sebesar 0,5%. Tekanan biaya hidup yang masih tinggi terus membatasi belanja masyarakat.
Di sisi lain, investasi atau belanja modal (capital expenditure) kembali terkontraksi 1,2%, lebih dalam dibandingkan penurunan 1,0% pada kuartal I.
Pelemahan ini mencerminkan memburuknya sentimen dunia usaha serta meningkatnya ketidakpastian terhadap prospek ekonomi, berlawanan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 0,4%.
Sementara itu, sektor eksternal menjadi penopang utama pertumbuhan. Permintaan luar negeri memberikan kontribusi 0,5 poin persentase terhadap PDB setelah ekspor naik 0,5% dan impor turun 1,5%, berbalik arah dari kenaikan impor 0,3% pada kuartal sebelumnya.
Meski demikian, para ekonom memperingatkan pertumbuhan ekonomi Jepang berpotensi kembali melambat pada kuartal III-2026. Kenaikan harga akibat dampak perang di Timur Tengah diperkirakan akan semakin menekan daya beli rumah tangga sekaligus meningkatkan beban biaya perusahaan.
5. Produksi Industri China
Produksi industri China tumbuh 4,5% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juli 2026. Angka ini melambat dibandingkan pertumbuhan 5,3% pada Juni, yang merupakan laju tercepat dalam tiga bulan terakhir, sekaligus lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 5,0%.
Perlambatan terjadi di tengah lemahnya permintaan domestik serta gangguan cuaca ekstrem yang memengaruhi aktivitas produksi.
Sektor manufaktur masih tumbuh, tetapi lajunya melambat menjadi 5,5% dari 6,0% pada Juni. Pertumbuhan sektor listrik, panas, gas, dan air juga turun menjadi 5,0% dari 7,4%. Sementara itu, produksi sektor pertambangan terkontraksi 4,2%, lebih dalam dibandingkan penurunan 2,2% pada bulan sebelumnya.
Di dalam sektor manufaktur, sebanyak 25 dari 41 industri utama masih mencatatkan pertumbuhan.
Kenaikan tertinggi terjadi pada industri komputer dan peralatan komunikasi yang melonjak 19,1%, disusul industri perkeretaapian dan pembuatan kapal 13,6%, peralatan khusus 12,6%, peralatan umum 9,5%, otomotif 8,7%, minyak dan gas 6,1%, mesin listrik 5,3%, pengolahan hasil pertanian dan makanan 3,8%, serta tekstil 2,3%.
Sebaliknya, beberapa sektor masih mengalami kontraksi, di antaranya industri kimia yang turun 1,2%, pertambangan dan pencucian batu bara yang merosot 10,8%, serta produk mineral non-logam yang melemah 3,3%.
Secara kumulatif, produksi industri China pada periode Januari hingga Juli 2026 tumbuh 5,3% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sementara itu, secara bulanan (month-to-month/mtm), produksi industri meningkat 0,11% pada Juli.
6. Penjualan Ritel China
Masih dari negeri tirai bambu penjualan ritel China hanya tumbuh 0,6% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Juli 2026. Laju tersebut melambat dibandingkan pertumbuhan 1,0% pada Juni dan jauh di bawah ekspektasi pasar yang memperkirakan kenaikan 1,5%.
Lemahnya konsumsi, terutama untuk barang bernilai besar, masih menjadi faktor utama yang menahan pertumbuhan. Penjualan mobil anjlok 17,0% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Namun, jika penjualan kendaraan bermotor dikecualikan, penjualan ritel masih mampu tumbuh 2,5%.
Beberapa kelompok barang juga mencatatkan penurunan penjualan, antara lain produk minyak bumi yang turun 7,6%, furnitur 8,8%, serta bahan bangunan 14,2%. Sebaliknya, sejumlah kategori masih menunjukkan pertumbuhan kuat, seperti peralatan komunikasi yang melonjak 20,4%, kosmetik 6,8%, rokok dan minuman beralkohol 6,0%, serta produk makanan yang naik 5,3%.
Berdasarkan jenis usaha, pendapatan sektor katering meningkat 1,4%, sedangkan penjualan barang ritel tumbuh 0,5%. Sementara itu, penjualan ritel barang secara daring (online) naik 4,6% selama periode Januari hingga Juli 2026.
Secara bulanan (month-to-month/mtm), penjualan ritel meningkat 0,06%, melambat dibandingkan kenaikan 0,35% pada bulan sebelumnya.
Secara kumulatif, total penjualan ritel China selama Januari hingga Juli 2026 tumbuh 1,2% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jika penjualan mobil dikeluarkan dari perhitungan, pertumbuhan penjualan ritel mencapai 2,7%.
7. Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia
Bank Indonesia memulai Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada hari ini Selasa dan besok Rabu (18-19/08/2026) dan akan mengumumkan kebijakan pada Rabu pekan ini.
BI diperkirakan akan menahan suku bunga 5,75% pada bulan ini setelah mengerek BI rate dengan agresif sebesar 75 bps pada April-Juni 2026.
Pasar akan menunggu arah kebijakan suku bunga di tengah stabilnya inflasi domestik, perkembangan nilai tukar rupiah, dan ketidakpastian global.
selain keputusan suku bunga, investor juga akan memperhatikan pandangan BI mengenai kondisi ekonomi domestik, likuiditas perbankan, serta prospek pertumbuhan kredit hingga akhir tahun.
8. Statistik Utang Luar Negeri Indonesia Juni 2026
Bank Indonesia juga akan merilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) Juni pada hari ini, Selasa (18/8/2026).
Data ini menjadi salah satu indikator penting untuk mengukur ketahanan sektor eksternal Indonesia, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan pembiayaan dan masih tingginya volatilitas pasar keuangan global.
Pada Mei 2026, posisi utang luar negeri Indonesia mencapai US$444,40 miliar atau sekitar Rp8.000 triliun, meningkat dari US$440,25 miliar pada April. Nilai tersebut menjadi yang tertinggi sejak rangkaian data tersedia pada 2007 dan tumbuh sekitar 2,1% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Kenaikan utang terjadi baik pada kelompok pemerintah maupun swasta secara bulanan. Posisi utang pemerintah meningkat menjadi US$217,33 miliar dari US$216,42 miliar pada April, sementara utang swasta naik menjadi US$195,93 miliar dari US$193,72 miliar.
Meski demikian, secara tahunan utang swasta masih mencatat penurunan tipis, menunjukkan perusahaan masih relatif berhati-hati dalam menambah pembiayaan dari luar negeri.
9. Risalah FOMC
Bank sentral AS The Fed akan merilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia (20/8/2026). Risalah yang merangkum rapat Teh Fed pada Juli 2026 ini diharapkan bisa menjadi petunjuk bagi pelaku pasar dan dunia pad umumnya mengenai arah kebijakan The Fed ke depan.
Sebagai catatan, The Fed mempertahankan suku bunga acuan federal funds rate di level 3,50%-3,75% pada Juli 2026, untuk kelima kali berturut-turut, sesuai dengan ekspektasi pasar. Keputusan ini diambil meski pasar sebelumnya memperkirakan peluang kenaikan suku bunga sekitar satu banding tiga.
Menariknya, tiga anggota FOMC berbeda pendapat (dissent) dan memilih menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin. Hal ini membuka peluang bagi The Fed untuk menaikkan suku bunga pada pertemuan September.
Bank sentral AS menyatakan aktivitas ekonomi masih tumbuh dengan solid, meski ketidakpastian meningkat, antara lain akibat konflik di Timur Tengah. Pertumbuhan produktivitas dan investasi modal tetap kuat. Pertumbuhan lapangan kerja masih sejalan dengan pertumbuhan angkatan kerja, sementara tingkat pengangguran relatif tidak banyak berubah.
Di sisi lain, inflasi masih berada di atas target 2%, salah satunya akibat guncangan pasokan yang mendorong kenaikan harga di sejumlah sektor, termasuk energi. The Fed kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas harga.
10. Neraca Pembayaran Indonesia dan Transaksi Berjalan
Bank Indonesia akan mengumumkan data penting pada Kamis pekan ini (20/8/2026) yakni Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan Transaksi Berjlan untuk kuartal Ii-2026.
Data ini akan mencerminkan kekuatan Indonesia dalam menghadapi tekanan eksternal. Jika Transaksi Berjalan memburuk maka rupiah dikhawatirkan akan melemah lagi.
Sebagai catatan, NPI mencatatkan defisit terbesar sepanjang sejarah pada kuartal I-2026, setidaknya dalam catatan yang ada yakni sejak 2004.
NPI kuartal I-2026 mengalami defisit sebesar US$9,1 miliar.
Angka ini menjadi catatan yang cukup mengejutkan karena bukan hanya menunjukkan tekanan besar pada sektor eksternal, tetapi juga menjadi defisit terdalam sejak pencatatan data NPI kuartalan yang tersedia di BI sejak 2004.
Defisit tersebut berbanding terbalik dengan posisi kuartal sebelumnya.
Pada kuartal IV-2025, NPI masih mencatat surplus US$6,1 miliar. Bila dibandingkan dengan kuartal I-2025, tekanan yang terjadi juga jauh lebih dalam.
Pada kuartal I-2025, NPI tercatat defisit US$787 juta. Dengan demikian, defisit NPI pada awal tahun ini membengkak lebih dari 11 kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Transaksi Berjalan Indonesia juga kembali mencatat defisit cukup dalam pada kuartal I-2026. Bank Indonesia mencatat, Transaksi Berjalan mengalami defisit sebesar US$4,0 miliar atau setara 1,1% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Defisit ini melebar dibandingkan kuartal IV-2025 yang sebesar US$2,47 miliar atau sekitar 0,7% dari PDB. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, tekanannya juga jauh lebih besar. Pada kuartal I-2025, Transaksi Berjalan hanya mencatat defisit sekitar US$200 juta atau 0,1% dari PDB.
Dengan posisi tersebut, defisit Transaksi Berjalan pada kuartal I-2026 menjadi yang terdalam sejak kuartal IV-2019. Saat itu, transaksi berjalan Indonesia mencatat defisit US$8,04 miliar.
11. Perkembangan Uang Beredar Juli 2026
BI akan rilis data uang beredar Juli 2026 pada Kamis pekan ini (20.8/2026).
Sebagai catatan, likuiditas perekonomian atau uang beredar dalam arti luas (M2) tumbuh positif pada Juni 2026.
Posisi M2 pada Juni 2026 tercatat sebesar Rp10.432,8 triliun atau tumbuh sebesar 8,7% (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada Mei 2026 sebesar 10,8% (yoy).
Perkembangan tersebut didorong oleh pertumbuhan uang beredar sempit (M1) sebesar 9,8% (yoy) dan uang kuasi sebesar 6,9% (yoy).
Perkembangan M2, kata BI, pada Juni 2026 terutama dipengaruhi oleh penyaluran kredit dan tagihan bersih kepada Pemerintah Pusat (Pempus).
BI juga mencatat Penyaluran kredit tumbuh sebesar 12,1% (yoy), meningkat dibandingkan dengan pertumbuhan sebesar 10,8% (yoy) pada Mei 2026.
Sementara itu, tagihan bersih kepada Pempus tumbuh sebesar 10,1% (yoy), melanjutkan pertumbuhan sebesar 37,4% (yoy) pada Mei 2026.
BI mencatat Uang Primer (M0) adjusted 2 pada Juni 2026 tumbuh 13,8% (yoy), melanjutkan pertumbuhan pada Mei 2026 sebesar 14,2% (yoy) sehingga tercatat sebesar Rp2.228,0 triliun.
Perkembangan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan uang kartal yang diedarkan sebesar 14,0% (yoy) dan giro bank umum di Bank Indonesia adjusted sebesar 12, 6%.
Berdasarkan faktor yang memengaruhinya, pertumbuhan M0 adjusted telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas (pengendalian moneter adjusted).
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- Hari Pertama Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia
- Statistik Utang Luar Negeri Indonesia Juni 2026
-
Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi di Kementerian Dalam Negeri, Jakarta Pusat
-
Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kementerian Keuangan menggelar konferensi pers penindakan ekspor 22 kg emas batangan di Terminal 3 Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Narasumber: Direktur Jenderal Bea dan Cukai
-
Rapat Paripurna ke-2 Dewan Perwakilan Rakyat Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026-2027 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat. Agenda: Tanggapan Fraksi-Fraksi Terhadap RUU APBN TA 2027\
-
Rapat Koordinasi terkait finalisasi Peraturan Presiden tentang Ojek Online di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
RUPS PT Gunung Raja Paksi Tbk.
RUPSPT Victoria Insurance Tbk.
RUPS Krakatau Steel (Persero) Tbk
RUPS PT Menteng Heritage Realty Tbk.
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Mark Dynamics Indonesia Tbk.
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH

Leave a comment