Home Finance AI Bikin Siswa Jago Kerjakan Tugas, Tapi Otaknya Tumpul Saat Ujian
Finance

AI Bikin Siswa Jago Kerjakan Tugas, Tapi Otaknya Tumpul Saat Ujian

Share
AI Bikin Siswa Jago Kerjakan Tugas, Tapi Otaknya Tumpul Saat Ujian
Share


Jakarta, CNBC Indonesia – Kecerdasan buatan (AI) kini menjadi bagian dari aktivitas belajar siswa dan mahasiswa. Penggunaannya bahkan sudah sangat luas di negara-negara maju.

Survei Chegg tahun lalu menunjukkan 80% mahasiswa di negara maju menggunakan AI untuk membantu studi mereka. Angka tersebut melonjak dalam survei terbaru, mencapai 94% di Inggris dan 93% di Jerman.

Namun, di balik kemudahan yang ditawarkan AI, muncul persoalan serius. Teknologi yang membuat siswa lebih cepat mengerjakan tugas ternyata bisa membuat kemampuan mereka menghadapi ujian justru merosot.

Penelitian David Stromberg dari Stockholm University bersama Victor Lei dan Wu Yanhui dari University of Hong Kong terhadap 27.000 siswa berusia 12-18 tahun di China menemukan fakta mengejutkan.

Sekitar 80% siswa mengaku menggunakan AI seperti Doubao dan DeepSeek. Setelah enam bulan, nilai pekerjaan rumah mereka rata-rata naik 18% di berbagai mata pelajaran.

Bukan hanya nilainya yang meningkat. Waktu pengerjaan tugas juga turun drastis, dari rata-rata 64 menit menjadi 45 menit.

Tetapi ketika masuk ruang ujian, keunggulan tersebut lenyap.




Perbandingan nilai PR memakai dan tanpa AIPerbandingan nilai PR memakai dan tanpa AI Foto: Economist

 

Siswa yang menggunakan AI justru mencatat nilai ujian 20% lebih rendah dibandingkan siswa yang tidak menggunakannya.

Temuan ini mengubah anggapan bahwa nilai tugas yang tinggi selalu mencerminkan kemampuan belajar.

Sebelum era AI, nilai pekerjaan rumah cukup bisa digunakan untuk memperkirakan performa siswa dalam ujian. Kini, siswa dengan nilai tugas tertinggi justru bisa menjadi kelompok yang paling berisiko tampil buruk saat ujian.




rata-rata nilai tugasrata-rata nilai tugas Foto: Economist

 

Lantas, apakah sekolah harus melarang AI? Tidak sesederhana itu.

Penurunan nilai ujian terutama terjadi pada siswa yang menggunakan AI untuk mempercepat penyelesaian tugas. Sebaliknya, siswa yang menggunakan AI tetapi tetap meluangkan waktu pengerjaan seperti siswa yang tidak menggunakan AI hanya mengalami sedikit penurunan performa.

Ini menunjukkan satu hal penting yakni AI bukan masalahnya. Cara siswa menggunakannya yang menentukan.

Siswa yang tetap mampu mempertahankan performa ujian tidak sekadar meminta chatbot memberikan jawaban lalu melakukan copy-paste. Mereka cenderung menggunakan AI sebagai tutor pribadi, misalnya untuk menjelaskan konsep yang sulit, menguji pemahaman, atau membantu memecahkan soal tertentu.




rata-rata nilai ujianrata-rata nilai ujian Foto: Economist

 

AI Bisa Membantu Otak, Bisa Juga “Mematikan” Otak

Temuan tersebut sejalan dengan penelitian lain oleh Zara Contractor dan Germán Reyes dari Middlebury College.

Mahasiswa yang mempelajari topik baru dengan bantuan chatbot mencatat nilai tes lebih tinggi dibandingkan mereka yang belajar tanpa AI. Keunggulan itu bahkan masih terlihat ketika tes diulang satu minggu kemudian.

Artinya, AI memang bisa menjadi alat belajar yang efektif. Tetapi ada batas yang jelas.

Jika AI digunakan untuk berpikir, ia dapat memperkuat proses belajar. Jika AI digunakan untuk menggantikan proses berpikir, hasilnya justru bisa menjadi bumerang.

Pelajar kini menghadapi godaan baru: sebelum sempat memikirkan sebuah soal, mereka bisa langsung meminta AI memberikan jawabannya.

Di sinilah persoalan pendidikan memasuki babak baru.

AI mungkin membuat siswa lebih produktif mengerjakan tugas. Tetapi jika setiap kesulitan langsung diserahkan kepada mesin, siswa bisa kehilangan kemampuan yang sebenarnya diuji di ruang kelas: berpikir sendiri.

(mae/mae)

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *