Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan sangat bergantung pada arah kebijakan yang akan disampaikan pada sidang tahunan MPR dan nota keuangan di Gedung DPR RI hari ini.
Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Kondisi IHSG yang putar balik kemarin juga dirasakan oleh mayoritas saham. Pagi tadi jumlah saham yang di zona hijau masih lebih banyak dibandingkan dengan yang terkoreksi.
Pada akhir perdagangan sebanyak 186 saham menguat, 474 saham melemah, dan 303 saham lainnya stagnan. Kapitalisasi pasar tercatat sebesar Rp11.050 triliun.
Sehingga apabila data ditarik secara year-to-date bursa saham mengalami net foreign outflow sebesar Rp 71,84 triliun di all market dan Rp 96,56 triliun di reguler market.
Dari pasar saham Amerika, bursa Wall Street kompak menguat pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia.
Indeks S&P 500 mencetak rekor tertinggi intraday baru pada Kamis, seiring harga minyak turun dan investor mencerna data inflasi terbaru.
Indeks S&P naik 0,65% dan untuk pertama kalinya menembus level 7.800. S&P 500 juga mencatat rekor penutupan di 7.798,99.
Sementara itu, Nasdaq Composite menguat 0,81% ke level 26.803,03, didorong kenaikan saham Meta Platforms, Micron Technology, dan Netflix. Dow Jones Industrial Average naik tipis 0,13%, atau 69,72 poin, menjadi 53.839,99.
Harga minyak turun lebih dari 2%
Kontrak berjangka minyak mentah Brent turun lebih dari 2% dan ditutup di US$87,07 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) juga merosot lebih dari 2% ke US$81,25 per barel.
Penurunan harga minyak terjadi ketika investor mempertimbangkan melemahnya permintaan minyak, di tengah perang AS-Iran yang masih berlangsung.
Inflasi AS lebih jinak
Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk Juli tidak mengalami perubahan alias 0% secara bulanan.
Angka tersebut lebih rendah dari ekspektasi ekonom yang disurvei Dow Jones, yang memperkirakan PPI naik 0,2%.
Tidak termasuk harga pangan dan energi yang volatil, core PPI naik 0,2%, sedikit di bawah ekspektasi ekonom sebesar 0,3%.
Data PPI yang lebih rendah dari perkiraan tersebut muncul sehari setelah rilis Indeks Harga Konsumen (CPI).
CPI AS pada Juli naik 0,1% secara bulanan, sesuai dengan ekspektasi pasar. Data inflasi yang relatif jinak tersebut membantu mendorong S&P 500 menguat setelah sebelumnya turun selama dua sesi berturut-turut.
Data tersebut juga membuat investor mengurangi ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed pada September.
“Gambaran inflasi saat ini belum cukup untuk menggagalkan pasar yang pada dasarnya masih didorong oleh kinerja laba perusahaan,” kata Bill Merz, kepala riset pasar modal di U.S. Bank Asset Management, dikutip dari CNBC International.
Menurutnya, pasar masih menunggu bagaimana The Fed di bawah Ketua baru Kevin Warsh akan menafsirkan data inflasi tersebut dan menentukan kebijakan selanjutnya.
Namun, ia menilai moderasi bertahap pada angka CPI dan PPI saat ini merupakan perkembangan yang positif bagi pasar.
Saham Cisco tertekan. Saham Cisco Systems menjadi salah satu pemberat utama pasar pada Kamis. Saham perusahaan tersebut anjlok lebih dari 8% setelah laporan keuangan kuartal terbarunya gagal memenuhi ekspektasi investor.
Saham Cerebras juga merosot hampir 12%, sedangkan Coherent turun sekitar 8% setelah keduanya merilis laporan kinerja terbaru.
Hari ini menjadi hari penting bagi pasar keuangan RI karena adanya acara krusial yakni Pidato Kenegaraan dan penyampaian Nota Keuangan pada Sidang Tahunan MPR RI di Gedung DPR RI yang akan dimulai pada 08.30 WIB.
Sidang Bersama DPR, MPR, dan DPD RI menjadi penting karena Presiden Prabowo Subianto akan menyampaikan Pidato Kenegaraan sekaligus memaparkan arah kebijakan fiskal pemerintah untuk tahun anggaran 2027.
Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya yang digelar pada 16 Agustus, Sidang Bersama tahun ini dimajukan dua hari karena 16 Agustus 2026 jatuh pada Minggu.
Prabowo dijadwalkan menyampaikan Pidato Kenegaraan pada pagi hari. Pada siang harinya, Presiden akan menyampaikan Pidato Pengantar/Keterangan Pemerintah atas Rancangan Undang-Undang (RUU) APBN 2027 sekaligus Nota Keuangan.
Dua pidato tersebut akan menjadi sinyal penting bagi pasar.
Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan Pidato Kenegaraan tahunannya, menjelang Hari Kemerdekaan negara ini, di Jakarta, Indonesia, 15 Agustus 2025. (BAY ISMOYO/Pool via REUTERS) Foto: Presiden Indonesia Prabowo Subianto menyampaikan Pidato Kenegaraan tahunannya, menjelang Hari Kemerdekaan negara ini, di Jakarta, Indonesia, 15 Agustus 2025. (via REUTERS/BAY ISMOYO)
|
Melalui Pidato Kenegaraan, Prabowo akan menyampaikan pencapaian 2026 dan prioritas pemerintah ke depan. Publik menunggu program prioritas apa saja yang akan menjadi tulang punggung 2027.
Program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) juga menjadi salah satu hal yang dinanti. Pasalnya, program tersebut bukan hanya menyangkut belanja negara, tetapi juga berkaitan dengan daya beli masyarakat, penyerapan produk dalam negeri, hingga aktivitas ekonomi di daerah.
Namun, perhatian terbesar pelaku pasar akan tertuju pada RAPBN 2027.
Lewat Nota Keuangan, pemerintah akan menunjukkan seberapa besar negara akan membelanjakan uang, dari mana pendapatan akan diperoleh, serta bagaimana pemerintah membiayai berbagai program prioritasnya.
Sejumlah indikator makro juga akan menjadi sorotan, mulai dari target pertumbuhan ekonomi, inflasi, nilai tukar rupiah, lifting minyak dan gas, hingga asumsi harga minyak mentah Indonesia (Indonesia Crude Oil Price/ICP).
Angka-angka tersebut bukan sekadar target di atas kertas. Bagi investor, angka tersebut menjadi gambaran mengenai arah kebijakan fiskal pemerintah. Bagi dunia usaha, angka tersebut menjadi petunjuk mengenai prospek permintaan, investasi, biaya usaha, hingga peluang bisnis pada 2027.
Sebelumnya dalam Rapat Paripurna DPR RI ke-23 Masa Persidangan V Tahun Sidang 2025-2026, DPR menyampaikan dalam rapat pembahasan Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-Pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2027, Badan Anggaran DPR (Banggar) dan pemerintah menyepakati RAPBN 2027, di mana pihaknya menargetkan pertumbuhan ekonomi di 2027 mencapai sekitar 5,8% hingga 6,5%.
“Dengan sasaran dan indikator pembangunan tahun 2027, telah disepakati, sasaran pembangunan untuk pertumbuhan ekonomi target tahun 2027 mencapai 5,8% sampai 6,5%,” kata Wihadi dalam Rapat Paripurna, dikutip Jumat (3/7/2026).
Setelah adanya kesepakatan ini, pemerintah nantinya akan menjadikan rentang ukuran rancangan awal RAPBN 2027 sebagai bahan untuk menetapkan angka usulan awal Rancangan Undang-Undang (RUU) Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) beserta Nota Keuangannya pada 16 Agustus 2026.
RUU APBN 2027 itu nantinya akan dibahas lebih detail lagi bersama dengan Komisi XI DPR sebelum akhirnya ditetapkan sebagai UU pada akhir Oktober 2026.
Dalam kesepakatan awal, pemerintah dan Banggar DPR menyepakati sejumlah acuan awal dalam penyusunan RAPBN 2027, mulai dari asumsi ekonomi makro, target pembangunan, hingga postur makro fiskal.
Pidato Kenegaraan dan Nota Keuangan juga menjadi ujian penting bagi pasar saham Indonesia. Investor ingin melihat apakah arah fiskal pemerintah mampu memperbaiki kepercayaan dan menarik kembali dana asing setelah net sell besar sepanjang 2026.
Kemarin, MSCI telah mengumumkan August 2026 Index Review. Namun, review tersebut bukan penentuan ulang perlakuan terhadap Indonesia karena kebijakannya sudah ditetapkan sejak 6 Juli. Evaluasi yang lebih menentukan baru mengarah ke November 2026.
Pada perdagangan kemarin, IHSG ditutup turun 1,13% ke 6.301,77 setelah sempat menyentuh 6.390,33. Sejalan dengan indeks yang terkoreksi, asing membukukan net sell Rp1,41 triliun di seluruh pasar dan Rp1,39 triliun di pasar reguler, setelah mencatatkan net buy Rp725,4 miliar pada Rabu sebelumnya.
Dalam tiga perdagangan setelah 10 Agustus, foreign outflow mencapai sekitar Rp1,37 triliun. Pembalikan itu menghapus sinyal awal dari pembelian bersih dua hari sebelumnya, sementara net sell asing sepanjang 2026 mencapai Rp71,84 triliun di seluruh pasar.
Foreign Outflow Masih Menjadi Beban
Dari 144 hari perdagangan sampai 13 Agustus, asing hanya mencatatkan net buy pada 50 hari dan net sell pada 94 hari. Artinya, hampir dua dari setiap tiga hari perdagangan tahun ini diwarnai penjualan bersih asing.
Juli membuktikan IHSG dapat naik tanpa pembelian asing yang merata. Indeks melonjak 10,51%, meskipun asing mencatatkan net sell dalam 16 dari 23 hari perdagangan.
Namun, surplus asing Juli sangat bergantung pada net buy Rp8,97 triliun tanggal 29 Juli. Tanpa transaksi besar tersebut, Juli sebenarnya masih mencatatkan net sell sekitar Rp7,35 triliun.
Artinya, likuiditas domestik dapat menghasilkan rally jangka pendek. Tetapi untuk membentuk tren yang lebih panjang dan merata, IHSG tetap membutuhkan foreign inflow yang konsisten.
MSCI Agustus Sudah Final, November Jadi Ujian Besar
MSCI secara resmi mengumumkan August 2026 Index Review pada 12 Agustus waktu setempat atau 13 Agustus dini hari waktu Indonesia yang akan diimplementasikan pada 1 September. Hasilnya, tidak ada saham Indonesia yang ditambahkan ke MSCI Global Standard Indexes.
MSCI telah menetapkan bahwa kenaikan Foreign Inclusion Factor dan Number of Shares untuk saham Indonesia tetap dibekukan. Tidak ada penambahan saham Indonesia ke Investable Market Indexes maupun perpindahan naik dari Small Cap menuju Standard Index.
Risiko Agustus telah terlihat secara teknis, yaitu GOTO dikeluarkan dari MSCI Indonesia Investable Market Index, CPIN turun dari Global Standard menuju Global Small Cap, serta sembilan saham dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Indexes. Perubahan tersebut berlaku setelah penutupan perdagangan 31 Agustus atau efektif pada 1 September.
Ujian yang lebih menentukan berada pada November. MSCI akan menilai apakah reformasi transparansi kepemilikan, pengawasan konsentrasi pemegang saham dan perbaikan free float sudah diterapkan secara konsisten.
Jika kemajuan Indonesia dinilai belum memadai, MSCI dapat mempertimbangkan langkah lanjutan, termasuk membuka konsultasi mengenai kemungkinan perubahan status Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market. Namun, Indonesia tidak otomatis turun kelas pada November.
Dengan demikian, Nota Keuangan menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk memperkuat kepercayaan investor selama tiga bulan menuju evaluasi tersebut.
Domestik Menahan Pasar, Asing Dibutuhkan untuk Rally
Pasar saham Indonesia tidak sepenuhnya ditopang investor ritel. Data perdagangan dan kepemilikan memperlihatkan peranan besar institusi domestik.
Investor domestik mampu menahan penurunan dan memicu rebound. Namun, foreign inflow tetap dibutuhkan karena kepemilikan asing pada saham-saham berkapitalisasi besar masih signifikan dan sangat menentukan arah IHSG.
Fundamental emiten sebenarnya cukup mendukung. Dari 763 perusahaan dalam data semester I, sekitar 65,4% mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan 60% membukukan perbaikan laba atau berbalik untung. Hambatan pasar bukan semata-mata kinerja perusahaan, tetapi belum tersedianya arus dana yang cukup besar untuk melakukan repricing.
IHSG Terbang ke 8.000 Saat Pidato Kenegaraan 2025, Bagaimana Tahun Ini?
Pengalaman 2025 memperlihatkan pidato Nota Keuangan dapat memunculkan optimisme, tetapi tidak menjamin kenaikan berkelanjutan. Pada 15 Agustus 2025 tepat saat Prabowo akan menyampaikan Pidato Kenegaraan, IHSG sempat menyentuh 8.017 secara intraday, tetapi akhirnya ditutup turun 0,41% ke 7.898,38.
Dari posisi 6.301,77, IHSG membutuhkan kenaikan sekitar 2,4% untuk mencapai 6.450 pada hari ini. Level itu paling mungkin dicapai apabila tekanan teknis setelah review MSCI mereda, rupiah tetap stabil dan Nota Keuangan menunjukkan program yang sangat kredibel, defisit terkendali serta pembiayaan utang yang terukur.
Namun, kunci utamanya tetap foreign inflow. Net buy Rp1,56 triliun sepanjang 1-12 Agustus merupakan awal yang solid, tetapi net sell Rp1,41 triliun di seluruh pasar pada 13 Agustus menunjukkan arus tersebut belum konsisten.
IHSG membutuhkan foreign inflow besar dan kuat pada hari ini agar mampu ditutup di atas 6.450 sekaligus membentuk candle mingguan yang sangat positif.
Penutupan mingguan di atas level tersebut menjadi penting untuk memperkuat momentum kenaikan dan membuka peluang rally lanjutan di IHSG, mengingat kenangan manis pada momen yang sama tahun lalu ketika IHSG sempat menyentuh level 8.000 untuk pertama kali dalam sejarah.
Pasar keuangan Indonesia pada Jumat (14/8/2026) akan mencerna penurunan inflasi produsen Amerika Serikat (AS), kenaikan klaim pengangguran, serta hasil peninjauan indeks MSCI untuk saham-saham Indonesia.
Perhatian berikutnya akan tertuju pada penjualan ritel AS dan data PDB Area Eropa.
Inflasi Produsen Jepang Melandai
Inflasi produsen Jepang periode Juli yang diumumkan pada Kamis kemarin tumbuh 7,2% secara tahunan, melambat dari 7,3% pada Juni dan lebih rendah dibandingkan konsensus 7,4%.
Secara bulanan, Producer Price Index (PPI) hanya naik 0,1%, jauh di bawah perkiraan 0,6% dan melambat dari kenaikan 0,5% pada bulan sebelumnya.
Data tersebut menunjukkan tekanan biaya yang diterima perusahaan Jepang mulai mereda. Kondisi ini dapat mengurangi risiko kenaikan harga yang lebih agresif ke tingkat konsumen sekaligus sedikit menurunkan tekanan terhadap Bank of Japan untuk segera memperketat kebijakan moneter.
Meski demikian, pertumbuhan tahunan sebesar 7,2% masih tergolong tinggi. Artinya, perusahaan tetap menghadapi tekanan biaya bahan baku dan impor, terutama apabila yen kembali melemah. Bagi pasar, hasil yang lebih rendah dari perkiraan cenderung menahan kenaikan yield obligasi Jepang dan membatasi penguatan yen.
Inflasi Produsen AS Lebih Rendah dari Perkiraan
PPI AS periode Juli yang diumumkan kemarin tidak mengalami pertumbuhan secara bulanan atau 0%, lebih rendah dibandingkan konsensus kenaikan 0,2%. Angka Juni direvisi menjadi kontraksi 0,1%.
Secara tahunan, inflasi produsen melambat tajam menjadi 4,7% dari 5,5% dan lebih rendah dibandingkan perkiraan 4,9%. PPI inti juga turun menjadi 4,2% secara tahunan dari 4,7%, sesuai ekspektasi pasar. Secara bulanan, PPI inti naik 0,2%, sedikit di bawah perkiraan 0,3%.
Harga barang produsen turun 0,7%, termasuk penurunan harga energi sebesar 3,1%. Sementara harga jasa masih meningkat 0,2%. Data ini menunjukkan tekanan harga dari tingkat produsen mulai mereda, meskipun inflasi inti masih berada pada level tinggi.
Hasil tersebut cenderung positif bagi aset berisiko karena dapat menurunkan kekhawatiran bahwa tekanan biaya akan kembali diteruskan kepada konsumen.
Klaim Pengangguran AS Naik
Pada waktu yang sama, klaim awal tunjangan pengangguran AS meningkat menjadi 209.000 pada pekan yang berakhir 8 Agustus. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan konsensus 202.000 dan realisasi pekan sebelumnya yang direvisi menjadi 200.000.
Kenaikan klaim awal menunjukkan bertambahnya pekerja yang kehilangan pekerjaan. Namun, klaim lanjutan justru turun menjadi 1,777 juta dari 1,799 juta dan lebih rendah dibandingkan perkiraan 1,8 juta.
Kombinasi kedua data tersebut memberikan gambaran yang relatif seimbang. PHK mulai meningkat, tetapi jumlah penerima tunjangan berkelanjutan menurun sehingga belum menunjukkan pelemahan serius di pasar tenaga kerja.
Bagi pasar, kenaikan klaim awal bersama melandainya PPI dapat memperkuat harapan bahwa The Federal Reserve tidak perlu mempertahankan kebijakan terlalu ketat. Kondisi ini berpotensi menekan dolar dan yield obligasi AS sekaligus memberikan ruang penguatan bagi rupiah serta aset negara berkembang.
Penjualan Ritel AS Jadi Penentu Berikutnya
Agenda paling penting pada Jumat adalah penjualan ritel AS periode Juli yang akan diumumkan pukul 19.30 WIB. Pertumbuhan penjualan diperkirakan melambat menjadi 0,1% secara bulanan dari 0,2% pada Juni.
Namun, penjualan di luar kendaraan diperkirakan berbalik tumbuh 0,2% setelah turun 0,2%. Sementara kelompok kontrol penjualan ritel, yang menjadi salah satu komponen dalam perhitungan konsumsi terhadap produk domestik bruto, diproyeksikan naik 0,3% setelah tumbuh 0,5%.
Data yang terlalu kuat dapat kembali mendorong yield obligasi dan dolar AS karena menunjukkan konsumsi masih tahan terhadap suku bunga tinggi. Sebaliknya, realisasi yang moderat dapat menjadi skenario lebih positif bagi IHSG: inflasi produsen melandai tanpa disertai pelemahan konsumsi yang terlalu dalam.
Secara keseluruhan, sentimen global untuk Jumat cenderung lebih kondusif setelah PPI AS melandai. Namun, pergerakan saham Indonesia juga berpotensi lebih selektif karena pasar mulai mengantisipasi arus dana akibat perubahan indeks MSCI.
PDB Zona Euro Kembali Tumbuh
Dari Eropa, estimasi kedua pertumbuhan ekonomi Zona Euro kuartal II akan diumumkan pada Jumat pukul 16.00 WIB. Pasar memperkirakan pertumbuhan dikonfirmasi sebesar 0,4% secara kuartalan, setelah ekonomi tidak tumbuh atau 0% pada kuartal I.
Secara tahunan, produk domestik bruto diperkirakan tumbuh 1%, meningkat dari 0,5% pada kuartal sebelumnya. Estimasi awal menunjukkan pemulihan ditopang sejumlah negara, termasuk Spanyol yang tumbuh 0,7%, Jerman 0,2%, Prancis 0,2%, dan Italia 0,2%.
Irlandia mencatat pertumbuhan 3,9%, tetapi perekonomiannya relatif volatil sehingga dapat mempengaruhi angka agregat kawasan.
Apabila pertumbuhan dikonfirmasi atau direvisi naik, pasar dapat menilai ekonomi Eropa mulai pulih setelah stagnasi pada awal tahun. Kondisi tersebut berpotensi memperkuat euro sekaligus mengurangi kebutuhan Bank Sentral Eropa untuk segera melonggarkan kebijakan.
Sebaliknya, revisi turun akan menunjukkan pemulihan masih rapuh. Pelemahan euro dapat memperkuat indeks dolar AS dan secara tidak langsung menambah tekanan terhadap rupiah. Karena itu, data ini akan menjadi perhatian sebelum pasar beralih ke penjualan ritel AS pada malam harinya.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
-
Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR dan DPD dalam Rangka HUT ke-81 RI di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat.
-
Rapat Paripurna DPR dalam Rangka Penyampaian RUU APBN TA 2027 di Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta Pusat
-
Konferensi Pers terkait Nota Keuangan RUU APBN TA 2027 di Aula Cakti Buddhi Bakti, kantor pusat Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan, Jakarta Selatan.
- Penjualan Ritel AS Juli 2026
- Pertumbuhan PDB Area Eropa Q2 2026
- Neraca Perdagangan Area Eropa Juni 2026
- Inflasi Prancis Juli 2026
- Inflasi Argentina Juli 2026
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Zyrexindo Mandiri Buana Tbk (ZYRX)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Maskapai Reasuransi Indonesia Tbk (MREI)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Interim PT AKR Corporindo Tbk (AKRA)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Interim PT Mark Dynamics Indonesia Tbk (MARK)
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
–
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
Leave a comment