Home Finance Alasan Arab Saudi Tidak Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW
Finance

Alasan Arab Saudi Tidak Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW

Share
Alasan Arab Saudi Tidak Merayakan Maulid Nabi Muhammad SAW
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi salah satu momen penting yang diperingati umat Islam di berbagai negara. Namun, tidak semua negara mayoritas Muslim menjadikan Maulid Nabi sebagai hari libur nasional atau merayakannya secara khusus, termasuk Arab Saudi.

Maulid Nabi, yang juga dikenal sebagai Mawlid Al Nabi, Mawlid Al Nabawi, Al Mawlid, atau Milad, merupakan hari ketika umat Islam di berbagai belahan dunia memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Mengutip Marhaba Qatar Information Guide, Maulid Nabi jatuh pada 12 Rabiul Awal, bulan ketiga dalam kalender Hijriah. Peringatan tersebut dilakukan di banyak negara mayoritas Muslim. Sejumlah negara bahkan menetapkannya sebagai hari libur resmi, termasuk Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, Maroko, Malaysia, Indonesia, dan Sudan.

Namun, situasinya berbeda di Arab Saudi. Maulid Nabi tidak ditetapkan sebagai hari libur nasional dan secara umum tidak dirayakan sebagai perayaan resmi di negara tersebut.

Hal itu berkaitan dengan pandangan bahwa perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad tidak diperintahkan dalam Al-Qur’an maupun ajaran Islam. Maulid juga tidak dianggap sebagai kewajiban yang ditetapkan dalam ajaran Islam. Sebagian Muslim karena itu memilih untuk tidak merayakannya.

Ada pula pandangan yang menganggap perayaan tersebut sebagai sebuah inovasi dalam praktik keagamaan sehingga tidak semestinya dilakukan. Meski demikian, praktik memperingati Maulid Nabi berbeda-beda di berbagai negara dan komunitas Muslim.

Di sejumlah negara, umat Islam memperingatinya dengan menghias rumah dan jalan, mengikuti prosesi, melantunkan lagu-lagu keagamaan, mengadakan makan bersama hingga menghadiri ceramah di masjid yang menceritakan kembali kehidupan Nabi Muhammad SAW.

Di negara seperti Mesir, Sudan, Pakistan, India, dan Indonesia, perayaan atau festival Maulid bahkan dapat diselenggarakan beberapa hari sebelum hari peringatan. Berbagai makanan dan kudapan juga menjadi bagian dari tradisi tersebut. Wijen, kacang karamel, pistachio hingga aneka kacang manis sebagai beberapa makanan yang dijual kepada masyarakat dalam perayaan Maulid di sejumlah negara.

Ada pula kudapan khusus yang dikenal sebagai Halawat Al Mawlid atau Halawiyat. Turkish delight dan ma’amoul, yakni kue yang diisi pasta kurma atau kacang, juga menjadi makanan yang populer selama periode Maulid.

Maulid Nabi Jatuh pada Rabiul Awal
Dalam kalender Islam, Rabiul Awal merupakan bulan ketiga setelah Muharram dan Safar. Nama Rabiul Awal secara harfiah merujuk pada “musim semi pertama”. Bulan ini dikenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW, dengan Maulid Nabi diperingati pada tanggal 12 Rabiul Awal oleh banyak komunitas Muslim.

Kalender Hijriah sendiri terdiri atas 12 bulan, yakni Muharram, Safar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Awal, Jumadil Akhir, Rajab, Syakban, Ramadan, Syawal, Zulkaidah, dan Zulhijah. Berbeda dengan kalender Gregorian yang mengikuti peredaran Matahari, kalender Islam didasarkan pada siklus Bulan.

Awal setiap bulan Hijriah berkaitan dengan munculnya bulan baru dan pengamatan bulan sabit atau hilal. Karena itu, satu bulan dalam kalender Hijriah dapat terdiri atas 29 atau 30 hari. Penentuannya dapat bergantung pada terlihat atau tidaknya bulan, posisi astronomis, serta kondisi cuaca.

Dengan demikian, anggapan bahwa Arab Saudi tidak menjadikan Maulid Nabi sebagai perayaan resmi memang benar. Namun, perbedaan tersebut tidak terlepas dari beragam pandangan dan tradisi di kalangan umat Islam mengenai cara memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW.

(miq/miq)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *