
Jakarta, CNBC Indonesia – Starbucks mendapat sorotan dari anggota DPR Amerika Serikat (AS) setelah membuka dua gerai baru di Xinjiang, China. Legislator AS mendesak jaringan kedai kopi tersebut menutup gerainya di wilayah itu, yang selama ini menjadi sorotan terkait dugaan pelanggaran hak asasi manusia terhadap kelompok minoritas Muslim.
John Moolenaar, Ketua Komite Terpilih DPR AS untuk China, menyebut keputusan Starbucks beroperasi di Xinjiang sebagai tindakan yang “bangkrut secara moral”.
“Tidak ada alasan yang dapat dibenarkan bagi perusahaan Amerika untuk berbisnis di wilayah di mana Partai Komunis China telah menahan lebih dari satu juta warga Uighur dan merampas keyakinan, bahasa, serta budaya mereka,” kata Moolenaar, dilansir The Guardian, Sabtu (3/10/2026).
“Setiap cangkir yang dijual di gerai-gerai ini mengaitkan merek Amerika yang ikonik dengan kampanye brutal PKC terhadap warga Uighur,” lanjutnya.
Starbucks membuka dua gerai di Xinjiang pada Selasa lalu. Pembukaan itu berlangsung setelah perusahaan pada tahun lalu menjual saham pengendali bisnis ritelnya di China kepada Boyu Capital, perusahaan investasi yang berbasis di Hong Kong.
Kehadiran Starbucks langsung menarik perhatian masyarakat setempat. Video yang beredar di media sosial China memperlihatkan antrean panjang di gerai utama Starbucks yang berada di kawasan wisata Grand Bazaar, Urumqi.
Sejumlah influencer juga mengunggah minuman edisi khusus yang dijual di gerai tersebut, termasuk “teh susu asin rasa kulit susu”.
Kehadiran Starbucks di Xinjiang menjadi sensitif karena pemerintah China selama bertahun-tahun menghadapi tuduhan terkait perlakuan terhadap warga Uighur dan kelompok minoritas Muslim lainnya.
Washington merupakan salah satu dari sejumlah pemerintah dan organisasi hak asasi manusia yang menuduh China melakukan genosida di Xinjiang. Pemerintah China dengan tegas membantah tuduhan tersebut.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebelumnya memperingatkan adanya kemungkinan kejahatan terhadap kemanusiaan, termasuk terkait penahanan lebih dari satu juta warga Uighur dan kelompok minoritas Muslim lainnya di kamp-kamp.
China menyebut fasilitas tersebut sebagai kamp “pendidikan” dan mengatakan tindakan keras diperlukan untuk memerangi terorisme.
World Uyghur Congress, kelompok advokasi Uighur, juga menyerukan agar Starbucks “berdiri di sisi sejarah yang benar”.
Maya Wang, Wakil Direktur Asia Human Rights Watch, mengatakan kehadiran Starbucks di Xinjiang dapat memberikan legitimasi terhadap narasi pemerintah China.
“Kehadiran Starbucks di jalan-jalan Xinjiang … sesuai dengan narasi negara-partai bahwa tidak ada yang salah dengan wilayah tersebut,” ujar Wang.
Menanggapi komentar dari AS, Kementerian Luar Negeri China mengatakan kepada Reuters bahwa tuduhan mengenai penindasan merupakan “kebohongan mentah-mentah”.
China juga menyatakan Xinjiang menikmati “masyarakat yang stabil, pertumbuhan ekonomi, persatuan rasial dan kerukunan beragama”.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah China memang menggelontorkan sumber daya besar untuk mengembangkan Xinjiang sebagai tujuan wisata.
Starbucks juga bukan satu-satunya merek Barat yang melihat peluang bisnis di wilayah tersebut. Sejumlah perusahaan besar lainnya, termasuk Hilton dan InterContinental Hotels Group, juga mendapat kritik atas operasional mereka di Xinjiang.
Para pengkritik bahkan menyebut pembangunan Xinjiang sebagai bentuk “Disneyfikasi”. Istilah tersebut merujuk pada komersialisasi warisan budaya wilayah tersebut ketika kebebasan penduduknya untuk menjalankan budaya mereka dengan cara sendiri justru disebut semakin terbatas.
Di media sosial China, para pengunjung terlihat antusias membagikan foto berbagai merchandise Starbucks. Produk tersebut antara lain termos bermotif dan boneka beruang dengan pakaian yang terinspirasi dari busana etnis lokal.
Ketika kesepakatan dengan Boyu Capital diumumkan, Starbucks mengatakan perusahaan investasi tersebut akan membawa “keahlian lokal yang mendalam”. Sejumlah analis saat itu menilai langkah tersebut diperlukan karena Starbucks telah kehilangan pangsa pasar di China dari para pesaing domestik selama beberapa waktu.
Yaling Jiang, pendiri konsultan riset dan strategi ApertureChina, menilai keputusan Starbucks membuka gerai di Xinjiang memiliki pertimbangan bisnis.
“Hal yang dianggap benar secara politik di China belum tentu dianggap benar secara politik di belahan dunia lainnya, dan ini adalah contoh utamanya,” kata Jiang.
“Starbucks di China sekarang beroperasi dari perspektif China, bukan perspektif AS, dan pada akhirnya itulah cara mereka dapat memenangkan persaingan di China,” lanjutnya.
(luc/luc)
Leave a comment