
Jakarta, CNBC Indonesia – Lembaga pengelola dana abadi (sovereign wealth fund/SWF) dari berbagai negara kini kembali menggelontorkan miliaran dolar ke daratan China dan Hong Kong. Kembalinya aliran dana segar ini sukses membalikkan tren kemerosotan investasi yang tajam pada tahun sebelumnya, dengan para investor dari kawasan Timur Tengah memimpin sebagai pendorong utamanya.
Mengutip CNBC International, Kamis (22/10/2026), data dari konsultan Global SWF yang berbasis di Singapura menunjukkan bahwa investasi ke China daratan dan Hong Kong meroket hingga US$14,2 miliar (Rp255,6 triliun) dalam sembilan bulan pertama tahun 2026. Angka ini melonjak tajam 190% dibandingkan dengan total investasi sepanjang tahun 2025 yang hanya mencapai US$4,9 miliar (Rp88,2 triliun).
Kondisi ini sangat kontras dengan anjloknya investasi sebesar 54% pada tahun 2025 akibat ketegangan geopolitik dan kekhawatiran atas prospek ekonomi China.
Kebangkitan arus modal pada tahun ini sebagian besar didorong oleh dana dari Timur Tengah. Dana Investasi Publik (PIF) Arab Saudi secara mandiri menyumbang aliran dana terbesar yakni US$6 miliar (Rp108 triliun), disusul oleh Otoritas Investasi Abu Dhabi (ADIA) sebesar US$2,5 miliar (Rp45 triliun).
Selain itu, Mubadala dari Abu Dhabi dan Otoritas Investasi Qatar (QIA) masing-masing telah menginvestasikan US$800 juta (Rp14,4 triliun) dan US$600 juta (Rp10,8 triliun). Keempat dana Teluk ini secara total menyumbang hampir 70% dari investasi SWF ke China dan Hong Kong selama periode tersebut, yang secara langsung menggarisbawahi peran besar ibu kota Timur Tengah di kawasan itu.
Minat baru ini muncul seiring upaya para investor untuk mengabaikan ketegangan geopolitik demi memanfaatkan peluang di sektor teknologi, bioteknologi, bisnis konsumen, dan manufaktur canggih. Mitra Pengelola Senior di firma investasi Granite Asia, Jenny Lee, menyoroti perubahan drastis sentimen ini seiring membesarnya potensi pengembangan kecerdasan buatan (AI) di China untuk aplikasi industri khusus seperti robotika dan penemuan obat.
“Menurut saya, China telah berubah dari ‘China tidak dapat diinvestasikan’ menjadi ‘apakah China dapat diinvestasikan?’ hingga hari ini, pertanyaan paling umum yang saya dapatkan adalah: ‘apakah kita tertinggal?'” paparnya.
“Jaringan pabrik dan laboratorium penelitian China yang luas menyediakan akses ke data dunia nyata yang bisa menjadi semakin berharga dalam mengembangkan aplikasi ini.”
Bagi Mubadala, Asia kini menjadi tujuan yang semakin penting untuk mendiversifikasi portofolio dan memperdalam paparan pertumbuhan jangka panjang. Andrew Wang, pemimpin divisi konsumen untuk ekuitas swasta di Mubadala, menyebut bahwa perusahaannya melihat peluang yang sangat menarik di pasar konsumen China. Pada bulan September lalu, Mubadala bahkan mengumumkan investasi minoritas di Luckin Coffee China sebagai bagian dari kesepakatan senilai hampir US$1 miliar (Rp18 triliun) bersama Centurium Capital.
“Valuasi lebih rendah daripada tahun-tahun sebelumnya, saya pikir ini akan menjadi tahun yang sangat baik bagi investor di China,” ungkapnya.
“Perusahaan China semakin bergerak melampaui reputasi mereka dalam memproduksi barang murah menuju produk bernilai lebih tinggi karena merek lokal menunjukkan inovasi dan daya saing yang lebih kuat secara global.”
Selain Timur Tengah, dana besar lainnya juga menunjukkan minat serupa. QIA dan SWF Norwegia dilaporkan berpartisipasi dalam penawaran saham Alibaba senilai US$10,2 miliar (Rp183,6 triliun) pada bulan Agustus. Sementara itu, Temasek dari Singapura menjadi salah satu investor utama dalam penawaran umum perdana pembuat komponen optik Zhongji Innolight bernilai miliaran dolar pada bulan Juli.
Kepala Investasi Temasek, Rohit Sipahimalani, menegaskan bahwa perusahaannya kini sedang mengidentifikasi berbagai peluang pabrikan perangkat keras terkait AI.
“China terus menjadi menarik,” katanya. “Bioteknologi khususnya merupakan bidang yang sangat menarik di luar sana yang kami investasikan, dan merek konsumen lokal juga bisa benar-benar menjadi penting.”
Dari Indonesia, Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menyatakan bahwa SWF Indonesia tersebut juga ingin memperluas kerja sama dengan China melampaui kemitraan pemrosesan nikel dan manufaktur baterai yang sudah ada. Ia menargetkan minat yang besar pada kecerdasan buatan, robotika, perawatan kesehatan, dan efisiensi energi dengan memanfaatkan sumber daya energi domestik demi mengembangkan infrastruktur digital.
“Kami sekarang sudah memiliki seseorang untuk memimpin Asia Utara bagi kami yang berbasis di China, dan tugasnya sebagai sebuah tim adalah ‘bagaimana kita mengembangkan kemitraan jangka panjang, terutama di sisi hilir?'” tuturnya.
Meskipun mengalami lonjakan pemulihan yang tajam, nyatanya China masih menjadi tujuan yang relatif kecil bagi modal SWF jika dibandingkan dengan pasar Barat. Berdasarkan data Global SWF, Amerika Serikat sukses menarik investasi raksasa senilai US$132,4 miliar (Rp2.383,2 triliun) dalam sembilan bulan pertama tahun 2026, disusul oleh Eropa dan Inggris yang meraup US$44,6 miliar (Rp802,8 triliun).
Arus masuk ke China dan Hong Kong yang sebesar US$14,2 miliar (Rp 255,6 triliun) tersebut masih menjadi sebagian kecil dari total aliran dana global.
(tps/luc)
Leave a comment