Home Finance AS Bunuh Diri! Perang Iran Bikin Rugi Rp548 T, Terburuk 40 Tahun
Finance

AS Bunuh Diri! Perang Iran Bikin Rugi Rp548 T, Terburuk 40 Tahun

Share
AS Bunuh Diri! Perang Iran Bikin Rugi Rp548 T, Terburuk 40 Tahun
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Para petani Amerika Serikat (AS) kini terjerumus ke dalam krisis keuangan terburuk dalam empat dekade terakhir. Biaya solar dan pupuk yang meroket tajam akibat pecahnya perang dengan Iran menjadi biang kerok utama kehancuran tersebut.

Mengutip Russia Today, Kamis (27/08/2026), guncangan harga terbaru ini memperparah tren pelemahan harga panen dan penurunan pendapatan selama bertahun-tahun. Krisis mematikan ini memukul jantung ekonomi AS menjelang pemilihan paruh waktu bulan November yang akan sangat menentukan kendali Kongres.

Tekanan yang memuncak ini bermula dari serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari lalu. Insiden berdarah itu mendorong Teheran untuk memblokir sebagian besar pelayaran komersial melalui Selat Hormuz yang sebelumnya melayani sekitar seperlima pasokan energi dunia.

Data Badan Informasi Energi AS (EIA) mencatat rata-rata harga solar nasional telah melonjak menjadi US$ 5,45 (Rp 96.465) per galon dari US$3,81 (Rp67.437) sebelum perang. Seorang petani jagung dan kedelai di Nebraska, Matt Bailey, mengungkapkan keluhannya mengenai beban berat tersebut.

“Bahan baku sangat tidak masuk akal,” paparnya menyebut pupuk kaya fosfor kini harganya lebih dari US$900 (Rp15,93 juta) per ton, melonjak tajam dibandingkan sekitar US$470 (Rp8,31 juta) pada satu dekade lalu.

Presiden Serikat Petani Nebraska, John Hansen, turut menggambarkan kemerosotan ini sebagai yang terburuk di sektor pertanian sejak era 1980-an. Hancurnya sektor ini juga dikonfirmasi oleh mantan Presiden Asosiasi Penanam Jagung Nasional, Pam Johnson.

“Perang Iran telah membuat begitu banyak ketidakpastian bagi kami para petani. Diproyeksikan bahwa petani tidak akan menghasilkan uang selama dua tahun ke depan,” ungkapnya.

Para ekonom dari Federasi Biro Pertanian Amerika memprediksi penanam sembilan tanaman utama akan kehilangan sekitar US$31 miliar (Rp548,7 triliun) pada tahun ini jika tanpa bantuan federal, dan akan menembus US$32 miliar (Rp566,4 triliun) pada tahun depan. Produsen jagung diproyeksikan merugi US$131 (Rp2,31 juta) per ekar tahun ini dan US$167 (Rp2,95 juta) pada 2027, sementara kerugian kedelai diperkirakan mencapai US$80 (Rp1,41 juta) dan US$138 (Rp2,44 juta).

Di sisi lain, para petani juga menyalahkan perselisihan perdagangan Washington yang melemahkan permintaan luar negeri, khususnya untuk ekspor kedelai AS ke China. Pemerintahan Trump pada bulan Juni lalu bahkan harus memohon tambahan bantuan sebesar US$11 miliar (Rp194,7 triliun) kepada Kongres demi menyelamatkan sektor ini.

Kiamat pertanian ini semakin diperparah oleh kekeringan dan cuaca panas tidak biasa yang merusak tanaman di sebagian wilayah Sabuk Jagung (Corn Belt). Lonjakan harga komoditas ini pada akhirnya memicu kepanikan baru bahwa laju inflasi akan kembali melesat tajam di atas target 2% yang ditetapkan bank sentral Federal Reserve.

(tps/sef)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *