
Jakarta, CNBC Indonesia – Pejabat Amerika Serikat (AS) dikabarkan telah melakukan pertemuan rahasia dengan para pemimpin pemberontak Houthi pada akhir pekan lalu di kedutaan besar negaranya di Muscat, Oman. Manuver ini berujung pada keputusan Washington untuk tidak ikut campur membantu Arab Saudi dalam memukul mundur invasi pasukan Houthi di Yaman.
Mengutip The Guardian, Kamis (17/9/2026), kelompok militan yang didukung Iran tersebut telah meyakinkan AS bahwa perjanjian gencatan senjata antara kedua belah pihak yang dicapai pada tahun 2025 lalu masih terus berlaku. Houthi secara khusus menegaskan bahwa mereka sama sekali tidak berniat menyerang pelayaran AS di Laut Merah, dan hanya menargetkan kapal-kapal yang terkait dengan Saudi sebagai imbas dari blokade terhadap Yaman.
Meskipun AS sempat menetapkan Houthi sebagai entitas teroris asing pada Maret 2025, Wakil Presiden AS JD Vance pada hari Senin nyatanya secara terbuka mengonfirmasi adanya kontak langsung antara Washington dan Houthi. Pertemuan ini sekaligus menjelaskan keputusan Presiden AS Donald Trump yang menolak memberikan respons militer untuk membela Riyadh dan sekadar mengutuk kemajuan Houthi di Selat Bab al-Mandab. AS saat ini diketahui lebih memilih mundur lantaran tengah kewalahan menghadapi konflik yang menguras sumber daya dengan Iran.
Keengganan AS untuk terlibat langsung otomatis menekan Arab Saudi untuk segera mencari solusi diplomatik dengan Houthi, atau mencoba membangun aliansi regional baru dengan Pakistan dan Turki guna merebut kembali sebagian besar wilayah barat Yaman yang jatuh ke tangan Houthi.
Mantan Wakil Duta Besar AS untuk Yaman, Nabeel Khoury, menyoroti adanya kesepahaman diam-diam antara pemerintahan Trump dan Houthi.
“Houthi berjanji kepada pemerintah Amerika bahwa navigasi Amerika dan internasional tidak akan terpengaruh di Laut Merah, namun satu-satunya bahaya adalah bagi kapal-kapal Saudi atau yang membawa minyak Saudi,” paparnya.
Di sisi lain, dalam upaya menggalang dukungan publik regional, Riyadh pada hari Selasa melontarkan klaim mengejutkan bahwa milisi tersebut telah menembakkan drone ke kota suci Makkah, yang diklaim berhasil dihancurkan oleh pasukan udara Saudi pada pukul 18.50 waktu setempat. Tuduhan ini langsung memicu gelombang kecaman dari pemerintah Yaman di Aden, Organisasi Kerjasama Islam (OKI), hingga Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif.
“Rakyat Pakistan sedih dan gelisah dengan tindakan keterlaluan ini,” tegasnya.
Namun, pimpinan Houthi membantah keras tuduhan serangan ke Mekkah tersebut dan menyebutnya sebagai “kebohongan abad ini”. Wakil Menteri Luar Negeri Houthi, Abdul Wahid abu Ras, membalas dengan kecaman yang tak kalah tajam.
“Siapapun yang membuka tanah dua masjid suci untuk pesta pora dan hiburan, dan siapa pun yang menodai tanah dua masjid suci dengan kehadiran orang Yahudi Zionis di dalamnya, dialah yang menargetkan Mekkah, Madinah, dan situs-situs suci Islam,” ungkapnya.
Alih-alih menyerang Makkah, Houthi justru membeberkan bahwa mereka telah sukses menembak jatuh pesawat tempur F-15 Saudi di dekat Marib dan menyerang pabrik Aramco di Yanbu. Kepala tim perunding Houthi, Mohammed abdul Salam, menyebut penembakan pesawat itu sebagai peringatan keras bagi Barat agar tidak termakan propaganda Saudi. Anggota biro politik Houthi, Mohammed al-Farah, turut menambahkan bahwa Arab Saudi sejatinya sedang mengemis ke dunia internasional akibat kegagalan nyata mereka di Yaman.
“Kini Saudi mencoba memobilisasi umat Islam dengan dalih palsu yang disebut ‘menargetkan Mekkah’,” tuturnya.
Di tempat terpisah, para pejabat Israel membocorkan rincian pertemuan rahasia antara komandan militer dari AS, Israel, dan beberapa negara Arab-termasuk Arab Saudi, UEA, Bahrain, Kuwait, Qatar, Yordania, dan Mesir-di Jerman pekan lalu untuk membahas perang melawan Iran. Ironisnya, Israel yang sebelumnya menjadi target empuk Houthi kini justru menawarkan diri untuk campur tangan di Yaman demi membela Arab Saudi.
Sementara itu, Dewan Keamanan PBB pada hari Selasa mengutuk segala upaya penutupan Laut Merah. Hal ini diperparah dengan sikap utusan Rusia yang mulai bergeser dari dukungannya terhadap pemerintah Yaman di Aden. Di Beijing, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi terpantau bertemu dengan mitranya dari China, Wang Yi, pada hari Rabu untuk mengamankan dukungan atas administrasi Selat Hormuz yang masih tertutup blokade. China dengan tegas menolak sanksi sekunder AS dan mendesak Washington kembali ke perundingan diplomasi.
Seluruh kekacauan geopolitik dan militer yang tak berujung ini telah membuat harga minyak mentah global terus bertahan di atas level US$100 per barel, yang kondisinya kian diperparah oleh penutupan pipa minyak timur-barat milik Saudi akibat insiden pemboman mematikan sebelumnya.
(tps/luc)
Leave a comment