Home Finance AS Ketar-ketir Perang Meluas, Pangkalan Militer Wajib Siaga 90 Hari
Finance

AS Ketar-ketir Perang Meluas, Pangkalan Militer Wajib Siaga 90 Hari

Share
AS Ketar-ketir Perang Meluas, Pangkalan Militer Wajib Siaga 90 Hari
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) merilis strategi militer baru yang menuntut agar seluruh pangkalan utama di wilayah benua AS mampu mempertahankan operasi esensial setidaknya selama 90 hari penuh tanpa adanya dukungan dari pihak eksternal.

Mengutip RT, Selasa (27/10/2026), target otonomi ambisius ini ditetapkan dalam dokumen FORTRESS yang ditinjau langsung oleh jaringan Fox News pada Minggu. Dokumen tersebut juga mensyaratkan pasokan kritis militer agar memiliki setidaknya dua rute pasokan atau produksi yang memenuhi kualifikasi guna mencegah terjadinya gangguan di tengah krisis.

Menteri Perang AS, Pete Hegseth, telah mengumumkan inisiatif besar ini sejak bulan lalu. Langkah strategis ini diambil usai militer AS menghadapi gangguan logistik yang serius di Timur Tengah menyusul serangan Iran terhadap fasilitas Amerika dan situs lain yang digunakan oleh pasukan AS. Serangan tersebut merupakan balasan langsung atas serangan gabungan AS-Israel ke wilayah Iran.

Jaringan berita Fox News, yang secara umum mendukung agenda Presiden Donald Trump, menilai bahwa AS memang harus bersiap menghadapi berbagai kemungkinan situasi kontingensi.

“Tindakan militer dapat melumpuhkan jaringan listrik, mengganggu rantai pasokan, dan mengancam infrastruktur penting di tanah Amerika,” tegasnya.

FORTRESS sendiri merupakan singkatan dari Federal Operations for Resilience, Troop Resources, Energy, Supply and Survivability. Sebuah memorandum pendirian resmi telah ditandatangani untuk memperkuat regulasi ini.

“Terdapat lima pilar utama, yakni kemandirian energi, ketahanan rantai pasokan, cadangan strategis, perlindungan fisik dan keamanan siber, serta ketahanan di ruang angkasa dan spektrum elektromagnetik,” tutur Hegseth.

Perencana Pentagon saat ini bertujuan untuk secara masif mengurangi ketergantungan pada infrastruktur sipil yang dapat rusak parah jika terjadi konflik bersenjata besar. Opsi yang diusulkan mencakup pembangunan reaktor nuklir skala kecil dan bank baterai berkapasitas raksasa untuk mendukung jaringan mikro pangkalan jika pasokan listrik eksternal benar-benar terputus.

“Program ini juga membayangkan persiapan pabrik sipil untuk beralih ke produksi pertahanan dalam keadaan darurat, bersama dengan langkah-langkah lainnya.”

Laporan perombakan strategis ini muncul kurang dari dua minggu sebelum pemilihan paruh waktu AS bergulir, di mana berbagai jajak pendapat menunjukkan bahwa Partai Republik yang berkuasa bisa saja menderita kerugian yang signifikan. Pecahnya perang Iran dan lonjakan harga bahan bakar yang diakibatkannya kini menjadi faktor utama yang menguatkan posisi kandidat dari kubu oposisi.

Di sisi lain, retorika Trump terus memicu ekspektasi luas bahwa AS dapat sewaktu-waktu meningkatkan eskalasi perangnya dengan Iran tak lama setelah pemilu usai, atau bahkan sebelum pemungutan suara itu berlangsung. Ancaman ini dilaporkan semakin nyata di lapangan dengan adanya pergerakan militer.

“Washington telah menarik beberapa personel dari pangkalannya di Timur Tengah menjelang kemungkinan kampanye serangan udara baru,” ungkapnya.

(tps/luc)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *