Jakarta, CNBC Indonesia – Amerika Serikat (AS) kembali meningkatkan tekanan militer terhadap Iran dengan melancarkan serangan baru ke sistem pertahanan pesisir dan lokasi rudal negara itu pada Rabu (16/7/2026).
Serangan dilakukan hanya sehari setelah Washington kembali memberlakukan blokade laut terhadap seluruh pelabuhan Iran, sementara Teheran merespons dengan ancaman memperluas gangguan terhadap jalur ekspor energi di kawasan dan menegaskan sedang menghadapi “perang eksistensial” melawan AS.
Eskalasi terbaru ini juga terjadi hanya beberapa hari setelah gencatan senjata rapuh antara kedua negara runtuh. Meski demikian, sejumlah analis menilai peluang kembalinya perang berskala penuh masih relatif kecil.
Ketegangan meningkat tajam sejak Iran mengumumkan pada Sabtu malam bahwa mereka menutup Selat Hormuz. Selain penutupan tersebut, operasi-operasi militer yang berlangsung di kawasan juga membuat kapal-kapal komersial tidak dapat melintasi jalur strategis yang sebelum perang menjadi rute sekitar seperlima perdagangan minyak dan gas dunia.
Dampaknya langsung terasa di pasar energi. Harga minyak mentah Brent, yang menjadi acuan internasional, ditutup pada level US$84,95 per barel pada Rabu, tertinggi dalam satu bulan terakhir.
Komando Pusat Militer AS (CENTCOM) menyatakan serangan dimulai dengan menyasar sistem pertahanan pantai serta lokasi penyimpanan dan peluncuran rudal jelajah di Pulau Greater Tunb milik Iran.
Operasi tersebut selesai dalam waktu sekitar 90 menit. Namun sembilan jam kemudian, CENTCOM mengumumkan gelombang serangan kedua.
“Serangan ini menargetkan kemampuan militer Iran yang digunakan untuk mengancam kapal-kapal yang bebas melintas di Selat Hormuz, jalur perairan internasional yang sangat penting bagi perdagangan global. Militer Amerika Serikat meminta Iran bertanggung jawab sesuai arahan Panglima Tertinggi,” tulis CENTCOM melalui platform X.
Tiga pejabat AS mengatakan kepada Reuters bahwa operasi tersebut bukan hanya bertujuan membuka kembali Selat Hormuz, tetapi juga menghancurkan kemampuan militer Iran yang dinilai dapat menghambat operasi militer AS yang lebih kompleks di masa mendatang.
Selain menyerang fasilitas militer, militer AS juga menghentikan sebuah kapal tanker minyak kosong yang berlayar menuju Pulau Kharg setelah kapal tersebut mengabaikan sejumlah peringatan.
Militer AS menembakkan rudal Hellfire ke cerobong asap kapal hingga kapal tersebut tidak dapat melanjutkan pelayaran.
Sejak blokade laut terhadap Iran kembali diberlakukan pada Selasa, militer AS menyatakan telah mengalihkan rute dua kapal dan melumpuhkan satu kapal lainnya.
Setelah serangan terbaru, kantor berita Mehr melaporkan empat lokasi di sekitar Kota Ahvaz menjadi sasaran serangan, termasuk Bandar Abbas yang merupakan pelabuhan utama Iran di Selat Hormuz. Mehr menyebut tidak ada korban jiwa dalam serangan tersebut.
Sementara itu, kantor berita Tasnim melaporkan ledakan juga terdengar di Kota Konarak yang berada di pesisir Teluk Oman. Media itu juga melaporkan proyektil AS menghantam wilayah dekat Sirik dan Pulau Qeshm di Iran selatan.
Namun televisi pemerintah Iran, IRIB, menyebut salah satu serangan AS menghantam area dekat sebuah rumah sakit di Ahvaz yang memiliki pusat perawatan kanker anak. Akibatnya, rumah sakit tersebut terpaksa dievakuasi sementara.
IRIB melaporkan keluarga pasien berkumpul di jalan-jalan sekitar rumah sakit untuk merawat anak-anak mereka setelah proses evakuasi dilakukan.
Iran: Ini Perang Eksistensial
Setelah gelombang pertama serangan, yang menurut Iran menghantam lokasi di Pulau Hengam, negosiator utama Iran Mohammad Baqer Qalibaf mengeluarkan pernyataan keras.
Ia menegaskan keamanan nasional Iran bergantung pada penerapan apa yang disebutnya sebagai “pengaturan Iran” di Selat Hormuz.
“Kami berada dalam perang yang esensial dan eksistensial melawan Amerika,” kata Qalibaf.
Perang yang dimulai sejak serangan gabungan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari telah menewaskan ribuan orang dan menyebabkan jutaan warga mengungsi, terutama di Iran dan Lebanon, setelah konflik antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran kembali pecah.
Tasnim yang mengutip pejabat Kementerian Kesehatan Iran melaporkan, sepanjang Juli saja serangan AS telah menewaskan 35 orang.
Trump: Iran Ingin Berdamai
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump kembali menunjukkan optimisme terhadap posisi Washington dalam konflik tersebut. Berbicara pada Pennsylvania Defense and Innovation Summit, Trump mengatakan Iran berada di ambang kekalahan.
“Kami akan segera mengalahkan Iran. Mereka akan dikalahkan dalam waktu yang sangat dekat,” ujar Trump.
Ia juga mengeklaim pemerintah Iran sebenarnya sangat ingin mengakhiri konflik.
“Mereka tidak menyukai apa yang sedang kami lakukan, dan mereka memang sangat ingin mencapai penyelesaian. Kita akan lihat apakah kita menyelesaikannya melalui kesepakatan, atau kita selesaikan semuanya,” kata Trump.
Sehari sebelumnya, Trump mengungkapkan bahwa para negosiator AS telah menghubungi Iran.
“Kalian sebaiknya membuat kesepakatan,” kata Trump menggambarkan pesan yang disampaikan kepada Teheran.
Namun Iran menegaskan belum memiliki rencana kembali ke meja perundingan.
Juru bicara militer Iran mengatakan satu-satunya cara membuka kembali Selat Hormuz adalah apabila AS mematuhi nota kesepahaman 14 poin yang ditandatangani kedua negara pada Juni lalu, termasuk pelaksanaan “peraturan Iran” terkait lalu lintas kapal di selat tersebut.
(luc/luc)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment