Home Finance AS Mendadak Lunak soal Perundingan dengan Iran, Ini Syarat Barunya
Finance

AS Mendadak Lunak soal Perundingan dengan Iran, Ini Syarat Barunya

Share
AS Mendadak Lunak soal Perundingan dengan Iran, Ini Syarat Barunya
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Amerika Serikat (AS) mulai membuka ruang kompromi dalam perundingan dengan Iran. Wakil Presiden AS JD Vance kini hanya menuntut Teheran memangkas secara signifikan kapasitas pengayaan uraniumnya, bukan secara terang-terangan menghentikan seluruh aktivitas pengayaan.

Vance mengatakan Iran harus menunjukkan komitmen untuk tidak mengembangkan senjata nuklir dengan mengubah program pengayaannya.

“Jika Anda tidak menginginkan senjata nuklir, mengapa Anda membutuhkan bahan bakar yang diperkaya hingga tingkat 60%?” ujarnya kepada Reuters, dikutip Kamis (8/10/2026).

Menurut Vance, AS saat ini berkomunikasi dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi. Namun, ia mengakui belum sepenuhnya jelas bagaimana proses pengambilan keputusan berlangsung di pemerintahan Iran.

Sikap tersebut muncul di tengah pernyataan keras pejabat senior AS lainnya. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menegaskan, “Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir; itu sederhana, titik, selesai,” sembari menuduh Teheran telah melewatkan sejumlah peluang untuk mencapai kesepakatan.

Iran sendiri masih meragukan keseriusan Washington dalam bernegosiasi. Pezeshkian bahkan menyebut perundingan dengan AS “sia-sia” dan menuding setiap proses diplomasi justru diikuti serangan terhadap Iran.

“Setiap kali kami duduk di meja perundingan, perang justru langsung dipaksakan kepada kami,” ujarnya.

Meski demikian, Araghchi memberikan sinyal bahwa jalur diplomasi belum tertutup. Dalam pertemuan dengan para duta besar asing di Teheran pada 4 Oktober, ia mengatakan konflik hanya dapat diakhiri melalui “negosiasi yang berlandaskan keadilan dan kesetaraan”.

Perbedaan kepentingan membuat jalan menuju kesepakatan masih panjang. Simon Mabon, profesor hubungan internasional di Universitas Lancaster, mengatakan kepada Al Jazeera bahwa Iran tidak hanya menginginkan kesepakatan nuklir, tetapi juga pencabutan sanksi, pelepasan aset yang dibekukan, penghentian blokade laut AS dan berakhirnya konflik di kawasan.

Usulan Iran sebelumnya mencakup penghentian pertempuran di seluruh lini, pencabutan blokade laut dan sanksi minyak AS, serta pelepasan aset Iran yang dibekukan. Selat Hormuz kemudian akan dibuka kembali dalam tujuh hari, sebelum perundingan mengenai program nuklir dilanjutkan.

Mabon menilai perubahan nada Washington mengenai pengayaan uranium dapat menunjukkan adanya ruang kompromi. Namun, keamanan Selat Hormuz masih menjadi persoalan karena serangan terhadap kapal terus terjadi, meski arus minyak Teluk di luar Iran telah pulih hingga lebih dari 81% dari tingkat sebelum perang pada September.

(tfa/luc)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *