Jakarta, CNBC Indonesia – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendorong penggunaan energi ganda melalui kombinasi Bahan Bakar Minyak (BBM) Solar dan hidrogen untuk sektor transportasi nasional.
Hal itu dinilai bisa mempercepat transisi energi fosil ke energi bersih sekaligus menekan ketergantungan impor minyak mentah.
Bahlil menegaskan bahwa pemanfaatan hidrogen sebagai pendamping bahan bakar nabati seperti B50 penting untuk menjaga kedaulatan energi Indonesia.
“Inilah sebagai bentuk komitmen pemerintah dalam rangka mendorong tentang kemajuan dalam rangka implementasi hidrogen di Republik Indonesia. Bapak Ibu semua pengembangan hidrogen sejalan dengan asta cita Bapak Presiden Prabowo. Karena hidrogen merupakan salah satu energi alternatif,” katanya dalam acara Global Hydrogen Ecosystem Summit and Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta, Selasa (21/7/2026).
Indonesia saat ini masih ketergantungan impor minyak rata-rata 1 juta barel per hari (bph) untuk memenuhi kebutuhan nasional. Kebutuhan minyak nasional sekitar 1,6 juta bph, sementara produksi dalam negeri masih di kisaran 600.000 bph.
Adapun, impor minyak akan berkurang dengan implementasi pencampuran biodiesel sebesar 50% (B50). Dengan B50, impor minyak diperkirakan berkurang 250.000-300.000 bph.
“Jadi sekarang kita impor crude total itu masih ada kurang lebih sekitar 700 sampai 750.000 barel per day dari selisih 1 juta (barel per hari) itu,” ucapnya.
“Tapi kita kan sudah bersepakat bahwa bumi dunia ini harus kita wariskan juga untuk anak cucu kita yang lebih baik, maka kita di Indonesia atas arahan Bapak Presiden tetap tidak bergeser dari apa yang menjadi keputusan bahwa kita akan net zero emission pada 2050 2060. Nah karena itu breakdown-nya harus kita siapkan sekarang,” tuturnya.
Bahlil pun menegaskan pemerintah mendorong hidrogen karena sumber energinya bisa berasal dari dalam negeri.
“Bapak Ibu semua hari ini kita akan mendorong hidrogen. Hidrogen ini menurut saya salah satu alternatif karena ada tiga fungsi utama. Yang pertama adalah sebuah tuntutan dunia. Yang kedua ini bagian daripada hilirisasi. Karena hidrogen ini menghasilkan dari air, dari gas, dari batu bara low kalori. Jadi kita bisa merubah fosil kita yang dari batu bara low kalori itu bisa menjadi hidrogen dengan teknologi. Air kita punya,” paparnya.
Namun demikian, dia mengakui bahwa tantangan dalam pengembangan hidrogen saat ini yaitu harga jual hidorgen masih lebih mahal, termasuk bila dibandingkan dengan harga BBM Solar atau diesel non subsidi.
“Problemnya adalah… nah ini tantangannya. Problemnya adalah hidrogen ini memang biayanya masih mahal dibandingkan dengan produk energi lain. Tadi saya diskusi dengan Wakil Kepala BRIN dengan Ibu Eniya. Berapa biaya selisih antara B50 non-PSO, (nonsubsidi), non-PSO itu biaya industri itu kan kurang lebih sekitar Rp 18.600. Kalau pakai bensin diesel itu bisa mencapai 1 liter itu 3,5 sampai 4 kilo. Kalau diumpamain dengan hidrogen ini berapa energinya ternyata masih di atas daripada harga B50. Hidrogen masih agak lebih mahal,” paparnya.
“Nah Bapak Ibu semua ini adalah sebuah tantangan untuk kita semua dalam rangka bagaimana mendapatkan teknologi yang lebih efisien agar kompetitif,” imbuhnya.
Meskipun saat ini biaya produksi hidrogen masih tergolong mahal, Bahlil meyakini teknologi ini akan menjadi lebih kompetitif dalam 5 hingga 10 tahun ke depan. Ia juga berencana mendorong pemanfaatan bus bertenaga hidrogen untuk transportasi umum di wilayah DKI Jakarta sebagai proyek percontohan.
“Nah tadi apa yang disampaikan oleh Pak Darmo (Direktur Utama PLN) tentang bus saya coba komunikasikan dengan dengan Pak Gubernur DKI untuk memanfaatkan ini. Silakan melakukan yang terbaik apa yang bisa kita bantu dari sisi regulasi saya akan bantu,” tandasnya.
Uji Coba Bus Hidrogen
Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan, pemakaian dual fuel pada kendaraan ini bisa menghemat pemakaian Bahan Bakar Minyak (BBM).
“Kami mohonkan arahan dari Pak Menteri untuk bisa me-launching sistem bahan bakar dua fuel, istilahnya dual fuel, dual diesel fuel. Jadi pemakaian bahan bakar di satu tempat (bukan satu jenis bahan bakar), tetapi ada dua bahan bakar yaitu biosolar dan adanya gas hidrogen,” tutur Eniya dalam kesempatan yang sama.
“Dan ini bisa mengurangi atau menghemat bahan bakar itu sendiri. Jadi dengan adanya gas yang masuk ke dalam engine, maka bahan bakar bisa dikurangi. Dan ini nantinya bukan hanya di bis, tetapi mobil penumpang dan juga drone atau alat angkat yaitu forklift juga adanya kompor gas hidrogen,” tuturnya.
“Jadi ini pemanfaatan hidrogen diarahkan oleh Pak Menteri pada tahun lalu, kami mengakselerasi kerja sama dengan para industri dan berbagai stakeholder akademisi untuk melahirkan hydrogen transportation corridor. Jadi kerja sama ini juga didukung oleh BRIN dan kerja sama dengan internasional dengan berbagai negara untuk menghadirkan hydrogen road test nantinya,” tuturnya.
Eniya pun menyebut, pihaknya telah memiliki 93 inisiatif pengembangan ekosistem hidrogen dan proyek-proyeknya pun sudah tersebar di seluruh Indonesia.
“Jadi projek-projek ini melahirkan Rp 32 triliun investasi yang akan kita kawal,” imbuhnya.
Perlu diketahui, pilot project untuk Bus Hidrogen Diesel Dual Fuel atau Bus H2 DDF merupakan hasil modifikasi armada bus bermesin diesel milik Perum DAMRI menjadi kendaraan yang menggunakan kombinasi bahan bakar Solar dan hidrogen.
Program tersebut menjadi langkah awal menuju penerapan transportasi hidrogen yang lebih rendah karbon dan berkelanjutan.
Berdasarkan catatan Kementerian ESDM, program uji coba tersebut dikembangkan melalui kerja sama Kementerian ESDM, PT PLN (Persero), Perum DAMRI, PT Sucofindo (Persero), dan PT Tritunggal Prakarsa Global.
Pengembangan Bus H2 DDF diarahkan untuk mengurangi penggunaan BBM solar, menggantikan sebagian penggunaan solar dengan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan, menurunkan emisi gas buang, membangun ekosistem transportasi hidrogen rendah karbon, dan mempersiapkan pengembangan kendaraan menuju tahap komersial.
Berdasarkan pengujian oleh PT Sucofindo (Persero), pilot bus menghasilkan penurunan penggunaan BBM solar yang dilaporkan sebesar 47,45%, penurunan emisi opasitas sebesar 57,66%, penurunan emisi karbon monoksida atau CO sebesar 45,45%, penurunan emisi karbon dioksida atau CO₂ sebesar 39,37%, dan penurunan emisi nitrogen oksida atau NOx sebesar 21,16%.
(wia)
Add
as a preferred
source on Google
Leave a comment