Home Finance Bak NATO, Arab Saudi Luncurkan Aliansi Pertahanan Baru
Finance

Bak NATO, Arab Saudi Luncurkan Aliansi Pertahanan Baru

Share
Bak NATO, Arab Saudi Luncurkan Aliansi Pertahanan Baru
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Arab Saudi resmi meluncurkan koalisi pertahanan maritim multinasional untuk mengamankan pelayaran di Laut Merah dan Teluk Aden. Pembentukan aliansi ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan dengan kelompok Houthi di Yaman yang mengancam jalur perdagangan dan ekspor minyak Saudi.

Mengutip RT, Minggu (16/8/2026) Kementerian Pertahanan Arab Saudi pada Kamis menyatakan 13 negara telah menyelesaikan prosedur untuk bergabung secara resmi dalam koalisi tersebut. Sementara itu, sebanyak 15 negara telah menandatangani pernyataan bersama terkait pembentukan aliansi.

Riyadh menyebut perkembangan tersebut sebagai peluncuran resmi koalisi sekaligus awal dari aktivasi kelembagaan dan operasionalnya. Arab Saudi akan menyediakan komandan pertama, sedangkan Pakistan diperkirakan menunjuk wakil komandan.

Koalisi tersebut akan berfokus pada koordinasi pertukaran intelijen, latihan bersama, serta operasi maritim untuk melindungi kapal-kapal komersial yang melintasi Laut Merah dan Teluk Aden.

Pengumuman ini muncul di tengah eskalasi tajam antara pasukan yang didukung Saudi di Yaman dan gerakan Houthi yang bersekutu dengan Iran, terutama setelah sekitar empat tahun situasi relatif tenang.

Awal bulan ini, kelompok Houthi mengumumkan serangan terkoordinasi menggunakan rudal balistik dan pesawat nirawak (drone) terhadap kamp-kamp militer milik pemerintah Yaman yang diakui secara internasional dan didukung Saudi. Kelompok tersebut menyatakan bahwa mereka bertindak setelah mendeteksi adanya persiapan serangan terhadap wilayah yang dikuasai Houthi.

Pasukan pemerintah Yaman mengakui adanya korban jiwa, sementara Reuters mengutip sumber pemerintah melaporkan setidaknya 30 tentara tewas.

Ketegangan telah meningkat sejak bulan Juli, ketika perselisihan mengenai penerbangan langsung antara Sanaa yang dikuasai Houthi dan Teheran turut merusak gencatan senjata yang telah lama berlangsung.

Setelah pasukan yang didukung Saudi menyerang bandara Sanaa pada 13 Juli untuk mencegah pesawat Iran memulangkan delegasi Houthi dari Teheran, kelompok tersebut menyalahkan Riyadh, menyatakan berakhirnya gencatan senjata, dan kemudian mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi.

Sejak saat itu, kelompok Houthi mengklaim telah melakukan serangan terhadap kapal dan infrastruktur minyak yang terkait dengan Saudi, sementara koalisi pimpinan Saudi telah menyerang lokasi-lokasi militer Houthi di Yaman.

Konfrontasi ini menimbulkan ancaman khusus bagi Riyadh karena Laut Merah telah menjadi jalur keluar yang semakin penting bagi minyak Saudi di tengah konflik AS-Iran dan gangguan parah terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz.

Saudi Aramco telah mengalihkan jalur pengiriman minyak mentah agar tidak melewati Hormuz, melainkan melalui jaringan pipa lintas negara menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Volume pemuatan di sana rata-rata mencapai lebih dari empat juta barel per hari sejak bulan Juni, angka yang lebih dari empat kali lipat dibandingkan tingkat yang tercatat pada periode yang sama tahun lalu, demikian dilaporkan Reuters yang mengutip data pelacakan kapal tanker.

Mengingat minyak dan produk minyak bumi mencakup lebih dari tiga perempat ekspor Arab Saudi, gangguan berkepanjangan terhadap pelayaran di Laut Merah dapat mengancam jalur ekspor alternatif yang krusial.

Pengaktifan koalisi ini juga terjadi di tengah laporan bahwa Riyadh sedang bersiap menghadapi potensi konfrontasi yang lebih luas dengan kelompok Houthi.

 

(luc/luc)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *