
Jakarta, CNBC Indonesia – Pasar kripto kembali tertekan pada perdagangan Jumat (6/11/2026), seiring aksi jual besar-besaran di bursa saham Amerika Serikat (AS). Pemulihan sehari sebelumnya belum bertahan ketika investor kembali mengurangi kepemilikan aset berisiko.
Bitcoin turun 5,54% dalam 24 jam terakhir menjadi US$76.188,62. Ethereum terkoreksi 7,72% ke US$2.242,37, sementara Hyperliquid mencatat penurunan terdalam dalam kelompok berikut, yakni 8,39%.
Pelemahan terjadi setelah Wall Street ditutup merosot pada Kamis waktu AS. Nasdaq Composite anjlok 5,52%, S&P 500 turun 4,36%, dan Dow Jones melemah 3,44%.
Wall Street Tertekan Kekhawatiran Bisnis AI
Pemicu utama aksi jual saham AS adalah kekhawatiran terhadap kelanjutan pembangunan infrastruktur kecerdasan buatan atau AI. Kemenangan Demokrat dalam pemilu sela meningkatkan ekspektasi pengawasan terhadap pusat data, kebutuhan listrik, dan dampaknya terhadap biaya masyarakat.
Dari sisi seorang investor, pembangunan yang lebih lambat dapat mengurangi pertumbuhan permintaan cip, peralatan, dan layanan pendukung AI. Kekhawatiran tersebut menghantam perusahaan yang sebelumnya menikmati ekspektasi pertumbuhan tinggi. Nvidia turun sekitar 9,3%, sedangkan AMD anjlok 17,3%.
Ini melengkapi pembacaan positif sehari sebelumnya. Pembagian kekuasaan dapat meningkatkan kontrol anggaran, tetapi juga menimbulkan ketidakpastian bagi industri yang mengandalkan ekspansi investasi dan dukungan kebijakan.
Pasar kemudian menilai ulang seberapa besar laba perusahaan dapat membenarkan valuasinya. Ketika saham teknologi berkapitalisasi besar terjual, tekanan menjalar ke indeks dan selera risiko secara keseluruhan.
Ada Korelasi Bitcoin dengan Saham AS?
Menurut penelitian dari IMF Bitcoin memiliki hubungan dengan pasar saham AS, tetapi kekuatannya berubah dari waktu ke waktu. Penelitian tersebut menunjukkan keterkaitan kripto dan saham cenderung meningkat ketika pasar mengalami tekanan dan investor serentak mengurangi risiko.
Hubungan tersebut bukan karena bisnis Bitcoin bergantung pada pendapatan perusahaan teknologi. Penghubung utamanya adalah investor, likuiditas, dan sentimen yang sama.
Sebagian investor memegang saham sekaligus kripto dalam portofolionya. Ketika prospek memburuk, mereka dapat mengurangi keduanya untuk mempertahankan kas atau menurunkan volatilitas. Bitcoin pun ikut dijual meskipun tidak ada gangguan baru pada jaringannya.
Kerugian di satu pasar juga dapat meningkatkan kebutuhan dana di pasar lain. Investor yang harus memenuhi kewajiban margin atau menyeimbangkan portofolio dapat menjual aset yang likuid, termasuk Bitcoin. Ini merupakan salah satu jalur penularan tekanan, bukan bukti bahwa seluruh penjualan berasal dari kebutuhan tersebut.
Namun, kesamaan arah sehari tidak cukup untuk menetapkan angka korelasi tertentu. Penurunan Nasdaq 5,52% dan Bitcoin 5,54% juga memakai periode pengukuran berbeda. Bitcoin tidak harus selalu turun setiap kali saham AS melemah.
Likuidasi dan Binance Memperbesar Tekanan
Tekanan awal diperbesar oleh pasar derivatif. Laporan pada sesi perdagangan 5 November mencatat likuidasi kripto sekitar US$1,03 miliar dalam 24 jam.
Ketika harga turun, posisi beli dengan leverage dapat ditutup paksa karena jaminannya tidak mencukupi. Penutupan tersebut menambah tekanan jual dan dapat memicu likuidasi berikutnya. Mekanisme berantai ini membuat penurunan berlangsung cepat tanpa harus didahului insiden baru.
Peretasan Binance pada 29 Oktober tetap membebani kepercayaan. Namun, belum cukup dasar untuk menyebutnya sebagai penyebab tunggal penurunan terbaru, mengingat tekanan juga terjadi di pasar saham global.
Permintaan institusi pun sebelumnya melemah. ETF Bitcoin spot AS mencatat arus keluar sekitar US$1,16 miliar sepanjang 30 Oktober hingga 3 November, sehingga pasar menghadapi gelombang jual terbaru dalam kondisi yang belum sepenuhnya pulih.
Risiko Data Center Juga Bersinggungan dengan Mining Bitcoin
Selain melalui sentimen pasar keuangan, kekhawatiran terhadap data center memiliki hubungan operasional dengan penambangan Bitcoin. Mining skala besar menggunakan fasilitas berisi ribuan mesin khusus yang membutuhkan pasokan listrik besar dan sistem pendingin.
Karakteristiknya bersinggungan dengan data center AI: kebutuhan energi tinggi, beban terhadap jaringan listrik, serta potensi kebisingan dari kipas dan peralatan pendingin. Konsumsi listriknya juga dapat menambah emisi dan polusi apabila ditopang pembangkit berbahan bakar fosil. Besarnya dampak lingkungan bergantung pada sumber energi, teknologi, dan lokasi fasilitas.
Kesamaan tersebut membuat fasilitas mining berpotensi menghadapi tekanan regulasi serupa, seperti persyaratan perizinan lebih ketat, pembatasan kebisingan, kapasitas listrik, atau pembangunan fasilitas baru. Namun, kebijakan yang secara khusus menyasar pusat data AI belum tentu otomatis berlaku terhadap mining Bitcoin.
Apabila pembatasan diperluas hingga mencakup penambangan, ekspansi kapasitas dapat melambat dan biaya operasional meningkat. Sebagian operator mungkin harus mengurangi jam operasi, mematikan mesin yang tidak lagi menguntungkan, atau memindahkan fasilitas. Jika terjadi dalam skala besar dan belum diimbangi penambang lain, kondisi tersebut dapat menurunkan hashrate, yakni total daya komputasi jaringan.
Risiko ini memberikan jalur tambahan bagi tekanan terhadap bisnis penambangan, di luar korelasi Bitcoin dengan saham AS. Namun, belum ada dasar untuk menyatakan penurunan harga terbaru disebabkan oleh pembatasan mining yang sudah diterapkan.
Penurunan hashrate juga tidak otomatis membuat harga Bitcoin jatuh. Jaringan memiliki mekanisme penyesuaian tingkat kesulitan setiap 2.016 blok untuk mengarahkan waktu pembentukan blok kembali mendekati rata-rata sepuluh menit. Karena itu, pembatasan di satu wilayah dapat mengubah lokasi dan keuntungan penambang tanpa menghentikan jaringan secara keseluruhan.
Outlook: Potensi Naik Tetap Terbuka Setelah Pengujian Support
Dalam outlook sebelumnya, Bitcoin kembali berada di rentang US$70.000-US$78.000 yang menjadi sasaran koreksi dari area US$85.000-US$88.000. Penurunan menuju US$76.000 mempertahankan relevansi area tersebut sebagai area pengamatan untuk akumulasi spot.
Ekspektasi utamanya tetap membuka peluang pemulihan setelah tekanan jual mereda. Penurunan bersamaan dengan Wall Street mengindikasikan faktor pengurangan risiko global berperan besar, sehingga stabilisasi saham AS dapat membantu Bitcoin membentuk pijakan kembali.
Kemenangan Demokrat juga masih membuka harapan keseimbangan kebijakan dan pengawasan anggaran yang lebih kuat. Namun, dampak positif tersebut membutuhkan waktu dan harus berjalan berdampingan dengan penyesuaian pasar terhadap risiko regulasi AI.
Untuk support area level US$75.000-US$76.000 harus dipertahankan karena jika tidak, maka Bitcoin akan berpotensi slide turun ke level US$70.000 dan bisa menjadi area krusial dalam melanjutkan bull market pada cycle kali ini.
–
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)
Leave a comment