
Jakarta, CNBC Indonesia – Kuba tengah menghadapi krisis energi akut akibat kelangkaan bahan bakar, sementara ketergantungan negara itu pada China semakin besar untuk menjaga pasokan listrik melalui pengembangan energi surya.
Di tengah pemadaman listrik yang nyaris terjadi setiap hari, panel surya asal China mulai bermunculan di berbagai wilayah Kuba. Sedikitnya 41 pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) skala menengah dan 18 PLTS skala kecil telah dibangun dalam dua tahun terakhir, menurut data RenewAtlas.
Ekonom Kuba di American University, Ricardo Torres Pérez, mengatakan krisis energi tersebut antara lain dipicu anjloknya impor minyak mentah Kuba dari Venezuela.
“Tanpa adanya pembangkit listrik tenaga surya, pemadaman listrik akan jauh lebih parah,” ujar Torres, seperti dikutip Wall Street Journal (WSJ), Minggu (9/8/2026).
Tambahan PLTS tersebut diperkirakan mampu menghasilkan sekitar 1.000 megawatt (MW) saat beroperasi pada kapasitas puncak. Angka ini hampir lima kali lipat dari kapasitas tenaga surya yang sebelumnya terpasang dan setara hampir sepertiga kebutuhan listrik puncak Kuba yang mencapai sekitar 3.200 MW.
China menjadi pemasok utama di balik lonjakan pembangunan energi surya tersebut. Data bea cukai menunjukkan China mengirim peralatan tenaga surya senilai US$117 juta (sekitar Rp2,11 triliun) ke Kuba pada 2025, melonjak tajam dari hanya US$3 juta (sekitar Rp54 miliar) pada 2023.
Perdana Menteri Kuba Manuel Marrero Cruz mengatakan sejumlah proyek tersebut dibiayai menggunakan pendapatan dari sektor nikel. Rencana ekonomi Kuba untuk 2026 juga mencatat adanya sumbangan panel surya berkapasitas 320 MW dari China, sementara Vietnam dan Jepang turut memberikan peralatan dalam jumlah lebih kecil.
Dukungan energi tersebut sekaligus memperkuat hubungan China dengan Kuba dan kawasan Karibia. Peneliti energi Kuba di University of Texas, Jorge Piñón, mengatakan bantuan Beijing memberikan keuntungan citra bagi China.
“China mendapatkan banyak nilai tambah dalam hal citra positif di seluruh kawasan berkat langkah-langkah yang mereka ambil terkait Kuba,” ujarnya.
Namun, masuknya bantuan dan peralatan dari China belum mampu mengakhiri krisis listrik. Jaringan listrik Kuba yang sudah tua, pembangkit berbahan bakar fosil yang terus menurun kinerjanya, serta minimnya kapasitas baterai membuat negara itu hanya dapat memanfaatkan sebagian kapasitas tenaga surya yang telah terpasang.
(fsd/fsd)
Leave a comment