Home Finance Belum Bisa Merangkak, Bayi-bayi Korea Selatan Sudah Punya Saham
Finance

Belum Bisa Merangkak, Bayi-bayi Korea Selatan Sudah Punya Saham

Share
Belum Bisa Merangkak, Bayi-bayi Korea Selatan Sudah Punya Saham
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Belum genap berusia satu tahun, ribuan bayi di Korea Selatan (Korsel) ternyata sudah memiliki rekening investasi. Fenomena ini muncul seiring semakin banyak orang tua yang mulai menyiapkan tabungan jangka panjang untuk anak melalui pasar saham sejak mereka lahir.

Data Mirae Asset Securities menunjukkan, jumlah rekening efek milik anak berusia di bawah satu tahun hampir tiga kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya. Per Juni 2026, jumlahnya mencapai sekitar 15.000 rekening.

Lonjakan juga terjadi pada kelompok anak berusia 0 hingga 9 tahun. Pembukaan rekening baru pada kelompok usia tersebut melonjak hampir 60% menjadi sekitar 185.000 rekening, tidak termasuk rekening ganda.

Reli pasar saham Korsel yang ditopang optimisme terhadap kecerdasan buatan (AI) ikut mendorong minat para orang tua untuk berinvestasi. Fenomena tersebut sekaligus memunculkan tren baru dalam perencanaan kekayaan lintas generasi.

Meski demikian, volatilitas pasar saham domestik membuat sebagian orang tua tidak hanya menempatkan uang anak mereka di saham Korsel, tetapi juga mencari peluang investasi di luar negeri. Seorang perawat bernama Lee Hye-won mengatakan, dirinya dan sang suami menilai investasi jangka panjang sebagai pilihan yang lebih baik dibandingkan hanya menyimpan uang anak dalam tabungan atau deposito.

“Kami merasa bahwa dalam mengelola rekening anak, lamanya waktu berinvestasi lebih penting dibandingkan jumlah investasinya. Jadi kami membuka rekening untuk anak pertama ketika berusia empat tahun dan untuk anak kedua tepat setelah lahir,” kata Lee, dikutip dari CNBC International, Senin (10/8/2026).

Keluarga tersebut menginvestasikan sekitar 300.000 hingga 400.000 won atau sekitar Rp3,5 juta hingga Rp4,7 juta setiap bulan ke exchange-traded fund (ETF) Amerika Serikat (AS), terutama produk yang mengikuti indeks S&P 500. Strategi serupa dilakukan pekerja kantoran Lee Jun-hyeok. Ia membuka rekening investasi untuk anaknya segera setelah lahir agar sang anak memperoleh keuntungan dari jangka waktu investasi yang panjang dan efek bunga berbunga atau compounding.

“Saya ingin memberikan anak saya hadiah berupa waktu dan kekuatan compounding selama bertahun-tahun. Itulah mengapa saya membuka rekening tersebut tepat setelah dia lahir,” ujarnya.

Lee juga secara rutin menanamkan dana dalam jumlah kecil pada sektor semikonduktor Korsel serta saham-saham AS yang berkaitan dengan physical AI karena dinilai memiliki potensi pertumbuhan tinggi.

Warga Korsel Mulai Beralih dari Properti?

Profesor ekonomi DePaul University Jae-joon Woo menilai tren orang tua membuka rekening investasi untuk anak kemungkinan akan terus berlanjut meskipun volatilitas pasar meningkat. Menurut Woo, fenomena tersebut akan bertahan selama investasi saham, baik di Korsel maupun pasar luar negeri, tetap dipandang sebagai instrumen yang dapat diandalkan untuk membangun kekayaan dalam jangka panjang.

“Ini dapat menunjukkan pergeseran bertahap tetapi signifikan dari preferensi tradisional terhadap real estat, yang selama ini menjadi bentuk kekayaan rumah tangga dominan di Korea,” kata Woo.

Berdasarkan survei Ministry of Data and Statistics Korsel, sekitar tiga perempat kekayaan rumah tangga negara tersebut berada dalam bentuk aset fisik, terutama properti. Sisanya ditempatkan pada aset finansial. Pajak properti juga menjadi salah satu faktor yang membuat pasar saham semakin menarik.

Ekonom senior Nomura untuk Korsel Jeong-woo Park mengatakan, pajak keuntungan modal atau capital gains atas properti relatif tinggi, khususnya untuk properti yang dimiliki dalam waktu singkat atau kepemilikan lebih dari satu rumah.

Menurut National Tax Service Korsel, keuntungan modal dari properti yang dimiliki selama dua tahun atau lebih dikenakan tarif pajak progresif sebesar 6% hingga 45%. Sementara untuk properti yang dimiliki kurang dari dua tahun, tarifnya dapat melonjak menjadi 40% hingga 70%.

Sebaliknya, sebagian besar investor ritel tidak dikenai pajak keuntungan modal ketika menjual saham yang tercatat di bursa Korsel, kecuali mereka tergolong sebagai pemegang saham utama.

Ada Keuntungan Pajak untuk Anak

Faktor pajak hadiah juga ikut mendorong orang tua berinvestasi atas nama anak. Di Korsel, pemberian dari orang tua kepada anak di bawah umur hingga 20 juta won dapat dibebaskan dari pajak dalam satu periode 10 tahun.

Kesempatan tersebut kemudian dimanfaatkan sebagian orang tua dengan memberikan dana kepada anak dan menginvestasikannya di pasar saham. Seorang orang tua dengan nama akun “leecoach_mom” mengatakan persoalan pajak bahkan menjadi perhatian awal keluarganya sebelum menentukan saham yang akan dibeli.

“Awalnya, kekhawatiran terbesar kami bukan saham apa yang akan dibeli melalui rekening anak, tetapi bagaimana menangani pajak hadiah. Kami mencari sendiri informasi terkait dan berkonsultasi dengan akuntan pajak,” ujarnya.

Namun, Woo menilai bagi mayoritas keluarga berpenghasilan menengah, alasan utama berinvestasi untuk anak bukanlah mengurangi pajak. Investasi lebih banyak ditujukan untuk menyiapkan biaya pendidikan dan keamanan finansial anak di masa depan.

Broker Sampai Mau Kasih Saham untuk Bayi

Potensi pasar investor cilik ini juga mulai dilirik perusahaan sekuritas Korsel. Kakaopay Securities pada bulan lalu mengumumkan rencana memberikan saham senilai 100.000 won kepada setiap bayi yang lahir pada tahun depan sebagai bagian dari upaya memperluas basis nasabah.

Pemerintah Korsel juga membuat akses menuju pasar modal semakin mudah bagi anak-anak. Pada 2023, otoritas keuangan merevisi pedoman sehingga orang tua atau wali dapat membuka rekening investasi anak secara online melalui ponsel tanpa harus mendatangi kantor cabang.

“Mengizinkan orang tua membuka rekening secara jarak jauh telah menghilangkan hambatan praktis yang cukup signifikan,” kata Park.

Menurutnya, penyederhanaan prosedur lebih lanjut kemungkinan dapat meningkatkan jumlah rekening milik anak di bawah umur, terutama pada keluarga yang melakukan investasi rutin dalam nominal kecil.

Namun, kemudahan tersebut diperkirakan lebih berpengaruh terhadap jumlah orang yang berpartisipasi dibandingkan total dana yang diinvestasikan. Besarnya investasi tetap akan sangat bergantung pada kekayaan rumah tangga, kondisi pasar, serta pertimbangan perpajakan.

 

(hsy/hsy)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *