Home Finance Benarkah Gen Z Generasi Paling Sehat? Dokter Ungkap Fakta Sebenarnya
Finance

Benarkah Gen Z Generasi Paling Sehat? Dokter Ungkap Fakta Sebenarnya

Share
Benarkah Gen Z Generasi Paling Sehat? Dokter Ungkap Fakta Sebenarnya
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Generasi Z (Gen Z) kerap dijuluki sebagai generasi paling sehat. Citra ini muncul karena mereka dinilai lebih aktif berolahraga, lebih terbuka membahas kesehatan mental, hingga lebih sadar pentingnya pola hidup sehat melalui berbagai konten di media sosial.

Namun, apakah anggapan tersebut benar?

Dokter spesialis kedokteran keluarga dari Henry Ford Health, Dr. Nour Alkhoudr, mengatakan jawabannya tidak sesederhana itu. Ia bilang, Gen Z memang memiliki sejumlah kebiasaan yang lebih baik dibanding generasi sebelumnya, tetapi masih menghadapi berbagai tantangan kesehatan.

“Meski Gen Z melakukan beberapa hal dengan benar, masih ada banyak ruang untuk perbaikan,” ujar Alkhoudr, dikutip dari Henry Ford Health,, Jumat (24/7/2026).

Berikut sejumlah temuan mengenai kondisi kesehatan Gen Z dibanding generasi sebelumnya.

1. Lebih Jarang Merokok dan Minum Alkohol

Gen Z yang lahir antara 1997 hingga 2012 memiliki tingkat merokok yang lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Mereka juga lebih jarang mengonsumsi alkohol.

Tren tersebut bahkan terlihat jika dibandingkan saat generasi milenial maupun Gen X masih berusia muda. Dua dekade lalu, kelompok usia 18-35 tahun merupakan konsumen alkohol terbesar. Kini, tingkat konsumsi alkohol tertinggi justru berada pada kelompok usia 35-54 tahun.

Meski demikian, Alkhoudr mengingatkan, penggunaan rokok elektronik (vape) masih menjadi masalah. Ia menilain, banyak anak muda menganggap vape lebih aman dibanding rokok tembakau maupun ganja. Padahal, anggapan tersebut keliru karena vape tetap dapat merusak paru-paru.

Selain itu, penggunaan ganja juga cukup umum di kalangan remaja dan dewasa muda, terutama setelah dilegalkan di sejumlah negara bagian Amerika Serikat. Padahal, penggunaan ganja saat masa remaja dapat mempengaruhi perkembangan otak, meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental, hingga memicu kecanduan.

2. Lebih Aktif Berolahraga, tetapi Terlalu Lama Menatap Layar

Sejumlah penelitian menunjukkan Gen Z lebih sering pergi ke pusat kebugaran dan rutin berolahraga dibanding generasi sebelumnya. Aktivitas fisik tersebut membawa berbagai manfaat bagi kesehatan fisik maupun mental.

Namun di sisi lain, Gen Z juga dikenal sebagai generasi digital yang menghabiskan banyak waktu di depan layar gawai sejak kecil. Gaya hidup yang terlalu banyak duduk atau kurang bergerak meningkatkan risiko obesitas, penyakit jantung, tekanan darah tinggi, depresi, hingga beberapa jenis kanker.

3. Lebih Peduli Pola Makan, Tapi Obesitas Masih Mengintai

Alkhoudr mengatakan, banyak pasien muda kini lebih sadar gizi, lebih sering mengonsumsi makanan berbasis nabati (plant-based), dan mengikuti informasi nutrisi melalui media sosial.

Angka obesitas pada kelompok usia 18-24 tahun juga lebih rendah dibanding kelompok usia yang lebih tua. Data tahun 2023 menunjukkan hampir 20% orang berusia 18-24 tahun mengalami obesitas, sedangkan pada kelompok usia 45-54 tahun angkanya mendekati 40%.

Meski demikian, kondisi tersebut belum bisa dianggap ideal. Artinya, sekitar satu dari lima anak muda tetap mengalami obesitas, sementara konsumsi makanan ultra-proses masih menjadi masalah di semua kelompok usia.

4. Kurang Tidur dan Kebanyakan Kafein

Tidur menjadi salah satu aspek kesehatan yang paling sering diabaikan Gen Z. Para ahli merekomendasikan orang dewasa tidur minimal tujuh jam per malam, sedangkan remaja membutuhkan waktu tidur delapan hingga 10 jam.

Namun, menurut Alkhoudr, banyak pasien mudanya mengaku hanya tidur sekitar empat hingga lima jam setiap malam. Kondisi tersebut diperparah dengan tingginya konsumsi minuman berenergi dan suplemen berkafein.

Para ahli menyarankan konsumsi kafein tidak melebihi 300-400 miligram per hari, tetapi banyak anak muda mengkonsumsinya jauh di atas batas tersebut tanpa disadari.

5. Lebih Terbuka Soal Kesehatan Mental

Di sisi lain, Gen Z tumbuh pada masa ketika masalah kesehatan mental meningkat tajam. Survei menunjukkan hampir dua pertiga anggota Gen Z pernah mengalami gangguan kesehatan mental, lebih tinggi dibanding generasi lainnya.

Data Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat pada 2023 juga menunjukkan 40% siswa SMA di AS mengalami perasaan sedih atau putus asa yang berlangsung terus-menerus. Alkhoudr menilai, pandemi COVID-19 menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kasus depresi dan kecemasan, terutama pada remaja dan dewasa muda.

Meski begitu, ada perkembangan positif. Stigma terhadap kesehatan mental terus menurun sehingga Gen Z lebih nyaman membicarakan kondisi psikologisnya dan lebih bersedia mencari bantuan profesional dibanding generasi sebelumnya.

Jadi, Apakah Gen Z Generasi Paling Sehat?

Alkhoudr bilang, tidak ada generasi yang benar-benar layak menyandang predikat sebagai generasi paling sehat. Meski menghadapi tantangan seperti kurang tidur, tingginya penggunaan vape, hingga meningkatnya masalah kesehatan mental, Gen Z juga memiliki banyak keunggulan.

Mereka dinilai lebih kreatif, terbuka terhadap isu kesehatan, serta memanfaatkan teknologi untuk mendukung gaya hidup sehat, mulai dari mencari informasi nutrisi, mengikuti kelas olahraga secara daring, melacak konsumsi kafein, hingga berkonsultasi dengan psikolog secara digital.

“Orang di usia berapa pun tetap bisa memperbaiki kebiasaan sehatnya,” kata Alkhoudr.

(hsy/hsy)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *