
Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com
Ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi, perhatian terbesar publik biasanya tertuju pada luas lahan yang terbakar, jumlah titik panas, asap, emisi karbon, hingga kerugian ekonomi. Namun, ada satu pertanyaan yang jarang dibahas: berapa nilai biodiversitas dan DNA sustainability yang ikut terbakar?
Pertanyaan ini penting bagi Indonesia. Sebagai salah satu negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati yang tinggi, hutan Indonesia menyimpan jauh lebih banyak daripada sekadar pohon dan karbon.
Hutan menyimpan habitat, flora, fauna, sumber daya genetik, air, tanah, pangan, obat-obatan, serta berbagai jasa ekosistem. Bagi masyarakat adat dan komunitas yang hidup langsung dengan hutan, hutan juga merupakan ruang hidup, sumber penghidupan, identitas budaya, dan dalam konteks tertentu memiliki nilai yang teramat penting sebagai kearifan lokal berupa DNA sustainability. Karena itu, ketika hutan terbakar, yang hilang bukan sekadar tutupan vegetasi. Yang ikut terbakar adalah natural capital dan sebagian warisan kehidupan Indonesia.
Jangan Hanya Hitung Luas yang Terbakar
Selama ini luas kawasan terbakar menjadi salah satu indikator utama untuk menggambarkan dampak kebakaran. Padahal, dua kawasan yang sama-sama terbakar 1.000 hektare belum tentu memiliki nilai ekologis yang sama. Kawasan pertama mungkin memiliki biodiversitas relatif rendah. Sementara kawasan kedua bisa menjadi habitat spesies endemik, kawasan penting bagi satwa, koridor ekologis, kawasan gambut, sumber air, sekaligus ruang hidup masyarakat lokal.
Secara angka, sama-sama 1.000 hektare, Tetapi nilai yang hilang bisa sangat berbeda. Karena itu, kita perlu mengubah pertanyaan dari: “Berapa hektare hutan yang terbakar?” menjadi: “Apa saja yang berada di dalam kawasan tersebut dan berapa nilai yang hilang ketika ekosistem itu terbakar?”
Inilah pentingnya memasukkan biodiversity value, natural capital value dan kearifan lokan dalam perhitungan dampak kebakaran. Yang terbakar bukan cuma pohon, kebakaran hutan dapat menyebabkan hilangnya beberapa lapisan nilai sekaligus.
Pertama, species value. Flora dan fauna dapat mati atau kehilangan habitat dan sumber makanan. Kedua, habitat value. Kerusakan habitat dapat mengganggu reproduksi, rantai makanan, hingga pergerakan satwa. Ketiga, genetic value. Setiap spesies membawa sumber daya genetik yang mungkin memiliki manfaat bagi pangan, obat-obatan, teknologi, dan ilmu pengetahuan di masa depan.
Keempat, ecosystem service value. Hutan mengatur tata air, melindungi tanah, menyimpan karbon, mendukung penyerbukan, serta menjalankan berbagai fungsi ekologis. Kelima, social and cultural value dikenal dengan wisdom local sebagai DNA sustainability Indonesia yang selama ini relatif sulit dimasukkan dalam perhitungan ekonomi. Artinya, harga kayu yang terbakar bukanlah nilai sebenarnya dari sebuah hutan. Hutan adalah natural capital.
Api Padam, Dampaknya Belum Selesai
Kesalahan lain adalah menganggap persoalan selesai ketika api berhasil dipadamkan. Padahal, kebakaran dapat menimbulkan efek berantai dalam ekosistem. Vegetasi berkurang. Serangga kehilangan habitat. Burung kehilangan sumber makanan. Mamalia kehilangan ruang hidup. Predator kehilangan mangsa. Rantai makanan terganggu.
Hutan mungkin kembali terlihat hijau beberapa tahun kemudian, tetapi belum tentu kembali memiliki struktur dan fungsi ekologis seperti sebelum kebakaran. Karena itu, api yang padam tidak selalu berarti ekosistem sudah pulih.
Waktu pemulihan setiap ekosistem berbeda. Dalam kondisi tertentu, sebagian biodiversitas dan fungsi ekologis bahkan membutuhkan waktu sangat panjang untuk kembali atau tidak sepenuhnya kembali seperti kondisi awal. Dengan kata lain, kebakaran bukan hanya fire event, tetapi natural capital loss event.
Jangan Reduksi Hutan Menjadi Sekedar Nilai Karbon
Karbon saat ini menjadi salah satu perhatian utama dalam perlindungan hutan. Hal itu sangat penting karena hutan menyimpan karbon dan kebakaran dapat melepaskannya ke atmosfer. Namun, ada risiko jika kita melihat hutan hanya sebagai carbon stock.
Hutan adalah: Carbon + Biodiversity + Water + Soil + Ecosystem Services + Social–Cultural Value.
Karbon hanya salah satu komponen natural capital. Jika perhatian kita hanya pada karbon, kita bisa lupa bahwa di dalam hutan terdapat spesies, habitat, sumber air, pengetahuan, dan hubungan ekologis yang juga mempunyai nilai. Karena itu, Indonesia perlu bergerak dari sekadar carbon management menuju natural capital management.
Indonesia Perlu Biodiversity Data Bank
Persoalan berikutnya adalah data. Indonesia membutuhkan Indonesia Biodiversity Data Bank, sebuah sistem data biodiversitas yang terintegrasi dan terus diperbarui. Data tersebut idealnya tidak hanya mencatat nama spesies, tetapi juga habitat, spesies endemik dan terancam, sumber daya genetik, koridor ekologis, carbon stock, ecosystem services, riwayat kebakaran, perubahan tutupan lahan, kondisi populasi, kawasan sensitif, serta data restorasi.
Mengapa data ini penting? Tanpa baseline, setelah kebakaran kita hanya dapat mengatakan: “1.000 hektare hutan terbakar.”
Dengan data biodiversitas, kita dapat mengetahui spesies apa yang terdampak, habitat apa yang hilang, fungsi ekologis apa yang terganggu, berapa carbon stock yang terdampak, dan bagaimana proses pemulihannya. Indonesia tidak cukup hanya memiliki peta tutupan hutan. Kita membutuhkan peta nilai biodiversitas dan natural capital Indonesia.
Hutan adalah Living Library
Ada satu kekayaan yang sering luput dalam pembahasan biodiversitas, yakni pengetahuan masyarakat yang hidup bersama hutan. Masyarakat adat dan komunitas lokal di berbagai wilayah memiliki pengetahuan mengenai tanaman obat, sumber air, musim, perilaku satwa, pemanfaatan hasil hutan, serta kawasan yang harus dilindungi. Hutan dalam perspektif ini dapat dilihat sebagai living library.
Di dalamnya tersimpan: species + genes + ecosystems + knowledge + culture + ecological relationships. Ketika hutan terbakar, sebagian dari perpustakaan hidup tersebut dapat ikut hilang.
Pengetahuan masyarakat juga tidak boleh sekadar diperlakukan sebagai data yang dapat diambil. Hak masyarakat, persetujuan, perlindungan pengetahuan sensitif, dan pembagian manfaat harus menjadi prinsip utama. Masyarakat bukan objek konservasi. Masyarakat adalah bagian dari sistem pengetahuan dan solusi konservasi.
Kearifan Lokal adalah DNA Sustainability Indonesia
Sustainability sering dianggap sebagai konsep baru yang lahir dari ESG, Net Zero, circular economy, atau green finance. Padahal, jauh sebelum istilah-istilah tersebut populer, masyarakat Nusantara telah memiliki berbagai aturan dan nilai yang mengatur hubungan manusia dengan alam.
Ada aturan mengenai kawasan yang boleh dimanfaatkan, waktu mengambil hasil hutan, perlindungan sumber air, pemanfaatan tumbuhan, hubungan dengan satwa, hingga kawasan tertentu yang memiliki nilai budaya dan sakral.
Karena itu, Indonesia memiliki modal keberlanjutan yang khas. Biodiversitas adalah natural capital kita dan Kearifan lokal adalah knowledge capital kita. Hutanlah menjadi ruang tempat keduanya bertemu. Inilah yang dapat kita sebut sebagai DNA sustainability Indonesia.
Agenda sustainability Indonesia seharusnya tidak hanya mengadopsi konsep global. Kita juga harus menghidupkan kembali kearifan lokal yang telah lama menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan alam.
Dari Environmental Cost Menjadi Green Investment
Paradigma pengelolaan lingkungan perlu diubah. Investasi untuk pencegahan kebakaran, perlindungan biodiversitas, restorasi ekosistem, monitoring, dan pemberdayaan masyarakat harus dipandang sebagai: Investment in Natural Capital, Investasi tersebut dapat diarahkan pada lima hal:
Prevent – pencegahan kebakaran dan sistem peringatan dini.
Protect – perlindungan habitat dan kawasan dengan biodiversity value tinggi.
Restore – pemulihan ekosistem yang telah terdegradasi.
Empower – penguatan masyarakat sebagai mitra konservasi.
Monitor – pemanfaatan teknologi satelit, sensor, dan biodiversity monitoring.
Dengan pendekatan ini, investasi lingkungan tidak hanya mengurangi kerugian, tetapi juga menciptakan biodiversity gain, carbon recovery, ecosystem recovery, dan community resilience.
Menuju Nature Positive Indonesia
Paradigma pengelolaan lingkungan harus bergerak dari minimize damage, menuju no net loss, dan akhirnya nature positive.
Modelnya dapat digambarkan: Fire Risk → Forest Fire → Biodiversity & Carbon Loss → Natural Capital Depletion → ESG Risk → Green Investment → Prevention, Protection, Restoration → Nature Positive Impact.
Artinya, karhutla tidak harus menjadi titik akhir. Ia dapat menjadi momentum untuk memperbaiki tata kelola landscape, membangun biodiversity intelligence, memperkuat masyarakat penjaga hutan, dan mengarahkan investasi menuju pemulihan natural capital.
Indonesia memiliki dua kekayaan yang harus dipandang sebagai satu kesatuan: biodiversitas dan kearifan lokal. Biodiversitas adalah modal alam. Kearifan lokal adalah modal pengetahuan dan budaya.
Ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pohon, satwa dan karbon. Yang mungkin ikut terbakar adalah sebagian dari pengetahuan, identitas, budaya, dan DNA sustainability Indonesia.
Karena itu, menjaga hutan bukan hanya menyelamatkan alam. Kita sedang menjaga modal kehidupan, pengetahuan, budaya, dan masa depan Indonesia.
Protect. Prevent. Restore. Empower. Value. Invest. Menuju Nature Positive Indonesia. Salam Satu Bumi untuk Semua Generasi!
(miq/miq)
Leave a comment