Home Finance BNPB Ungkap Lokasi Ini Paling Tinggi Sebaran Polutan Efek Karhutla
Finance

BNPB Ungkap Lokasi Ini Paling Tinggi Sebaran Polutan Efek Karhutla

Share
BNPB Ungkap Lokasi Ini Paling Tinggi Sebaran Polutan Efek Karhutla
Share




Jakarta, CNBC Indonesia – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Kondisi ini turut memicu penyebaran polutan yang berpotensi meluas hingga ke negara tetangga.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton Panjaitan mengatakan, berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), konsentrasi polutan akibat karhutla masih cukup tinggi pada 15-16 September 2026.

“Per hari ini kita lihat, sebaran polutan ada paling pekat itu ada di Kalimantan Barat maupun Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan,” kata Berton dalam konferensi pers BNPB, Selasa (15/9/2026).

Menurut dia, kondisi tersebut belum menunjukkan tanda mereda sepenuhnya. Bahkan, pada Rabu (16/9/2026), sejumlah wilayah diprediksi mengalami penebalan polutan.

“Beberapa titik (polutan lain) sebenarnya ada di Sumatra Selatan maupun Sumatra bagian utara, Papua bagian kepala burung maupun di bagian Merauke. Untuk besok hari juga terlihat sebenarnya lebih pekat di beberapa titik, baik itu di Kalimantan Timur dan di bagian Merauke, kita lihat bahwa ada penebalan titik-titik asap ya di beberapa titik,” ujarnya.

Berton mengatakan, arah angin juga menjadi faktor yang perlu diwaspadai. Pergerakan angin berpotensi membawa emisi hasil kebakaran menuju wilayah utara dan barat laut Indonesia.

“Arus angin konsisten membawa emisi ke utara dan barat laut, mempertahankan ancaman transboundary haze di negara tetangga, yakni Malaysia, Singapura, dan Brunei,” papar dia.

Ancaman penyebaran asap lintas batas tersebut terjadi di tengah masih tingginya aktivitas karhutla di Kalimantan. Kalimantan Barat menjadi salah satu wilayah dengan luasan lahan terbakar terbesar.

BNPB mencatat total lahan terbakar di Kalimantan Barat mencapai sekitar 48.535,73 hektare hingga 14 September 2026. Angka tersebut merupakan gabungan data SiPongi hingga 31 Juli 2026 sebesar 38.310,86 hektare dan hasil pengukuran BNPB di lapangan pada 1 Agustus-14 September 2026 sebesar 10.224,87 hektare.

Pada 14 September 2026 saja, BNPB menemukan 19 fire spot dengan estimasi luasan terbakar mencapai 261,5 hektare. Sebanyak 180,8 hektare telah dipadamkan, sementara sekitar 80,7 hektare masih harus ditangani.

Kondisi kualitas udara di sejumlah wilayah Kalimantan juga menunjukkan dampak dari sebaran polutan tersebut.

Berton menyebut data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup pada Selasa (15/9/2026) pukul 10.00 WIB, sejumlah wilayah di Kalimantan tercatat memiliki kualitas udara pada kategori tidak sehat hingga berbahaya.

Bahkan, Kabupaten Murung Raya tercatat memiliki ISPU 902, Barito Selatan 913, Kapuas 777, hingga Pontianak Tenggara 661. Ia pun meminta masyarakat, khususnya yang berada di wilayah terdampak karhutla, meningkatkan kewaspadaan terhadap kualitas udara.

“Sehingga ini dihimbau untuk menjadi waspada ataupun bijaksana dalam mengantisipasi adanya polutan yang tersebar di udara,” ucap Berton.

Ia juga mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk menggunakan masker, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan.

“Masyarakat di wilayah terdampak karhutla untuk menggunakan masker terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan,” katanya.

Selain Kalimantan Barat, karhutla masih terjadi di Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sumatra Selatan, Jambi, dan Riau.

BNPB mencatat total lahan terbakar mencapai sekitar 19.851,65 hektare di Riau, 19.303,99 hektare di Kalimantan Selatan, 15.976,1 hektare di Kalimantan Tengah, 6.552,31 hektare di Sumatra Selatan, 5.761,57 hektare di Kalimantan Timur, serta 2.998,02 hektare di Jambi.

Pemerintah saat ini terus melakukan pemadaman dengan mengerahkan Satgas Darat maupun Satgas Udara. BNPB menyebut strategi operasional dilakukan secara massal dan terukur untuk menekan luasan kebakaran sekaligus mengantisipasi dampak asap.

“Pemadaman dilakukan secara massal dan terukur di lapangan. Tentu kami juga mengutamakan Satgas Darat yang didukung secara efektif oleh Satgas Udara untuk hasil yang maksimum,” katanya.

(hoi/hoi)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *